Tanah Cinta Para Pejuang


 Semilir angin ibu kota bertiup dengan lembut di tengah keramaian. Membelai lembut telinga dan kulit-kulit tubuh yang masih belum kering dari sisa air wudhu. Sesekali angin itu berubah menjadi sesuatu yang menjengkelkan, membawa butiran-butiran debu dengan jumlah yang tak karuan.

Satu bulan ini, cuaca Khartoum bak wanita yang sedang PMS, berubah-ubah seketika tanpa ada aba-aba. Kemaren panas menyengat hingga 40 derajat, dan pagi ini menjelma menjadi seperti kopi hangat yang terlanjur didiamkan. Dingin, menyakitkan. Atap Khartoum terlihat menawan dengan langit biru yang menghiasinya, sementara sang awan masih saja enggan menampakkan dirinya, bersembunyi di balik teriknya matahari jam setengah tujuh pagi.  


Kubelah keramaian jalan pagi ini, bersiap menuju kampus yang terletak tak terlalu jauh dari rumah. Yaa.. sekitar 5 menit perjalanan dengan menaiki muwasholat. Ah, aku lupa, kalian tentu belum tau muwasholat. Sejenis moda transportasi umum yang lazim digunakan orang-orang Sudan. Bentuknya menyerupai bis atau kopaja kalau kita ke Jakarta. Ya, agak klasik dengan karat besi yang bisa dengan mudah ditemui hampir di setiap sisi. Entah bagaimana sopir-sopir ini bisa bertahan dengan kerangka-kerangka besi ini yang semakin usang, yang lama-lama mungkin bakal jadi rongsokan. Tapi ada yang lebih mengherankan lagi, ternyata “barang” klasik ini masih menjadi pilihan utama para penggemarnya, yang seakan setia menemaninya kemana saja.


Bagolah salamah salamah,” teriak kumsyari (kenek) menyebut rute jurusannya, memecah kerumunan masa yang lalu lalang di tengah padatnya kesibukan jam setengah delapan pagi. Merayu penumpang kesana kemari agar meminang “barang dagangannya”. Tanganku yang tanpa sadar sudah ditarik dan digenggam erat seperti orang kesurupan terlanjur jadi korbannya.


“Sial, aku terkena rayuannya!”

Salamah?” tanyaku memastikan jurusan muwasholat yang akan kunaiki. Sejujurnya lebih sekedar basa-basi ala mahasiswa negara dengan penduduk yang konon katanya paling ramah sedunia.


ayy…ayy,, arkab ya…! (iya iya, naik aja!)” teriaknya seperti terompet tahun baru yang sangat nyaring. Masih belum puas dengan penumpangnya, dia kembali mencari ke sana-sini, kali ini dengan teknik yang lebih lihai lagi. Sejurus kemudian, pedal gas diinjak, kopling diangkat, mobil perlahan bergerak.

--

Sudan bukanlah negara maju. Kalau mau dibandingkan, ia ibarat Indonesia 30 tahun lalu. Indonesia masa-masa 90-an. Penataan kota yang masih berantakan, jalanan masih banyak yang belum berkulitkan aspal. Tampaknya mereka masih nyaman dengan asal mula penciptaan manusia, berteman dengan tanah agar tak lupa darimana mereka berasal. Ssstt... tapi setidaknya, dengan begitu tak banyak jalanan aspal berlubang. Tidak seperti di Indonesia yang dana aspal jalan terpotong entah kemana, sehingga jadilah tiap tahun kita lihat menjelang lebaran selalu ada perbaikan jalan.


“Yaa naazil, arah arah! (yang mau turun, segera!) teriakan sang kumsyari memecah lamunan. Tanda kalau kami sudah sampai di depan kampus dan harus segera turun. Uang 100 pound menjadi mahar untuk perjalanan kali ini. Ah, kalian tahu, dulu kami cukup membayar 5 pound saja untuk perjalanan seperti ini. Yaa, inflasi yang terjadi benar-benar di luar nalar. Dalam 2 tahun saja, terjadi peningkatan yang sangat tajam. Bak roler coster yang hampir membuat jantung copot. Krisis ekonomi yang menyapa, efek dari kudeta yang masih belum lama, membuat rakyat Sudan menjerit kesulitan karena naiknya harga barang-barang pokok dan sumber kehidupan mereka. “Persetan dengan para penguasa penggila jabatan”, kalimat yang sering diucapkan penjaga baqolahyang dagangannya sering kujajal jika kutanya tentang keadaan Sudan.


Dahulu, harga bensin di sini lebih murah daripada membeli aqua gelas. Saking melimpahnya hasil bumi yang satu itu di sini. Tentu saja kita orang Indonesia menganga dibuatnya. Yang benar saja! BBM yang selalu menjadi penentu naik turunnya harga-harga di Indonesia, di sini kehilangan harga dirinya. Minyak dan bensin seperti tidak berharga. Tapi, itu dulu... Perlahan, hari ini harga bensin di Sudan hampir sama dengan Indonesia. Naik terus.

--

Hari ini, hari terakhir ujian. Turun dari muwasholat di depan kuliah Thib, bersiap menuju ruang ujian. Sisa-sisa pelajaran semalam kurapal lagi sambil berjalan. تاريخ الدعوة في القرآن Kisah nabi-nabi dalam Al-quran, matkul penutup ujian di semester ini. Entah mungkin ini juga semester terakhirku di sini.

Sebuah layar komputer telah menyala di hadapan, bersiap menunggu aba-aba dari pengawas yang belum juga memberikan password ujian. Akhh ntahlah, selalu saja dibuat menunggu lama untuk sebuah angka saja.


Fii zoul ma indahu bitoqoh, arfa’ yadah! (ada yang ga bawa bitoqoh, angkat tangan!)” Kata seorang pengawas yang mondar-mandir dari tadi. Ya, salah satu syarat ujian kami harus membawa KTM ke dalam ruangan. Jika tidak, alamat kena marah pengawas yang buat telinga panas. Syukur-syukur jika tidak disuruh pulang. Sejak beberapa tahun terakhir, ujian di kampus  beralih dari awalnya tulis tangan, menjadi ujian komputer. Entahlah, kami pun tak tau, apakah ini sebuah rahmat atau justru sebaliknya. Tak dipungkiri lagi, sudah jadi rahasia umum sebagian orang meremehkan ujian. Belajar semalam sebelum ujian atau bahkan beberapa jam saja menjelang ujian, karena tinggal klak klik pilih jawaban. Haha, gaya elit usaha sedikit. Tapi tak sedikit pula yang berjibaku dengan modul jauh hari sebelum ujian. Beberapa lagi berinisiatif membuat belajar kelompok hingga bimbel sebagai bentuk ikhtiar terakhir.


Satu-dua, klik klik, ku-scroll layar jawaban, memastikan semua soal sudah terisi dengan benar. Setelah dirasa yakin, dalam hitungan detik semua jawaban sudah terekam di sistem komputer. Akhirnya selesai juga ujian semester ini, alhamdulillah. Saat ikhtiar sudah maksimal dilakukan, doa-doa pun sudah dilangitkan, saatnya membumikan tawakal. Berharap yang terbaik yang akan Allah berikan. فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ. Setelah semua ini, saatnya menatap hal-hal besar yang akan dilakukan ke depan.


“Hidup itu simple tanpa harus memperumitnya dengan ekspektasi sendiri. Jangan sampai ekspektasi membunuh jiwa-jiwa pemimpi yang bersemayam dalam hati. Masa muda masanya mencoba. Kalau gagal, coba lagi. Habiskan jatah gagalmu saat ini. Kecewa atas perjuangan yang gagal di masa muda jauh lebih baik daripada menyesali masa muda karena tidak pernah berani mencoba.” 


Selepas shalat berjamaah, aku pulang ke rumah. Tempat teramah yang selalu bisa menjadi pelipur lelah. Merebahkan diri sejenak setelah penat ujian di mukhtabarat qoah 4. Dengan seabrek rencana yang beberapa hari ini memenuhi otak, di sisa-sisa hari yang berharga ini, “aku akan pulang ke Indonesia”.

****

Cahaya rembulan menelisik melalui sela-sela dedaunan. Menyapu wajah kami yang sedang asik menonton indahnya skenario tuhan dalam penciptaan alam. Temaram bintang ikut menambah syahdunya malam. Empat puluh hari lagi menjelang sya'ban, pertanda sebentar lagi ramadhan akan datang menjelang.


Tahun ini harusnya ramadhan ke-4 ku di Sudan. 3 tahun lebih berlalu sejak pertama kali menginjakkan kaki di bumi yang indah ini. Ahh, bukan, bukan kawan. Bukan indah seperti yang kau bayangkan. Dengan gedung-gedung tinggi pencakar langit, atau taman-taman indah yang menghiasi kota. Transportasi yang canggih, jalanan yang rapi, apalagi dengan kemodernan, kemewahan yang terlintas di balik kalimat "luar negeri",, tidak!


Ini negeri perjuangan. Biladul khair, biladus shobr. Negeri Timteng pertama yang aku injakkan. Yang dikenal dengan negeri 2 nil, negeri 1000 darwis, atau juga negeri 9 matahari. Yang setiap sudut kotanya adalah tempat sujud. Tempat dimana para ulama dan pejuang dilahirkan.


Hai kawan! Sini kubisikkan sesuatu padamu. Tentang keistimewaan Sudan yang tak banyak orang mengetahuinya.Tentang ukhuwah, persaudaraan, tentang cinta, tentang kebersamaan, kepedulian. Sudan indah dengan kesederhanaannya, akhlak masyarakatnya, ketawadhuan ilmu dan kerendahan hati para ulamanya. Yang boleh jadi lebih putih dari mutiara, lebih lembut dari sutera.


Bagi yang benar-benar ingin belajar, ini surga ilmu. Kita bukan hanya belajar dari kertas, buku, atau modul kuliah. Tapi juga dari semua hal yang terlihat di sini. Mereka yang menutup kedai setiap masuk waktu shalat, dan langsung membentuk shaf shalat jamaah. Di tepian jalan, pinggiran toko, di setiap sudut bumi manapun. Mereka dirikan shalat jamaah di sana. Tak perlu takut ketinggalan shalat jamaah saat sedang pergi kemanapun. Di sebagian pertokoan, angkutan umum, yang diputar adalah murottal alquran khas Sudan. Menentramkan hati yang penat setelah aktivitas seharian.


Mungkin benar, di sini tandus dan gersang. Debu dan ghubar adalah sesuatu yang tak terpisahkan jika kau tinggal di sini. Mati listrik, susah sinyal, air dikit makanan sehari-hari. Tapi, itu semua akan jadi cerita yang indah pada waktunya.


Kau tahu kawan, pelaut yang handal tidak terlahir dari ombak yang tenang. Kesatria sejati tidak lahir dari medan tempur yang nyaman.


Semakin sulit keadaan, kondisi, rintangan yang kau rasakan, semakin kau ditempa jadi orang. Semakin lama ia akan terkenang, semakin lama pula ia tak akan terlupakan. Semakin besar pula ia akan kau rindukan.

Kata Imam Syafi’i: “Berlelah lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.”


Inilah tanah perjuanganku. Sebelum nanti kembali untuk mengabdi kepada sang Ibu Pertiwi. Negeri ini, negeri cinta para pejuang. Mungkin sulit untuk dijalankan, tapi juga sangat berat untuk ditinggalkan. Indah untuk dikenang, sulit untuk dilupakan. Sudan, bumi yang akan selalu dirindukan.

 

 

Oleh: Nizam Alfarisy


Mahasiswa Fakultas Al-Qur'an International University of Africa


Sumber gambar: Instagram Jundi Rabbani

Posting Komentar

0 Comments

Formulir Kontak