Pesan Penutup

                     Sumber : Pinterest 

          Semilir angin sejuk musim panas membuat gadis yang sedang duduk di salah satu bangku taman di samping jembatan Kirchbrucke itu tersenyum. Jemarinya berpindah dari tuts notebook ke segelas kopi hangat yang asapnya masih mengepul, beraroma pekat. Sembari menyesap hangatnya kopi, matanya berkejaran dengan burung elang yang melintas bebas, menukik di antara pohon-pohon pinus, lalu melesat ke langit. Pagi ini sempurna, sesempurna rasa ikhlasnya untuk merelakan seseorang pergi dari hidupnya; benar-benar pergi. Telinga gadis bernama Hanin itu menangkap suara Jamie Miller dari earphone, lalu otaknya meresapi sepenggal bait pertamanya.

       I remember the day, even wrote down the date, that I fell for you …

 Hanin menghembuskan nafasnya perlahan. Tangannya meletakkan kopinya lalu kembali menekan tuts notebook; merangkai sebuah pesan penutup pada awal Juni.
_
Halo, Ki.
        Seperti apa yang diutarakan oleh Jamie, agaknya aku pun juga seperti itu. Aku ingat bagaimana kita bertemu pertama kali, 4 tahun yang lalu. Itu adalah pertama kalinya divisi kita, Divisi Media dan Teknologi, berkumpul guna membahas program kerja ke depannya. Kamu duduk di ujung meja, menjelaskan apa-apa saja jobdesk kita. Saat itu, sama sekali tidak terbayang bahwa ujung cerita tentang aku dan kamu tidak sekadar tim satu divisi, tapi lebih dari itu.

        Bulan demi bulan terlewati. Semakin aku mengenalmu, semakin aku menemukan kecocokan denganmu sebagai teman organisasi. Well, I am ambitious as good as you. Beberapa kali lembur bersama, begadang, tukar pikiran melalui pesan atau pun telepon. Oh, ingatkah kamu saat kita tidak tidur hanya untuk menuntaskan tampilan website organisasi waktu itu? Haha. Aku ingat betapa sat set-nya kita dalam bekerja bersama. Dan, mestinya kamu sudah tahu, aku senang bisa bertemu dengan teman kerja sebaik kamu di tempat perantauan ini.

        Hingga akhir tahun 2019, kamu meminta izinku untuk menelepon larut malam. Aku tidak menduga bahwa topik yang akan kita bicarakan malam itu sangat bertolak belakang dengan pembahasan organisasi yang biasanya kita diskusikan bersama. Bermula dari keinginanmu untuk menikah dan berujung ke pengakuan perasaanmu padaku. Percakapan panjang hingga dini hari. Masih terekam baik di memoriku, bagaimana udara subuh menyentuh kulitku, masuk ke tulang rusukku, membuat sesak di sana. Haru, bahagia, dan banyak emosi lain yang mengumpul menjadi satu. Aku tidak bisa mendeskripsikan perasaan saat itu dengan baik, karena sejujurnya aku masih gemetar saat menulis ini, mengenang kenangan lama, membuat pipiku banjir dan sesenggukan. Ah, benar. Selemah itu aku jika berhadapan dengan segala sesuatu tentangmu.

        Waktu berlalu begitu cepat. Bagaimana kita pulang ke tanah air, melangsungkan akad, menyelenggarakan resepsi, dan kembali lagi untuk menggenapkan studi kita di sini. Chalet yang kita sewa per tahun merupakan chalet sederhana. Tak beda jauh dari chalet atau rumah kayu Swiss lainnya, selain semua bangunan dibuat dari material kayu, di depan balkon terdapat tiga kaitan pot bunga yang nantinya bisa kita kaitkan bunga di sana ketika musim panas seperti sekarang. Bedanya, balkon chalet kita langsung menghadap Motterhorn, salah satu gunung dengan salju abadi di Swiss.

        Aku ingat pertama kali kamu memasakkanku nasi goreng teri dengan tempelan sticky note bertuliskan, “Kalau kurang sedap, jangan lupa tambahkan garam”. Aku tersenyum membacanya dan melemparkan pertanyaan spontan padamu, “Memangnya ada korelasi antara rasa sedap dan garam, Ki?”. Kamu menoleh ke arahku dan menjawab, “Entah. Kata Papa gitu”. Lalu kita tertawa bersama sembari menyuap nasi goreng dan mencoba resep ‘garam’ dari papamu.

        Kamu ingat tidak dengan usus krispi pertama yang kamu rasakan seumur hidup, Ki? Iya, usus krispi yang aku bawa pulang ke chalet kita, oleh-oleh dari teman kampus yang baru saja kembali dari Indonesia. Awalnya keningmu berkerut, bertanya apakah enak rasa usus krispi? Lalu setelah kamu mencoba dengan gigitan pertama, kamu tidak berhenti makan. Usus krispi itu ternyata Uki Approved. Dulu aku berniat akan membawamu ke penjual es tebu di mana snack yang disajikan adalah usus krispi, saat kita sudah di Indonesia nanti. Tapi, dengan keadaan kita kini, niatan itu hanya akan menjadi wacana, kan? Hehe.

        Kita terkadang menghabiskan malam dengan makan di luar, mencicipi makanan-makanan di tempat makan yang belum pernah kita jelajahi sebelumnya, lalu berjalan pulang sambil bercerita dan bergenggaman. Aku senang saat kamu berbicara panjang lebar tentang hari yang kamu lewati, aku senang saat kamu menyebutkan rencana-rencanamu ke depan dan aku ada di dalamnya, aku senang saat kita berandai-andai bersama seperti bagaimana jika kita tinggal di kota Yakutsk, kota terdingin di dunia, dan aku juga senang saat kamu berceloteh tentang mimpi-mimpimu tentang aku, tentang kita.

        Suatu waktu, kita melihat paman pemilik rumah sedang bermain bersama tiga ekor anak kucing di depan chalet kita. Aku masih terbayang binarnya matamu melihat bayi-bayi kucing itu, lembutnya tanganmu mengelus mereka, sampai bahagianya kamu saat ikut bermain-main dengan tiga bayi itu. Ah, kucing-kucing itu sekarang di mana ya? Sudah wafatkah? Entah. Aku tidak pernah melihat mereka lagi.

        Pada pertengahan Maret dua tahun lalu, untuk pertama kalinya, aku menemukan sisimu yang posesif dan protektif. Ketika itu, aku pulang ke chalet hampir malam lalu mengabarkan bahwa Kak Bayu, ketua organisasi perhimpunan pelajar di sini, mengajakku bergabung sebagai koordinator divisi media di periode selanjutnya. Aku pikir ini kabar baik sebab setelah satu setengah tahun vakum, akhirnya aku bisa kembali berkhidmat untuk umat. Tapi, responmu justru sebaliknya. Kamu menentang keras. Namun, karena kamu tidak memberiku alasan dengan jelas, aku memutuskan untuk tetap mengambil amanah itu.

        Dan semuanya berantakan. Aku yang sering menghadiri kegiatan di luar rumah, jarang memegang ponsel, dan hanya sesekali mengabarimu, membuatmu melakukan hal yang menurutku sangat keliru; selingkuh.

       Tepat satu Juni, aku mengetahui fakta itu. Meski kamu menyangkal bahwa itu bukanlah bentuk perselingkuhan, tapi perbuatanmu menunjukkan semuanya. Kamu bertukar pesan, melakukan panggilan video, hingga jalan berdua. Tidak perlu aku utarakan detailnya di sini. Aku tidak ingin mengungkit sakit hati dan luka.

        Selama bulan Juni sampai Agustus, aku struggling dengan depresiku. Berusaha melawan keinginan bunuh diri, mengikuti jadwal konseling dengan psikolog secara teratur, hingga kembali menemukan diriku sendiri yang tersesat entah di mana. Aku pikir aku sanggup bertahan dengan semua itu dan tetap di sampingmu. Tapi, bisakah kamu mengajarkanku, bagaimana bertahan dengan pasangan yang tangannya pernah menggenggam orang lain? Bertahan dengan pasangan yang mengirim kalimat kasih dan sayang kepada orang lain? Bertahan dengan kebohongan-kebohongan beserta komitmen yang dicacati? Karena aku tak bisa.

 Benar kata orang bahwa mendapatkan lebih mudah daripada mempertahankan. Itu terjadi di kita, kan?

        Surat cerai yang resmi dikeluarkan setelah hampir setengah tahun lamanya, membuatku tidak memiliki alasan lagi untuk masih tinggal bersamamu. Tahun 2021 adalah tahun terberat untukku. Satu tahun lagi kita menyelesaikan studi di kota Zermatt ini, tapi ternyata kita tidak bisa mengutuhkan studi di sini dengan husnulkhatimah. Selama bulan-bulan akhir 2021, aku berupaya keras untuk menjalani kehidupan satu kota denganmu, dengan biasa saja dan sewajarnya. Mendengar namamu diucapkan oleh orang lain, melihatmu sekilas di koridor kampus, atau berpapasan denganmu di jalan. Aku berupaya sangat keras.

        Semua upaya itu buyar begitu saja dengan satu pesan singkat darimu di penghujung Mei tahun ini. Akhir musim semi, ketika Gorner Gorge sedang indah-indahnya. Air terjunnya mengalirkan air jernih sampai kota. Riak air yang tenang, hawa musim panas yang mulai tercium, berpadu dengan bunga-bunga yang bermekaran, sempurna. Tapi, tidak dengan hatiku. Satu pesan ajakan bertemu olehmu, membuat sesak di dada, air mata yang terpendam, rindu, dan juga sayang yang masih ada, memasuki klimaksnya emosi. Bodohnya, aku iyakan juga ajakan itu. Entah sebagai pembuktian bahwa aku sudah baik-baik saja tanpa kamu, atau ini hanya kamuflase rindu.

        Malam kemarin, kita akhirnya bertemu. Setelah sekian lama, setelah sekian drama. Seperti perkiraan, kita masih satu frekuensi. Obrolan kita masih terpaut satu sama lain. Cerita-cerita kita pun masih sama-sama bisa dipahami. Kita habiskan malam dengan kisah-kisah teman satu apartemen, memakan makanan kesukaan, hingga bermain game bersama. Subuh tadi, saat kita berpisah. Aku mengelus pundakmu sepanjang cable car menuju stasiun. Pundak yang kuat, namun tetap terlihat rapuh di mataku, seperti waktu dulu. Pundak seseorang yang mengemban beban harapan lebih di atasnya, dari keluarga, atau dari orang-orang sekitar. Seperti dulu.

         Menjelang pemberhentian terakhir, aku elus pundakmu sekali lagi sembari berucap, “Ki, kalau ada kabar apa-apa, call aja, ya”. Kabar pernikahanmu, kabar bahagia dan duka dari keluargamu, kabar apapun itu. Karena sampai kapan pun, aku tetap temanmu. Tambahku dalan hati. Kamu mengangguk. Kita turun dari cable car dan berpisah. Benar-benar berpisah. Karena sebenarnya, sejak mata kita berselaras pandang dini hari tadi, aku sadar bahwa ada satu hal yang berubah dari kita; perasaan. Jadi, mari kita tutup lembaran Marzuki dan Hanindita sampai di sini, ya. Selamat tinggal.

        Hanin menghapus bekas air mata di pipinya. Ia mematikan layar notebook-nya lalu menyimpan notebook itu di dalam totebag kesayangannya. Gadis itu bangkit dari duduknya. Meraih kopi yang tersisa setengah, lalu berpamitan dengan Motterhorn yang terlihat gagah dari kejauhan. Sayup-sayup terdengar suara Tulus dari earphone yang menyumpal telinganya.

 Kau melanjutkan perjalananmu, ku melanjutkan perjalananku

                                 TAMAT

Oleh: Rayhana Syitaa'


1 Komentar

  1. It must be part of hundreds pages of a novel.
    Where can I read the rest of it?

    BalasHapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama