Survei El-Nilein terhadap Lembaga Kepresidenan PPI Sudan Periode 2021-2022


A. Pendahuluan

       Sesuai yang tertulis dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Persatuan Pelajar Indonesia Sudan (AD/ART PPI Sudan), PPI Sudan adalah organisasi pelajar berbentuk persatuan. PPI Sudan didirikan di Khartoum pada tanggal 21 Rabiulakhir 1402 hijriah bertepatan dengan tanggal 15 Februari 1982 masehi sampai waktu yang tidak ditentukan. PPI Sudan berkedudukan di ibu kota Republik Sudan. PPI Sudan bersifat bebas-aktif, islami, independen, dan tidak ikut serta dalam kegiatan politik. Sesuai visi yang tertera dalam Anggaran Dasar Pasal 9, “PPI Sudan sebagai organisasi pelajar yang berintegritas, berkarakter gotong royong, dan religius sebagai wadah aspirasi anggota dalam rangka meningkatkan potensi dan kualitas anggota dan organisasi, yang memiliki daya saing kuat untuk berkontribusi dalam mewujudkan cita- cita negara dan bangsa yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945”.

    PPI merupakan salah satu organisasi kemahasiswaan yang tersebar di berbagai penjuru dunia dan berafiliasi dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Dunia (PPI Dunia). PPI Dunia terbagi menjadi tiga kawasan berdasarkan letak benua, Amerika-Eropa, Asiania, Timur Tengah & Afrika. PPI Sudan sendiri tergabung sebagai anggota Persatuan Pelajar Indonesia Kawasan Timur Tengah dan Afrika (PPIDK TIMTENGKA).

         PPI Sudan yang secara de jure sudah menginjak umur 40 tahun tentunya mengalami berbagai macam dinamika di dalamnya. Sebagai organisasi kemahasiswaan juga selaku agent of change dan agent of development tentunya PPI Sudan senantiasa berupaya menjadi organisasi yang dapat mewadahi anggotanya yang sedang menempuh pendidikan di Sudan dalam menyalurkan ide dan gagasan yang cerdas sebagai bukti pengabdiannya terhadap bangsa dan negara.

        PPI Sudan sebagai organisasi kemahasiswaan juga dituntut untuk memberikan pelayanan kepada mahasiswa. Bentuk pelayanan dari PPI Sudan adalah dalam berbagai bidang baik sosial, pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, dan lain sebagainya dalam lingkup kemahasiswaan. Pelayanan tersebut diharap dapat didiseminasikan dan dimanfaatkan oleh stakeholders (pemilik kepentingan) di PPI Sudan. Stakeholders tersebut meliputi para pengambil kebijakan (baca: Lembaga Kepresidenan PPI Sudan) dan mahasiswa keseluruhan pada umumnya.

        El-Nilein sebagai salah satu lembaga otonom PPI Sudan sendiri memiliki tanggung jawab sebagai lembaga pengembangan literasi dan berhak melakukan riset yang didasari oleh semangat perbaikan, kebaikan, dan kemajuan organisasi. Maka El-Nilein melakukan survei dengan tujuan untuk mengukur tingkat kepuasan mahasiswa terhadap layanan yang telah diberikan oleh organisasi induk kemahasiswaan di Sudan ini melalui prosedur yang dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah. Hasil survei dituliskan dalam bentuk artikel hasil penelitian selain sebagai laporan juga sebagai bentuk edukasi bagi khalayak anggota.

B. Metode Penelitian

     Penelitian yang akan dilakukan dalam survei ini adalah penelitian kualitatif. Adapun penjelasan mengenai penelitian kualitatif menurut David Williams (1995) adalah upaya peneliti mengumpulkan data yang didasarkan pada latar alamiah. Penelitian kualitatif diartikan sebagai penelitian yang digunakan untuk meneliti masalah manusia dan sosial (Cresswell,J.W). 

    Metode survei sendiri menurut Kerlinger (1973) adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, untuk menemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubungan-hubungan antar variabel sosiologis maupun psikologis.

C. Hasil dan Pembahasan


       Melalui 50 responden dari kuesioner yang telah El-Nilein publikasikan, sebanyak 60% diantaranya adalah orang-orang yang pernah berkecimpung di dunia PPI Sudan sebagai pengurus (read: bagian dari Lembaga Kepresidenan PPI Sudan) dan 40% sisanya adalah outsider/grass roots (anggota organisasi). Sedangkan jika dilihat dari segi pengalaman di Sudan, sebanyak 60% lebih adalah mahasiswa tahun ke-3 atau diatasnya. Jika boleh dinilai, artinya responden pada survei kepedulian dan kuisioner kinerja kali ini relatif memiliki kapabilitas dan pengalaman dalam memberikan penilaian dan masukan untuk PPI Sudan.

        
      Dalam masa normal, satu periode kepengurusan PPI Sudan terhitung selama satu tahun (read: dua belas bulan). Namun di kepengurusan PPI Sudan periode 2021/2022 ini masa menjabat selama hanya delapan bulan dikarenakan terpotong oleh masa peralihan P4 PPI Sudan pasca selesainya jabatan periode sebelumnya. Dalam masa delapan bulan tersebut, tentu kita dapat memberikan penilaian, baik dari segi pelayanan publik, program-programnya, dan penilaian umum secara keseluruhan.

         Dari diagram diatas, 40% responden mengafirmasi bahwa kabinet PPI Sudan periode 2021/2022 dinilai melakukan tugas dan fungsinya dengan cukup bahkan baik (24% menilai “Cukup”, 16% menilai “Baik”). Tentunya hal ini patut diapresiasi, dan inilah hasil kerja keras dan prestasi kepengurusan PPI Sudan periode kala itu. Namun, ada banyak hal yang juga perlu dijadikan catatan evaluasi mengingat 60% responden lain menilai “Kurang Baik”, bahkan 22% diantaranya menilai kinerja kepengurusan PPI Sudan periode 2021/2022 masuk kategori “Buruk”. Hal ini jangan sampai dilupakan, sebagai catatan tentunya penilaian ini sebagai bukti bahwa kepercayaan publik terhadap PPI Sudan mulai menunjukkan tren penurunan, perlu adanya evaluasi dan perbaikan masif dan terstruktur bagi kepengurusan PPI Sudan di periode selanjutnya.

         PPI Sudan setidaknya dapat dinilai secara umum melalui dua perspektif. Pertama, keberadaan atau eksistensinya sebagai organisasi pelajar induk/sentral. Bagaimana keberlangsungan program-program dalam tubuh PPI Sudan itu sendiri, kebermanfaatan dari program yang dilaksanakan. Kedua, fungsi PPI Sudan sebagai “rumah” yang bisa dirasakan untuk seluruh anggota. 

     Pada diagram diatas menjelaskan bahwa antusiasme dari anggota PPI Sudan sendiri terlihat (read:dinilai) “Biasa Saja” ketika PPI Sudan mengadakan sebuah acara/program. Hal ini juga dapat menjadi evaluasi PPI Sudan kedepannya untuk berbenah dalam menjalankan sebuah acara/program terlebih secara strategis. Selain itu, pada diagram tersebut sebanyak 58% menyiratkan pesan bahwa PPI Sudan “harus bergerak lebih aktif, tepat manfaat, dan tepat sasaran” dalam membuat program yang menjangkau seluruh elemen anggota.


       Salah satu hal paling mendasar dalam sebuah organisasi mahasiswa adalah sikap penerimaan aspirasi dari anggotanya hingga proses tindak lanjut dari aspirasi tersebut, yang mana dalam hal ini El-Nilein berusaha memberikan wadah berupa pertanyaan untuk mendapatkan penilaian secara komprehensif, apakah anggota memiliki andil untuk memberikan aspirasi mereka untuk bersuara ataupun berpendapat.

        Adapun hasilnya, kita dapat melihat dari diagram diatas, bahwa 44% responden tidak pernah menyampaikan aspirasi mereka, dan dapat dilihat 18% dari jumlah responden yang menyampaikan aspirasi dan tidak direspon. Tentu hal ini menjadi PR untuk PPI Sudan kedepannya, selain untuk menampung semua aspirasi yang ada, juga bagaimana caranya PPI Sudan dapat “menggaet” anggotanya untuk dapat lebih percaya menyampaikan aspirasinya (public interest) kepada PPI Sudan. Sementara itu, 14% responden yang pernah menyampaikan aspirasinya dan mendapatkan respon yang baik. Atas dasar hasil ini, sebagai pengambil kebijakan, PPI Sudan diharapkan dapat semakin meningkatkan kinerja baik dalam penyerapan dan penindakan lebih lanjut atas aspirasi yang telah disampaikan oleh anggota-anggotanya.

         Tidak dapat dipungkiri, bahwa “warisan” yang telah diberikan oleh jajaran pengurus P4 PPI Sudan kala itu harus diterima, dipertahankan, hingga dikelola dengan baik oleh pengurus PPI Sudan di periode setelahnya. Setelah melewati 1 tahun masa kepengurusan (baca: 10 bulan), sudah seharusnya sebagai bagian dari Lembaga Kepresidenan PPI Sudan menggunakan waktu ini untuk menjalankan program yang sekiranya dapat menjangkau keseluruhan dari anggota PPI Sudan secara strategis, demi menunjang percepatan pembangunan organisasi dan perluasan kebermanfaatan bagi sebanyak-banyaknya anggota.

        Jika melihat dari diagram yang ada terhadap survei yang diberikan kepada responden, dapat kita jangkau bahwa 52% responden mengklaim bahwa program PPI Sudan di periode kala itu “tidak” menjangkau dari keseluruhan mahasiswa sebagai anggota organisasi. Sedangkan 32% responden memberi tanggapan “cukup” menjangkau dan sisanya masuk ke dalam “kurang menjangkau”.

        Pada bagian diagram ini, sebagai peneliti dalam bentuk evaluasi berpesan kepada seluruh pengurus PPI Sudan periode selanjutnya untuk dapat memperhatikan secara khidmat atas apa saja kebutuhan anggota. Tidak lain tidak bukan, sudah seharusnya organisasi dibentuk untuk mengakomodir seluruh kebutuhan anggota-anggotanya dengan bantuan-bantuan program yang mendukung. Jangan sampai muncul opini publik (baca: anggota) bahwa program PPI Sudan hanya menyasar pada sebagian anggota saja.

     Sebagai organisasi sudah menjadi sebuah keniscayaan ketika dapat memberikan dampak positif kepada seluruh anggotanya melalui berbagai program yang ada. Dalam hal ini, dengan adanya gebrakan baru dari program-program sebelumnya anggota PPI Sudan diharapkan mendapat dampak positif tersebut.

           Ketika melihat dari diagram diatas, terlihat bahwa 42% responden menilai “tidak ada” dampak postif, 42% yang “cukup” merasakan dampak positif sedangkan hanya 1% yang sangat merasakan dampak psoitif dari program PPI Sudan setahun belakangan.

       Jika kita fokus melihat dari data diatas, relatif hanya segelintir orang yang mendapatkan dampak positif dari PPI Sudan dalam bentuk program. Hal ini dapat menimbulkan pertanyaan besar. “Apakah program yang dijalankan PPI Sudan setahun belakangan merupakan program yang kurang atau bahkan tidak dibutuhkan mahasiswa Indonesia di Sudan?”

         PPI Sudan yang sudah menginjak 40 tahun usianya sudah seyogyanya dapat membangun hubungan baik antara pengurus dengan anggota, sesuai dewasanya usia tersebut, dimana hal tersebut dapat meningkatkan daya tarik, minat serta kecintaan anggota PPI kepada PPI Sudan itu sendiri.

       Berdasarkan hasil survei diatas menjelaskan hubungan antara pengurus dan anggota PPI Sudan 42% responden menilai memiliki hubungan yang “cukup”, dilain sisi PPI mendapatkan 16% hubungan baik dan sangat baik, sedangan 42% hubungan kurang baik bahkan buruk dengan anggotanya.

        Tentu, dalam hal ini PPI Sudan harus meningkatkan lagi hubungan antara pengurus dengan anggota PPI sendiri, dimana hubungan erat ini mugkin dapat menjadikan PPI Sudan semakin baik dalam proses kaderisasi anggota kedepannya.



    Dalam kondisi ideal, Sekretariat PPI Sudan merupakan rumah sekaligus pusat kegiatan bagi para mahasiswa Indonesia yang berada di Sudan. Sudah semestinya pengurus PPI Sudan mengerti atas kondisi ideal tersebut, khususnya bagi yang menetap serta menjaga Sekretariat ini untuk mengupayakan agar Sekretariat PPI Sudan minimalnya masuk kategori “layak pakai”, dan lebih dari itu dapat menyebarkan seluas-luasnya manfaat (value).

      Dari nilai diagram diatas menyebutkan bahwa kurangnya fungsi sekretariat PPI Sudan sebagai rumah dari organisasi sentral pelajar Indonesia di Sudan. Dapat dilihat bahwa hanya 18% responden dari total 50 suara yang memberikan respon “Baik” terhadap Sekretariat PPI Sudan dan 80% responden sisanya yang memberikan respon “Cukup”, “Kurang Baik” bahkan “Buruk”, sedangkan 2% tidak mengetahui kondisi dari Sekretariat PPI Sudan.

            Dari survei responden yang telah diberikan diatas terlihat bahwa anggota PPI Sudan sendiri terlihat memiliki respon yang kurang baik mengenai sekretariat PPI Sudan dari segi fungsi serta kondisi rumah. Selain hal tersebut, yang perlu menjadi catatan bahwa sebagai pengurus PPI Sudan dapat menjangkau 2% responden yang relatif tidak banyak tahu manfaat adanya Sekretariat PPI Sudan.

      Majalah El-Nilein dalam menggunakan kapasitasnya sebagai peneliti dan salah satu Lembaga Otonom dari PPI Sudan melakukan survei yang telah dilakukan melalui Google Form yang telah disebar, tentunya dalam rangka memberikan masukan strategis sebagai bentuk kecintaan terhadap organisasi. Diharapkan PPI Sudan kedepannya dapat lebih mengutamakan kepentingan organisasi yang dapat meningkatkan mutu serta nilai mahasiswa Indonesia yang berada di sudan.

         Grafik diatas merupakan penilaian umum terhadap kinerja umum PPI Sudan selama satu periode kebelakang, dimana dapat dinilai dari 1 (paling rendah) hingga 10 (paling tinggi). 

D. Kesimpulan 

        Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa:
  1. Berdasarkan survei yang telah dilakukan oleh Lembaga El-Nilein dimana 60% responden diantaranya adalah pengurus atau mantan pengurus PPI Sudan, dapat dilihat bahwa kepengurusan PPI Sudan ditahun 2021/2022 relatif dinilai masih jauh dari ekspektasi responden.
  2. Program atau acara yang telah diadakan oleh PPI Sudan dan terlaksana di tahun 2021/2022 relatif terlihat biasa saja, dimana seharusnya PPI Sudan itu sendiri yang harus menyediakan program-program yang manfaatnya dapat dirasakan dan membuat fungsi PPI Sudan itu sendiri terlaksana dengan baik.
  3. Sebagai organisasi mahasiswa, PPI Sudan sudah selayaknya untuk mendengarkan dan mempertimbangkan aspirasi dari anggotanya, dilihat dari hasil survei diatas bahwa PPI Sudan relatif kurang responsif terhadap aspirasi mahasiswa.
  4. Dengan melihat hasil survei yang telah dilakukan dimana program-program PPI Sudan setahun kebelakang terlihat kurang menjangkau untuk kalangan mahasiswa Indonesia, PPI Sudan yang dirasa dapat menjalankan program-programnya dengan bersinergi satu sama lain secara kasatmata belum bisa menjangkau kepada seluruh mahasiwa Indonesia di Sudan
  5. Melihat dari hasil survei diatas bahwa dampak positif dari PPI Sudan masih belum bisa dirasakan oleh mahasiswa secara keseluruhan, dengan adanya program-program unggulan yang telah dirancang oleh PPI Sudan ternyata masih belum memberikan banyak dampak positif kepada anggota PPI Sudan itu sendiri.
  6. Hubungan antara pengurus dan anggota PPI Sudan terlihat masih perlu dibangun dan dibina kembali, hubungan yang baik antara pengurus dan anggota merupakan sarana yang dapat menimbulkan rasa cinta dan memiliki anggota terhadap PPI Sudan.
  7. Sekretariat PPI Sudan yang diperuntukan untuk menjalankan program serta fungsi PPI Sudan masih relatif kurang dalam penggunaan fungsinya sebagai kantor sekaligus “rumah” utama bagi anggota. 
  8. Penilaian responden terhadap kinerja keseluruhan dari PPI Sudan 2021/2022 cukup bervariasi, atas dasar hasil apapun yang sudah terlihat diharapkan dapat menjadi acuan kerja strategis bagi pengurus PPI Sudan periode selanjutnya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama