Mending Hafal atau Paham Al-Quran dulu?


      Sebuah tulisan kecil yang merupakan hasil diskusi dan murni dari pemikiran penulis.

Ada 3 poin dalam tulisan yang ringkas ini;

1. Penanaman mindset hafiz Al-Qur'an.

2. Efek kausalitas (sebab akibat) hafiz Al-Qur'an.

3. Perang pemikiran dengan barat dan korelasinya dengan hafiz Al-Qur'an.

       Beberapa tahun kebelakang, Gerakan hafiz Al-Qur'an menjadi tren yang digandrungi khalayak umum. Kita bisa lihat dari tahun ke tahun betapa pesatnya pertumbuhan jumlah pondok tahfiz yang merangkak secara signifikan dari segi kuantitas. Tren ini bukan hanya menjangkau anak-anak remaja saja, namun sampai orang dewasa. Diafirmasi dengan menjamurnya lomba-lomba tahfiz Al-Qur'an, begitupula dengan adanya akselerasi tahfiz yang dilakukan oleh lembaga formal maupun non-formal dengan menjadikannnya program unggulan yang dikedepankan.

      Pada dasarnya penulis setuju dengan mindset bahwa menghafal Al-Qur'an adalah sesuatu yang mulia dan harus dibanggakan, kita temukan dibanyak hadis tentang keutamaan mengahafal Al-Qur'an, seperti hadis riwayat Ibnu Majah, dari Sayyidina Ali, Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَحَفِظَهُ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ وَشَفَّعَهُ فِي عَشَرَةٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ كُلُّهُمْ قَدْ اسْتَوْجَبُوا النَّارَ

Barangsiapa membaca Alquran dan menghafalkannya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga serta akan memberi syafaat kepada sepuluh dari keluarganya yang seharusnya masuk neraka.

        Namun, tentu keutamaan menghafal Al-Qur'an tidak bisa digapai hanya dengan mengahafalnya saja dilisan dan ingatan, namun harus diimplementasikan dengan perbuatan dan diresapi oleh hati dan alam fikiran.

Dijelaskan juga dalam hadis:

القرآن حجة لك أو حجة عليك

    “Al-Quran akan menjadi dalil (yang akan meringakan dan meninggikan saat hari penghakiman) bagimu, atau ia akan menjadi dalil (yang akan memberatkan hukuman) atasmu.”

      Dari hadis tersebut, dapat kita rangkum bahwa ada 2 golongan efek dari kausalitas bercengkerama dengan Al-Qur'an;

1. Golongan yang mendapat kemuliaan oleh Al-Qur'an.

2. Golongan yang direndahkan oleh Al-Qur'an.

Golongan pertama

     Yaitu golongan yang tidak hanya menghafal Al-Qur'an dilisan saja, tapi juga mentadaburi dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur'an. Untuk masuk golongan ini tentu tidak instan, namun butuh waktu dan perjuangan. Hal ini diafirmasi dengan akhlak Rasulullah yang mulia, ketika Sayyidah 'Aisyah ditanya perihal bagaimana akhlak Rasulullah? Beliau menjawab, “akhlak Rasulullah adalah Al-Qur'an” di sini seakan Rasulullah mengajarkan kita agar mempunyai akhlak seperti apa yang Al-Qur'an tunjukkan, maka tidak cukup hanya menghafal dilisan saja tanpa berupaya mengimplementasikan apa yang dihafal. Dalam suatu riwayat dijelaskan bahwa Umar Bin Khattab mengahafal Surat Al-Baqarah sampai 12 tahun lamanya, bukan karena daya ingat beliau lemah namun beliau menghafal sedikit demi sedikit dan berusaha mengamalkan isi dari Al-Qur'an yang ia hafal. Begitu juga para sahabat yang mana mereka tidak beranjak dari menghafal 10 ayat sampai benar-benar mengamalkan isi kandungan yang mereka hafal tersebut.

Golongan kedua

       Ialah golongan yang direndahkan bahkan dihinakan oleh Al-Qur’an, ialah golongan yang hanya menjadikan Al-Qur’an sebagi hafalan atau bacaan tapi tidak berusaha untuk mengamalkan isinya, melakukan apa yang Allah larang di Al-Qur’an, tidak mentadaburi isinya dan bahkan buat mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pembenaran atas perbuatan salah mereka. Al-Qur’an menggambarkan bahwa orang-orang yang semacam ini diumpamakan sebagai keledai yang membawa tumpukan buku di punggungnya, di dalam buku-buku berisikan banyak pengetahuan namun keledai tetaplah dengan kedunguannya tidak mendapatkan apapun dari apa yang ia pikul selain lelah dan letih. Jika hanya sekedar membaca atau menghafal, Cristian Snouck Horgronje seorang orientalis berkebangsaan belanda pun bisa melakukannya, namun apa yang dia lakukan? Memecah belah umat muslim di Aceh dengan muslihatnya setelah mendalami ajaran Islam.

          Jika yang ingin Rasulullah ajarkan ialah agar umatnya menjadi generasi yang Qur’ani, maka bagaimana dengan fenomena oknum huffaz yang mana mereka melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan apa isi kandungan Al-Qur’an, misalnya pacaran, atau hal lain yang tidak baik padahal dia hafal Al-Qur’an? Bahkan berbangga ria ketika menyebut dirinya hafal Al-Qur’an?

       Disisi lain penulis melihat bahwa ghazwul fikri dengan pemikiran orientalis barat semakin liar menyerang umat islam. Hal ini menyebabkan banyak umat islam mulai hilang ghiroh kuat beragamanya, menormalisasi hal yang tak layak untuk dinormalisasi bahkan sampai meragukan isi Al-Qur’an dengan dalih sudah tidak relevan. Fenomena ini jelas membuat umat islam yang tidak kuat beragamanya akan goyah akan keimanan sehingga mendorong umat islam untuk terpecah dan bahkan keluar dari agamanya. Pemikiran orientalis barat inilah yang menjadi musuh dalam durinya umat islam, ia merasuk secara halus dan terstruktur untuk memengaruhi pemikiran pemuda-pemuda islam jika tidak kuat pondasi beragamanya.

       Jika keadaan sudah sekacau ini, masihkah relevan euforia tahfiz Al-Qur’an yang tidak proporsional sehingga melupakan esensi untuk memahami dan mengamalkan kandungan Al-Qur’an? Dalam hal ini penulis berpendapat bahwa pada saat ini pehaman dan pengamalan terhadap isi kandungan Al-Qur’an lebih utamanya dari sekedar hafalan, namun hal ini tentunya tidak boleh menjadi alasan untuk melegitimasi orang-orang yang enggan menghafal Al-Qur’an. Semuanya harus dilakukan dengan porsi yang tepat agar Al-Qur’an sebagai tuntunan kehidupan kita bisa diposisikan dengan seyogyanya.

Sumber ilustrasi: Steemit

Oleh: Imad 'Aql

Mahasiswa International University of Africa


Posting Komentar

0 Comments

Formulir Kontak