Kematangan Bernalar dan Filterisasi Informasi yang Masif Menyebar

 


     Era sekarang bisa kita katakan merupakan era media sosial. Banyak informasi bertebaran di mana-mana. Mulai kalangan tua-muda, pejabat-rakyat biasa, akademisi-awam, dan berbagai kalangan lainnya dapat memberi informasi di ruang publik melalui media sosial. Namun mirisnya, meningkatnya kuantitas informasi tidak dibarengi dengan kemampuan filterisasi.

 

   Hasil Programme for International Students Assessment(PISA) tahun 2018, misalnya, menunjukkan bahwa 70%siswa di Indonesia memiliki kemampuan baca rendah (dibawah Level 2 dalam skala PISA). Artinya, merekabahkan tidak mampu sekadar menemukan gagasan utamamaupun informasi penting di dalam suatu teks pendek.

 

    Dalam satu contoh, beberapa minggu lalu, viral berita tentang kasus Lesti Kejora yang menjadi korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Masyarakat pun ikut beropini tentang kasus tersebut, respons dari masifnya media yang memberitakannya, serta mudahnya informasi sampai ke telinga mereka. Namun karena rendahnya kualitas bacaan, masyarakat mudah menjadi korban berita hoaks, bahkan pelaku dari berita hoaks tersebut.

 

    Contoh di atas adalah bukti bahwa literasi warga Indonesia sangatlah buruk. 

Hal ini diperparah dengan angka minat baca di Indonesia yang juga rendah. Pada tahun 2018, sebuah survei dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa persentase penduduk di atas usia 10 tahun yang membaca surat kabar atau majalah hanya 14,92%. Angka ini lebih rendah dari persentase 15 tahun sebelumnya (23,70%).

 

    Kematangan bernalar tentu dapat menjadi solusiKematangan yang merujuk kepada kemampuanmenganalisis, merujuk ke sumber yang valid, serta memahami isi informasi dengan baik, menjadi urgensi yang harus kita miliki saat ini.

 

    Kualitas opini pun dapat dinilai dari kematangan bernalar penulis. Kematangan seseorang dalam beropini tidak dibentuk hanya dari banyaknya informasi yang ia dapat,banyaknya buku yang ia khatamkan, kemudian memprosesnya menjadi sebuah tulisan atau pernyataan. Lebih penting dari itu adalah kualitas bacaan dia. Beberapa orang yang setiap hari banyak membaca artikel, opini, bahkan buku, namun kualitasnya “junk food”, lezat tapi sangat tidak sehat.

 

    Mungkin jumlah itu penting bagi sebagian orang. Namun pastinya itu bukan yang terpenting. Dulu saya suka terkagum-kagum ketika ada teman yang mengkhatamkan banyak buku. Sekarang biasa saja. Karena khatam banyak buku ternyata bukan patokan kematangan intelektual seseorang. Kalau dia membaca dengan metode yang salah dan kualitas bacaannya rendahmaka tidak akan banyak pengaruh.

 

    Akan lebih baik jika seseorang yang hanya membaca satu artikel setiap harinya, namun sudah memenuhi nutrisi 4 sehat 5 sempurna dalam otaknya saking berbobotnya artikel yang dia baca, meski tidak enak rasanya. Setelah menyadari realita seperti itu, saya mulai berhenti dari kebiasaan menarget jumlah bacaan buku.Memang, membaca buku yang banyak dapat memberi wawasan, namun belum tentu dapat mewariskan kematangan bernalar.

 

       Menyimak penjelasan ahli juga faktor penting yang tidak boleh dikesampingkan. Karena dalam pengamatan penulis, masih banyak masyarakat yang ‘tersesat’ karena salah rujukan. Ada persoalan agama yang malah merujuk ke budayawan. Ada persoalan politik tapi malah mendengarkan penjelasan dari para selebriti. Hal ini tentu harus kita hindari. Karena kepada siapa kita merujuk, dari situlah kualitas berpikir kita akan terbentuk. 

 

      Seperti usaha lembaga ElNilein yang merupakan komunitas pegiat literasi di Sudan. Mereka mengadakan pelatihan literasi yang dibutuhkan mahasiswa Indonesia dalam memperkaya wawasan serta mempertajam analisis literasi dengan pelatihan jurnalistik, opini, karya ilmiah, dan sastra. Langkah kreatif yang disesuaikan dengan konteks mahasiswa seperti ini tentu patut dilestarikan untuk mengatasi darurat literasi di Indonesia.

 

     Sebagai penutup, bahwa hal terpenting dalam mematangkan nalar literasi bukan lah dengan banyak membaca, tetapi membaca dengan cara yang benar, yang bisa membangun kematangan bernalar kita. Bacaan yang bisa membangun "malakah", dalam istilah orang Arab. Tulisan ini tentu tidak berlaku kalau kita ingin menjadikan kegiataan membaca hanya sebatas hiburan semata, mengisi betapa seriusnya perlakuan dunia kepada kita.

 

Dunia ini terlalu serius, kamu harus menikmatinya, karena kamu berhak bahagia.



Oleh: Muhammad Najmuddin

Mahasiswa International University of Africa


Sumber ilustrasi: Dokumentasi Tim Media El-Nilein

Posting Komentar

0 Comments

Formulir Kontak