Penguasa Sri Lanka dan Krisis di Dalamnya

Sumber : france24.com

       Beberapa waktu lalu dunia khususnya asia tenggara dihebohkan dengan keadaan yang terjadi di Sri Lanka, dimana terjadi demo besar-besaran yang disebabkan oleh keadaan krisis yang terjadi. Para pengunjuk rasa menyerbu istana Presiden Gotabaya Rajapaksa yang berujung pada kaburnya Presiden Sri Lanka ke Maladewa beserta istrinya menggunakan pesawat militer, massa pendemo juga menyerbu kantor Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe, Omalphe Sobitha salah satu dari biksu terkemuka menyerukan agar istana kepresidenan yang berusia lebih dari 200 tahun harus kembali diserahkan kepada pihak yang berwenang, untuk memastikan seni dan artefak yang berada didalamnya dalam keadaan baik.

       Lantas siapakah Presiden Gotabaya Rajapaksa dan keluarganya? Dan apa faktor yang mengakibatkan Sri Lanka bangkrut seperti sekarang?

   Gotabaya Rajapaksa adalah seorang pria yang berumur 73 tahun dan menjadi presiden sejak 2019, ia merupakan salah satu anggota keluarga Rajapaksa yaitu adalah keluarga yang mendominasi kekuatan politik di Sri Lanka selama puluhan tahun.

      Gotabaya sendiri merupakan saudara dari Mahinda Rajapaksa dimana ia merupakan presiden pada tahun 2005 hingga 2015, dan selama mahilda menjabat sebagai kepala negara Sri Lanka ia banyak sekali memasukan kerabatnya kedalam kabinetnya.

    Sebelum Gotabaya menjadi presiden ia mendapatkan posisi sebagai senior di kementerian pertahanan, sedangkan saudara lainnya Chamal yang ada diberikan tugas diberbagai kementerian seperti Pertanian, Perikanan dan irigasi, sedangkan adiknya memegang jabatan di kementerian keuangan dan pembangunan ekonomi.

       Adapun faktor dari bangkrutnya Sri Lanka tidak lain disebabkan Sri Lanka gagal membayar hutang, dimana negara asia setalan tersebut memiliki sekitar 51 miliar dollar AS (Rp 764,79 triliun) hutang luar negeri. Pemerintahnya sendiri sudah kehabisan dollar sehingga tidak dapat mengimport berbagai kebutuhan pokok termasuk BBM.

   Sebelumnya sektor pariwisata Sri Lanka yang merupakan objek vital diserang dengan bom dari para ekstremis di gereja dan hotel pada tahun 2019, kemudian dilanjutkan dengan adanya gelombang pandemi Covid 19, juga kas Sri Lanka terkuras akibat dari pemotongan pajak oleh pemerintah  yang kemudian pemerintahnya sendiri kehabisan mata uang asing untuk mengimport bahan-bahan pokok, obat-obatan dan juga bahan bakar.

      Dikarnakan tidak memiliki mata uang asing untuk mengimport barang-barang kebutuhannya sendiri Sri Lanka dilanda krisis pangan, bahan bakar dan listrik selama berbulan-bulan, krisis yang terjadi di negara yang memiliki 22 juta penduduk ini dianggap yang terburuk dalam beberapa decade terakhir.

Oleh : Zaid Abdul Aziz
Mahasiswa University of Africa

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama