Hidup Hemat ala Anak Asrama

 Sumber: Dokumentasi Pribadi
 

      Di sebuah negara di utara Afrika, bukan Maroko, bukan Mesir, bukan Libya, bukan Tunisia, tapi bawahnya Mesir pas kalo di peta. Itulah negara tempat kita berlabuh, bersama bergandengan tangan kita menuntut ilmu walaupun sebenarnya ilmu tidak salah apa-apa hehe.

      Berkenaan dengan tema tips hemat hidup asrama yang diajukan ini, saya ingin memperkenalkan diri sebagai seorang penghuni asrama markaz, yang mana ybs. yang tadi saya singgung juga di asrama sama seperti saya. Karena kami berdua sama-sama penghuni asrama, jadi silahkan garis bawahi pesan kami ini untuk pembaca sekalian, terutama yang masih ragu untuk tinggal di asrama: Tinggal di asrama itu sendiri sudah merupakan bentuk nyata aksi penghematan.

    Dari sekian parahnya carut-marut kehidupan di luar sana asrama adalah opsi terbaik karena mudharat-nya paling ringan. Maksud mudharat di sini adalah kasus kriminalitas yang meningkat berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yang menurun. Walaupun kita tidak mengingkari bahwa di antara penghuni asrama ada yang mencuri, namun kasus pencurian di sini tidak ada yang sampai melukai.

   Oke, sekarang mari kita bahas kenyamanan apa saja yang akan kita peroleh di asrama markaz.

       Yang pertama adalah tempat tinggal tanpa dipungut biaya.Tidak perlu diperdebatkan lagi, ada ranjang bunkbed, Ada lemari sendiri-sendiri. Dua hal krusial tersebut tersedia di kamar berisi delapan orang yang orang rumah sendiri belum tentu mendapatkannya.

      Yang kedua adalah makan 3x sehari tanpa biaya. Ini spoiler menunya, pagi dapat roti, kuah adas ( sejenis kacang kacangan) dan teh panas; siang yang pertama datang dapat nasi, yang sedikit terlambat dapat makaroni warna merah, dan ada kuahnya; sedangkan malam hari menunya seperti siang tapi makaroninya tak berwarna alias hambar. Kita hanya tinggal mencari lauknya sendiri. Kebanyakan mereka menjual berbagai macam lauk pauk di depan ruang makan kampus dengan harga yang murah sesuai kantong mahasiswa.

    Yang ketiga adalah sesuatu kebutuhan yang cukup besar pemakaianya yaitu air dan listrik tanpa biaya. Air di asrama markaz semuanya jernih, mau air minum ataupun air kamar mandi. Jarang sekali menjadi keruh seperti di beberapa rumah, oops! Listrik? Jangan ditanya. Bahkan di sini terdapat genset cadangan yang apabila ketika dapat giliran pemadaman akan dinyalakan.

     Itulah hal menggiurkan yang akan kita dapatkan di asrama, terutama bagi pembaca yang sensitif terhadap harga. Interaksi dengan warga negara lain juga bisa menjadi kelebihan tersendiri. Akses ke luar juga mudah karena kita tepat di samping persimpangan jalan besar. Kuliah pun lebih dekat sehingga penulis selalu berangkat berjalan kaki. Lalu apa lagi, ya? Pokoknya banyaklah enaknya. Kekurangan? Tentu saja ada. Namun hal-hal negatif yang penulis temui semuanya bersifat subjektif seperti kurang cocok dengan teman sekamar misalnya. Apapun hal tak menyenangkan yang kita temui tidak akan bisa menjadi alasan pergi ke luar jika kita serius dan komitmen untuk meringankan beban orang tua.

     Kata-kata yang mungkin kurang berkenan di artikel ini bukanlah untuk ditelan bulat-bulat oleh para penghuni rumah, karena ada di antara kita yang harus ada di sana untuk mengurus ummat ataupun berkeluarga. Yang semestinya tercolek adalah mereka yang tak punya urusan apa-apa di luar sana tapi suka mengeluh karena melambungnya harga-harga.

    Dan hal terakhir yang bisa kita miliki untuk berhemat adalah qana’ah sebesar-besarnya, syukur sebanyak-banyaknya.

Oleh: Hudzaifah Ahmad Sidiq

Mahasiswa University of Africa


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama