Logika Tak Kuasa

 


   Kumerenung usai melipat sajadah, menoleh perlahan ke arah cahaya yang tiba-tiba redup. Rupanya jadwal mati listrik di asrama. Kupaksa diriku tetap waras dalam menjalani hidup.

   Sambil menunggu listrik nyala, aku melihat jejak perjalananku hingga sampai ke negeri Sudan. Ada satu wajah yang terfikirkan namun samar dalam bayangan. Kupejamkan mata sekuat tenaga dan akhirnya aku temukan utuh raut wajahnya.

      Ia adalah temanku sedari kecil yang sudah lama tak jumpa, tidak berkabar, bahkan melalui sosial media. Seorang wanita yang lembut tutur katanya, cantik parasnya, anggun sikapnya, dan sangat rajin pergi ke sekolah. Dina namanya. Ia kembang desa di sana. Tentu banyak laki-laki paruh baya yang mendekatinya. Sikapnya yang baik membuat orang lain tidak sulit masuk ke dalam hidupnya, namun prinsip kami yang kuat selalu membentengi hal yang tak kami inginkan bersama.

      Menemani harinya membuat aku percaya bahwa aku harus mendukungnya dalam kebaikan. Dulu ia ingin melanjutkan belajarnya di sekolah terbaik yang ia idamkan. Harapannya jika lulus dari sana ia akan menjadi orang yang lebih bermafaat dan tidak hanya dipandang secara fisik saja. "Dia hampir sempurna, kuyakin dia akan mampu menggapai cita-cita besarnya,” batinku.

       Di lain sisi aku yang tak terbiasa pergi jauh dan terbiasa tanpa ayah dan ibu. Aku tinggal bersama nenek dan kakek di bawah asuhannya. Kukira, usai lulus Sekolah Menengah Pertama sudah saatnya aku kumpul bersama orangtua, tapi arah fikiranku justru ingin pergi lebih jauh dari keduanya. Aku memberanikan izin kepada kedua orangtuaku. "Aku izin mondok ya, Ma, Pa, di Jawa Timur," ucapku. "Mengapa jauh sekali? Bapak sudah diberi tahu Ustaz Ahmad, beliau sudah mendaftarkan kamu di pondok terdekat," ujarnya.

      Bagaimana bisa, aku si sosok keras kepala menerimanya semudah itu? Bahkan beasiswa sekolah SMA terbaik di kotaku pun kutolak saat itu, karena aku tidak mau nilai terbaikku di sekolah hanya membuatku melanjutkan belajar di daerah yang sama.

       Akhirnya Allah Swt. menakdirkan aku mengenyam pendidikan di pondok yang kumau tanpa berbekal pengalaman aku berusaha mandiri dalam segala hal, karena restu orangtua masih tak menentu meskipun aku tahu doanya selalu untukku. "Nomor urut 2351 lulus di Gontor Putri Kampus 1" masih kuingat pengumuman menegangkan itu.

       Logikaku berkata bahwa sahabatku lah yang lebih pantas mendapatkan semua ini, karena aku adalah pembelajar sejati dan hanya sedikit yahanu saja. Fisik dan kemampuanku sangat jauh jika dibandingkan dengannya. Selama ini aku hanya fokus belajar dan menikmati hidup yang ada, sedangkan dia? Hidupnya sangat terarah seolah semua sudah diatur oleh orangtuanya.

       Saat liburan aku pulang dan bertemu dengannya. Aku bicara padanya "Din, kamu ndak mau menggapai cita-citamu?" tanyaku pelan. "Ndak, Mbak. Aku mau di rumah saja," jawabnya. "Tapi potensimu sayang sekali, Din," aku kembali membujuknya. "Iya, Mbak. Tapi aku percaya bahwa ada kuasa Allah Swt. di balik semua ini. Kita tidak bisa melihat secara dhohir saja siapa kita dan tidak mungkin juga kita letakkan logika di atas kuasa-Nya. Semua ini telah terjadi, Mbak. Cita-citaku kau yang menjalani, semoga berkah dan tetaplah menjadi dirimu sendiri." Aku menatap tajam dan mendoakan kebaikan untuk hidupnya. Perbincangan kami ditutup dengan makan bersama sembari menatap indahnya puncak gunung di atas sana.

Sumber ilustrasi: Pinterest

Oleh: Atik Fitriyati

Mahasiswi International University of Africa


Posting Komentar

0 Comments

Formulir Kontak