Ihtiyat Sebagai Kontrol Sosial





     Tulisan ringan ini dibuat oleh penulis untuk mengungkapkan keresahan pribadi dan berbagi pengalaman serta pengamatan tentang perubahan sosial pelajar Indonesia di Sudan semenjak tahun 2014 sampai 2022.

     Menyoal perubahan sosial yang terjadi belakangan ini, secara garis besar penulis simpulkan bahwa yang terjadi adalah semakin kaburnya batas kehati-hatian dan bergesernya norma umum yang berlaku di antara kita. Sebelum kita menyantap hidangan utama dalam tulisan ini, tentu kita harus bahas terlebih dahulu definisi dua kata kunci utama yang akan kita bahas, “kehati-hatian” dan “norma”.

        Kehati-hatian di sini mungkin akan mudah dipahami ketika kita merubahnya menjadi bentuk arab yaitu al-ihtiyat yang didefinisikan oleh Syaikh Syihabuddin al-Qurroofi sebagai;
ترك ما لا بأس به حذراً مما به بأس
Meninggalkan hal yang tidak dilarang karena khawatir jatuh pada hal yang dilarang”

Norma dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai, “aturan atau ketentuan yang mengikat warga dalam masyarakat, dipakai sebagai panduan, tatanan, dan pengendali tingkah laku yang sesuai dan diterima”. 

     Jika kita selisik lebih lanjut maka norma adalah tentang tolak ukur terhadap suatu hal, baik-buruk, boleh-tidak dan pantas atau tidaknya suatu hal untuk dilakukan. Karena norma berkaitan dengan kesepakatan penilaian banyak orang terhadap suatu hal maka sangat mungkin berganti dan berubah. Norma lama bisa diganti dengan norma baru setelah terjadi perubahan. 

       Contohnya saja, sebelum tahun 2019 kultur yang berlaku di tengah pelajar Indonesia di Sudan, hal-hal yang dianggap kurang elok dalam segi sosial dan syariat dilakukan dengan sangat tersembunyi dan orang-orang tak segan untuk melakukan nahyul munkar tatkala hal itu terungkap, bahkan melakukan banyak pencegahan untuk meminimalisir hal itu terjadi kembali, hal itu bertolak belakang dengan fenomena yang berlaku saat ini, di mana hal yang dulu dianggap tak elok itu dilakukan secara terang-terangan dan banyak orang malu menegakkan nahyul munkar. Singkatnya jika dahulu pelanggar norma malu-malu/sungkan maka saat ini justru penegak norma malu-malu/sungkan. Bagi orang yang menyaksikan perubahan yang terjadi dan membandingkannya dengan kondisi dahulu maka hal ini sangat meresahkan. 

     Hal ini tidak serta merta terjadi tanpa sebab, jika kita cari penyebabnya, maka kita akan bermuara pada kesimpulan bahwa semua ini disebabkan kurangnya ihtiyat dalam melakukan segala sesuatu. Ihtiyat tidak hanya menilai bagaimana suatu hal bisa dilakukan, tetapi juga menimbang aspek baik/buruk setelahnya. 

       Contoh kasus yang dialami penulis sendiri, dalam berorganisasi yang melibatkan pelajar putra dan putri, sebisa mungkin dilaksanakan dengan mengurangi interaksi secara langsung dan hanya dilakukan pada kondisi yang mendesak dan dengan syarat-syarat tertentu. Semisal rapat yang melibatkan putra dan putri hanya dilakukan di PPI dan dibatasi sitar, jangankan untuk rapat, dulu untuk membuat grup whatsapp bersama (putra dan putri) kami mengajukan izin terlebih dahulu kepada penasihat organisasi. Bukannya kami tak paham bahwa interaksi antara laki-laki dan perempuan dalam ranah organisasi maupun sosial dibolehkan, namun kami memperkecil kemungkinan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

      Ribet? Kolot? Jelas, tapi hal-hal ini berhasil mewujudkan lingkungan yang lebih tentram dan elok sebagai tholib syar’ie, sedangkan sekarang lebih mudah? Progresif? Benar, namun side effect dari banyaknya interaksi itu menimbulkan borok yang sangat sulit diobati, dibutakan nafsu berbungkus kata cinta. Apakah kebaikan yang diperoleh dari semakin longgarnya interaksi lawan jenis setimpal dengan keburukan yang terjadi setelahnya? Apakah layak seorang tholib syar’ie yang harusnya paham batas-batas benar dan salah kemudian bermesraan bagaikan orang awam yang tak tahu apa-apa? Jawabnya ada di hati kita masing-masing.

  Penulis merasa perlu untuk menyampaikan kondisi sosial beberapa tahun silam agar teman-teman mengerti gambaran sosial dahulu dan sekarang seperti apa dan bisa memahami sejauh apa perubahan yang terjadi dan tidak merasa bahwa keadaan Sudan saat ini baik-baik saja, bahwa hal-hal yang terjadi saat ini adalah normal saja, karena Sudan dahulu pernah menjadi tempat yang seputih itu dalam masalah interaksi lawan jenis, bahkan kami pernah membanggakan hal ini kepada sesiapa yang menanyakan kondisi dan kelebihan Sudan sebagai tujuan penuntut Ilmu, dan sekarang kami ragu untuk menjadikan hal itu sebagai salah satu kelebihan yang masih dimiliki Sudan.

Sumber ilustrasi: blogspot aksara cinta ilahi
Oleh: Rif’at Mubarok

Mahasiswa Program S2 Jamiah Qur’an Omdurman     

Posting Komentar

0 Comments

Formulir Kontak