Surga Pilihan

 

Menjadi seorang laki- laki muslim atau biasa disebut seorang ikhwan adalah anugerah yang luar biasa Allah titipkan kepada hamba-Nya, Allah berikan kedudukan tersendiri  untuk mereka, mengapa demikian? Karena dalam agama islam Allah jelaskan dalam firman-Nya melalui lisan Rasullah shallahu alaihi wa salam. 

Dalam surat An-Nisa:24 artinya: "Laki-laki (suami) itu pemimpin bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki- laki) dari sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya".

Ayat diatas mejelaskan  bahwa kata Ar-rajulah dalam bahasa arab atau laki- laki adalah seorang pemimpin, dan tugas pemimpin itu sendiri adalah melindungi, memberikan hak dan kewajbannya, berangung jawab, memberikan contoh akhlak yang baik.

Menjadi seorang ikhwan itu tak semudah yang kita bayangkan, banyak sekali perintah dan larangan dari Allah Azza Wa Jalla yang harus kita kerjakan dan kita hindari. Contoh dalam hal sabar dan syukur, istiqomah di jalan Allah dan masih banyak lagi.

Banyak sekali kisah para nabi, orang-orang shaleh terdahulu yang di mana mereka semua selalu  terdapat  hikmah dalam setiap kehidupannya.

Kita bisa perhatikan bagaimana nabi Nuh 'alaihi salam  menghadapi kaumnya yang menolak dakwahnya selama 950 tahun lamanya ditambah lagi istri dan anaknya yang membangkang.

Kemudian nabi Ibrahim 'alaihi salam yang harus menyembelih anaknya sendiri, sebelumnya ia tinggalkan cukup lama atas perintah Allah.

Semua itu tak mudah bagi mereka untuk menerima ujian yang Allah berikan akan tetapi mereka yakin satu hal bahwa Allah selalu ada untuk kita dan tidak akan pernah mengabaikan kita. Dari situlah terbentuknya karakter seroang pemimpin.

Seorang ikhwan itu yang bisa menjaga kehormatan dirinya, keluarga, agama dan bangsa, kemudian bagaimana jika  sudah berusaha akan tetapi hasilnya tidak sesuai yang kita harapkan? Seorang muslim tahu bahwasanya seorang manusia tugasnya hanya berusaha dam berdo’a dan hasilnya yang menetukan Allah jalla wa 'ala itu sendiri.

Ada sebuah kisah orang yang shaleh, dia adalah seorang masyarakat biasa dari penduduk negeri Kuffah bernama Tsabit. Tsabit rahimahullah dia orang yang shaleh tapi miskin, satu waktu di jalan yang sering ia lewati daerah Kuffah. Dia lewati satu perkebunan apel, kemudian dia temukan apel yang jatuh dari pohonnya yang tangkai mengujung keluar dan jatuh tepat di luar pagar.

Dalam hukum syar’inya sebagian ulama membolehkan mengambil buah kalau sudah keluar dari pagarnya. Lain keadaan ini yang di alami Tsabit dia merasa terganggu dengan hal itu, ada apel jatuh kemudian ia ambil dan makan sampai habis separuhnya. Ia tahu bahwa Allah  mengawasi dia suatu ketika ia terlintas dipikiran dia “Subhannallah! Saya sudah makan sesuatu tanpa izin dari pemiliknya". Kemudian ia mencari pemilik kebun apel itu.

Disitu terdapat rumah gubuk, kemudian ia datang dengan mengetuk pintu dan mengucapkansalam. Tsabit ini meminta izin kepada yang tinggal di gubuk untuk menghalalkan apel tersebut, dia mengatakan bahwasanya dia hanya penjaga kebun itu jika ingin bertemu pemiliknya jarak tempuh antara kebun dengan rumahnya satu hari jalan kaki.

Pada akhirnya Tsabit pun pergi ke tempat  sang Pemilik kebun dia rela berjalan kaki demi menghalalkan sebutir buah apel tersebut. Rupanya pemilik kebun itu orang yang shaleh, kemudian Tsabit menceritakan kejadian kemarin sambil membawa separuh apelnya yang busuk.

Melihat Tsabit yang ketakutan, pemilik kebun ini berkata “Saya akan memaafkanmu dengan satu syarat” kemudian Tsabit  berkata “apa itu syaratnya?” pemilik kebun itu menjawab” kamu harus menikahi anak perempuan saya, akan tetapi kamu harus tahu dulu anak perempuan saya  matanya buta, telinganya tuli, mulutnya bisu dan kakinya lumpuh".

Tsabit berkata ”jikalau memang itu syaratnya supaya saya bisa dimaafkan saya terima dan saya akan jadikan itu sebagai pendekatan diri kepada Allah". Setelah akad nikah Tsabit datang ke kamar menemui istrinya dengan mengucapkan salam, kemudian permpuan itu menjawab salam Tsabit dan menghampirinya. Ternyata perempuan ini tidak bisu, buta ,tuli dan lumpuh seperti yang dibayangkan oleh Tsabit.

Tsabit berkata ”bagaimana engkau bisa menjawab salamku dan menghampiriku? Padahal ayahmu mengatakan matamu buta, telingamu tuli, mulutmu bisu dan kakimu lumpuh”. Kemudian perempuan ini menjawab "benar apa kata ayahku,  mataku  dan telingaku  memang buta dan tuli  dari semua yang Allah haramkan, lisanku memamg bisu karena tidak pernah keluar dari lisanku kecuali dzikrullah dan perkatan yang baik, kakiku memang kaki karena tidak pernah melangkah di tempat yang haram".

Tsabit berkata "ketika saya membuka cadarnya, saya temukan kalau dia adalah wanita paling cantik yang saya temui”. Setelah mereka menikah  Allah karuniai seorang anak yang bernama Nu’man bin Tsabit atau yang dikenal  Imam Abu Hanifah salah satu imam besar dari imam mazhab.

Ketika kita sudah berusaha mejaga diri dari apa yang diharamkan dan melaksanakan apa yang diperintahkan untuk menjadi ikhwan yang shaleh.

Maka jadilah surga pilihan wahai ikhwan sekalian untuk istri-istri kalian,anak- anak kalian, saudara-saudara kalian yang memberikan ketenangan hati yang membuat orang cinta dan rindu dengan akhlak kita.


Muhammad Royyan Hidayat

Mahasiswa International University of Africa

Sumber ilustrasi : Pixtasstock.com

Posting Komentar

0 Comments

Formulir Kontak