Bahasa Bumi

Sumber: Pinterest

          Aku pernah membaca kisah tentang Jennifer Pan, seorang gadis cerdas dengan julukan ‘anak emas’ namun tega membunuh orang tuanya lantaran dituntut berprestasi hingga membuatnya depresi. Neil Perry dalam fiksi kuno Dead Poet Society, menghancurkan isi kepalanya dengan pistol revolver milik ayahnya sendiri lantaran mimpinya menjadi aktor berjalan tak sesuai dengan keinginan ayahnya.

      Di kehidupan nyata setiap hari aku membaca tuntutan berkedok ‘demi kebaikanmu’ semacam itu di wajah ayah ibuku. Syukur kadang masih memberi kebebasan untuk beberapa hal. Ayah seorang guru besar di kota kelahiranku, dihormati penduduk setempat. Pernah suatu saat ia lupa membawa STNK motor lantas terkena razia di pusat kota. Namun seorang polisi melepaskan begitu saja lantaran sering menyimak kajian rutin ayah di Masjid Raya. Ayah tetap berusaha meminta untuk diberlakukan sesuai hukum, namun tetap saja bersikeras dipersilahkan lewat. “Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Bukan begitu, Pak Ustaz?” ayahku hanya tertawa kecil berterima kasih.

     Ibu adalah seorang guru yang cerdas, mengusai ilmu waris di luar kepala, dan pendidik moral religius terbaik. Ibu mengajarkan kepadaku sejak dini pandangan-pandangan dasar moral, menggali nilai luhur di dalam diri sendiri agar berperilaku baik karena kesadaran pribadi--jauh hari sebelum guru-guru di sekolah memberi asupan dengan kode etik perilaku formal sesuai konteks nilai karakter di buku kewarganegaraan atau pedoman-pedoman buku agama yang ada.

      Terlepas dari nama besar mereka. Mereka tetaplah penuntut yang menyebalkan.

--

      Kairo di hari-hari akhir musim panas tak ubahnya snare drum musik pop Rebecca Black di lagu Friday: hambar, berkerak, mencapai level baru bagi definisi buruk. Nada-nada sumbang berbait today is Friday, tomorrow it’s Saturday bereskalasi mengiringi angin panas yang menampar sadis dari arah Timur. Mahasiswa asing, warga lokal, penjual tebu, pedagang ayam putar, tukang reparasi, sol sepatu, tukang sayur, keledai tukang sayur: semua meringis menahan sengatan angin pancaroba.

     Sebuah panggilan masuk, menggetarkan telepon genggamku yang sudah pintar. Nun jauh di sana ibu menelpon bertanya kabar. Sebagai anak rantau, kadang timbul rasa gelisah tiap kali menjawab panggilan ibu. Ia bertanya banyak hal yang lebih terlihat pidana bagiku. Tiap satu tanya memompa tekanan statis dalam dada, perlahan penuh, sesak, semakin sesak saat dihujani dengan nasihat yang justru lebih mirip paksaan.

    “Nak. Kamu itu punya kelebihan dibanding dengan saudara-saudara kamu yang lain. Bisa kuliah ke Timur Tengah. Kamu fokus belajar agama tafaqquh fi diin. Andaikan kamu pulang nanti bisa menjadi seperti Ayah. Istiqomah dalam berdakwah. Ibu pasti bahagia.”

        “Iya, Bu. Tugas dakwah kan wajib dan nggak harus jadi kayak Ayah.”

    “Ibu faham, Nak. Ibu cuma pengen mencoba menuntun kamu ke arah yang baik.”

“Menuntun atau menuntut, Bu?”

         Hening, tidak terdengar suara di ujung sana. Beberapa saat kemudian Ibu meminta maaf dan menutup teleponnya. Selalu timbul rasa bersalah di saat seperti ini. Kesal mengapa Ibu harus meminta maaf terlebih dahulu atas maksud baik darinya. Kemudian sadarku merenungi bahwa egoku lah yang seringkali protes, berkedok membela diri.

--

        Aku selalu tertarik menjadi semacam life observer, mengamati kehidupan. Sejak aku menemukan fakta bahwa sebagian orang tak seperti sebagaimana tampaknya, dan begitu banyak orang yang salah dipahami. Di sisi lain, manusia gampang sekali menjatuhkan penilaian, judge minded. Aku senang mempelajari motivasi orang, mengapa ia berperilaku begitu, mengapa ia sepeti ia adanya. Dan sebagai contoh kecil mendapat sudut pandang lain mengapa kedua orang tuaku bertindak seperti itu.

     Afirmasi sayang memang beragam, bahkan dalam pertemanan yang begitu dekat kita bisa saling memaki bukan karena membenci. Ada yang memilih diam karena peduli. Kutemukan bait dalam secarik kertas.

        “Ada yang ingin menjadi baik dengan cara dipahami, ada yang dengan didengarkan, ada yang disetujui, ada yang dicintai, ada yang dilihat, ada yang dikenal banyak orang, ada yang diprioritaskan, ada yang diistimewakan, ada yang menyampaikan kejujuran, ada yang menyembunyikan pendapat, ada yang menahan marah, ada yang terus menemani, ada yang terus memuji, ada yang menggertak, ada yang menasihati, ada yang mengecilkan, ada yang menuntut, ada yang menekan, ada yang mengajari, ada yang mengajak, ada yang mengejek, ada yang bersabar, ada yang mengerti.”

   “Semua usaha jadi baik, kadang buat sekitar tidak merasa baik. Mungkin sudah saatnya luaskan pendengaran, bahwa cara berbahasa setiap orang berbeda. Bumi berisi orang-orang yang saling sayang dengan caranya masing-masing.”

Duduk dulu, jangan lupa jadi manusia.


Oleh: Muhammad Saifurrohman

Mahasiswa International University of Africa Sudan

 

3 Komentar

  1. Butuh waktu dan usaha sebelum akhirnya memahami niat baik yang mungkin caranya menyesakkan dada. Makasih dah nulis ini Pak. Bestt✨🔥

    BalasHapus
  2. Good write :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama