Restu Orang Tua

Sumber : Pinterest

      “Kalau mau, kamu boleh melanjutkan kuliah di Sudan usai wisuda santri. Kebetulan Abi sudah menyiapkan biayanya” saran Abi yang langsung membuatku terdiam dan terus mendengarkan nasihat beliau.

       “Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Umi yakin, kamu tidak akan mengecewakan kami,” sahut Umi mentapku penuh harap.

      “Kembalilah ke Indonesia dengan ilmu yang bisa kamu bagikan pada umat. Semoga usiamu penuh dengan manfaat,” Abi melanjutkan.

      Aku menganggukkan kepala tanda setuju. Dan kedua orangtuaku memahami maksudku. Jujur saja saat mendengar saran dari Abi, aku tidak tahu harus menjawab apa. Perasaanku bercampur aduk antara senang dan bingung. Senang karena kedua orangtuaku mengirimku ke Negeri Dua Nil untuk belajar. Dan bingung karena tidak tahu harus mulai persiapan darimana.

  Sungguh, sebelumnya aku tidak pernah membayangkan bisa berkuliah di luar negeri. Jangankan dalam kehidupan nyata, bahkan dalam tidur pun aku tidak pernah memimpikannya. Bisa jadi kesempatan berharga yang aku miliki saat ini berkat doa-doa Abi dan Umi. Seorang anak yang berbakti haruslah mematuhi amanah orang tuanya. Apalagi saran orang tuaku kali ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengirimku melanjutkan pendidikan di Khartoum International Institute for Arabic Language, Sudan, Afrika.

        Dengan berbekal kepercayaan dari orang tua, aku menyetujui saran mereka dengan terus mengingat bahwa tujuanku ke Sudan hanyalah untuk belajar, bukan lainnya. Restu orangtua adalah doa mujarab untuk anak-anaknya. Aku percaya, bersama dengan restu Abi dan Umi teriring rida Illahi. Dengan berusaha mendapatkan restu orang tua, kita senantiasa mendapat kemudahan dalam melangkah. Bukan berarti tidak akan ada tantangan pada kemudian hari. Tapi bisa jadi karena restu orang tua, kita bisa selalu menemukan solusi atas segala keluh kesah yang kita hadapi. 

    Persis seperti kisahku ketika bingung untuk melanjutkan pendidikan setelah wisuda santri. Selain ogah-ogahan karena belum memiliki tujuan yang jelas, aku juga masih belum yakin untuk memilih kampus yang tepat. Beruntungnya ditengah kebimbanganku, Abi memberikan saran tentang kelanjutan studiku. Apalagi  Umi turut mendukung pendapat abi tentang kuliahku di luar negeri. Aku merasa seperti diberikan kepercayaan penuh sekaligus tanggung jawab yang utuh. Rasanya seperti ingin meleleh, tapi sadar kalau aku bukan es. 

       Namun kalian jangan iri dulu ya, karena aku bukan satu-satunya mahasiswa yang berhasil kuliah di Sudan. Semoga menjadi pengingat. Selama saran dan nasihat orang tua tidak menjerumuskan, kita wajib mematuhinya. Aku rasa, itu termasuk salah satu contoh berbuat baik kepada keduanya. Lagipula, untuk apa kita menentang mereka jika yang mereka lakukan bertujuan baik untuk kita?

       Dari banyak negara lainnya khususnya Indonesia, juga masih banyak mahasiswa yang mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan. Aku hanya termasuk salah satu perantau yang kebetulan memiliki kesempatan untuk berkuliah tanpa beasiswa. Karena sepengetahuanku, memang belum ada beasiswa yang dibuka semenjak pandemi corona.

     Mari kita saling mendoakan, dimanapun kita berkuliah dan apapun jurusan yang kita ambil, semoga kita bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Dan semoga kita bisa mengelola ilmu yang sudah kita terima dan membagikannya untuk umat. Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (Surat Al Mujadalah 11)

      Sebenarnya sejak Madrasah Aliyah, aku sudah memiliki keinginan untuk melanjutkan kuliah di Timur Tengah. Tapi, waktu itu aku berpikir bahwa impianku  adalah sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan. Lagipula, bagaimana mungkin seorang anak yang tumbuh dalam keluarga sederhana bermimpi untuk kuliah di luar negeri? Is it possible?

      Seriring berjalannya waktu, lambat laun aku menyadari mimpiku terlalu absurd. Oleh karena itu aku selalu berusaha meredam impian itu dengan tetap berpikir positif. Selain itu, aku juga menyadari bahwa pendidikan di Indonesia tidak kalah bagus jika dibandingkan dengan negara asing. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mendaftar kuliah di beberapa universitas negeri di Indonesia tanpa mengatakan keinginanku yang sebenarnya pada orang tua. 

       Nyatanya, Tuhan telah menuliskan takdir yang berbeda. Bak gayung disambut. Aku sampai kehabisan kata saat tiba-tiba orangtua memintaku melanjutkan pendidikan di Sudan, tak lama setelah aku dinyatakan lolos menjadi calon mahasiswa pada beberapa kampus di Universitas Indonesia Jurusan Kedokteran, Universitas Gadjah Mada Jurusan Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Purwokerto Jurusan Perawat, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Universitas Harapan Bangsa Jurusan Kebidanan.

       Ya, memang sebanyak itu aku mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Dan aku dinyatakan lolos disemua kampus. Bukan bermaksud sombong. Aku sekadar ingin mengingatkan pada diri sendiri. Jikapun semua kampus menerima kedatanganku kalau orangtua belum sepenuhnya ikhlas atas keputusan yang kubuat, aku tidak berani meneruskan jalan.

      Qodarullah, aku sepenuhnya menyadari bahwa semua ini terjadi atas izin Allah. Saking senangnya, waktu itu aku sampai tidak tahu harus menangis atau tertawa. Tapi, tentu saja dalam hatiku terus menerus mengucap syukur. Alhamdulillah, akhirnya Allah mengabulkan keinginan yang sudah lama kupendam dalam lubuk hatiku yang paling dalam. Mungkin, aku memang ditakdirkan untuk memiliki kesempatan mengenyam pendidikan di Timur Tengah. 

        Serunya lagi, pengalamanku selama tinggal di luar negeri tidak akan tergantikan oleh apapun. Tapi, bukankah kuliah di luar negeri berarti otomatis hidup terpisah dari orang tua? Sementara aku baru saja menginjakkan kaki di rumah setelah acara wisuda. Namun, jika mengingat kembali tujuanku pergi ke Timur Tengah adalah untuk menuntut ilmu, aku berani membulatkan tekad dan membungkus semua rindu demi menjemput ilmu serta pengalaman-pengalaman baru yang akan aku bagikan pada masyarakat usai kelulusanku.

        "Rida Allah bergantung pada keridaan orang tua dan murka Allah bergantung pada kemurkaan orang tua. (HR. at-Tarmidzi No. 1899)"

Oleh : Muna Syahidah
KIIFAL

2 Komentar

  1. masyaAllah Barakallahufiikum.. sangat termotivasi.. mingkin selain ridha ortu juga karna kedekatnmu dengan alQur'an... keren keren...

    BalasHapus
  2. The best my baby semangat sayang disudan Masi ada ibumu juga❤️ ibu selalu ada untukmu nak 😍miss you so much 😍😍😍😍

    BalasHapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama