Meraba Paradigma Anak Muda

 Sumber : islampos.com

       Masa remaja hingga usia muda dianggap sebagai momen terindah dalam fase hidup sebagian orang. Pada masa ini, seseorang memiliki energi yang penuh untuk melakukan apapun yang disukainya. Masa remaja atau yang biasa disebut masa muda adalah masa yang paling gemilang, hasrat mereka bersinar tiada tanding. Lantas benarkah masa remaja itu seperti yang kita inginkan, penuh gairah dan dimana untuk bersuka ria. Atau apakah remaja tidak serta merta akan menghadapi masalah berat dan keputusan yang akan mengubah hidupnya.

       Sesuatu yang terjadi dalam beberapa hari, kadang bahkan dalam sehari, bisa mengubah keselurahan hidup seseorang, Beberapa remaja ada yang memiliki hobi membaca, ada pula yang tidak. Hal itu dikembalikan lagi kepada pribadi masing-masing. Tetapi dengan membaca kita bisa mengetuk jendela dunia, apa yang ada di dalamnya bisa kita pelajari atau anggap dengan membaca kita sedang bertualang di antara kata dan kalimat. Membosankan atau tidak? Tergantung mereka menempatkan sudut pandang dan persepsi masing-masing.

      Cara pandang kita tidak selalu tepat, bisa saja salah dan hal tersebut menjadi sebuah batasan atau keterbatasan. Apabila dalam pandangan kita tidak yakin dalam mengerjakan sesuatu, tentu saja akan membuat kita berpikir negatif dan tidak bisa melakukannya. Berbeda lagi dengan cara kita melihat diri kita sendiri, kamu percaya bahwa kamu bisa dan kamu cerdas. Keyakinan dan pandangan itu akan membantu kita untuk berusaha. Remaja memiliki persepsi atau paradigma yang berbeda-beda dalam menjalani kesehariannya. Akan banyak timbul pertanyaan-pertanyaan didalam kepalanya.

      Paradigma dalam disiplin ilmu adalah cara pandang orang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir, bersikap, dan bertingkah laku. Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan praktik yang diterapkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas yang sama, khususnya, dalam disiplin ilmu (intelektual).

    Kata paradigma sendiri berasal dari abad pertengahan di Inggris yang merupakan kata serapan dari Bahasa latin pada tahun 1483 yaitu paradigma yang berarti suatu model atau pola; bahasa Yunani paradeigma yang berarti untuk "membandingkan", "bersebelahan" (para) dan memperlihatkan (deik). Steven Covey, dalam bukunya "7 Habits Of Highly Effective People" mendefinisikan paradigma sebagai cara kita memandang sesuatu: pandangan kita, kerangka berfikir kita atau keyakinan kita. Paradigma adalah seperti kacamata. Steven Covey merangkum bahwa ada 3 paradigma pada umumnya: paradigma tentang diri sendiri, paradigma tentang orang lain dan paradigma tentang kehidupan. 

       Dilansir dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), paradigma adalah model dalam teori ilmu pengetahuan. Tidak hanya itu, dalam percakapan sehari-hari istilah paradigma dapat diartikan kerangka berpikir. Karena paradigma adalah model utama, pola atau metode (untuk meraih beberapa jenis tujuan). Sering kali paradigma merupakan sifat yang paling khas atau dasar dari sebuah teori atau cabang ilmu. 

       Masa muda merupakan sebuah fase yang hampir dialami oleh semua manusia yang ada di dunia ini. Fase dimana seseorang sedang berada pada tingkat terkuatnya baik dari segi fisik maupun psikisnya. Menurut pakar Psikolog Sosial sekaligus Sosiolog Amerika Kenneth Keniston, pemuda adalah seseorang yang membangun pribadi mandiri dan menjadi terlibat sosial. Hal tersebut berarti bahwa pada diri pemuda terdapat kesadaran dalam dirinya bahwa dia adalah bagian dari lingkungan sosial sehingga mengharuskan memiliki peran di lingkungan sosial tersebut. Peran pemuda dari masa ke masa selalu menarik untuk dicermati. Bahkan dalam catatan sejarah, pemuda hampir selalu menjadi pembawa perubahan untuk lingkungan sosialnya. Tak jarang beberapa pihak menyebutkan bahwa pemuda itu adalah agent of change (agen perubahan). Bahkan Presiden pertama Indonesia yaitu Ir. Soekarno pernah berkata, “Beri aku seribu orangtua niscaya akan ku cabut Semeru dari akarnya dan beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan ku goncangkan dunia”. Pemuda dianggap dapat membuat perubahan terhadap lingkungan sekitar bahkan terahadap dunia secara signifikan dibanding kaum tua. Perubahan yang dilakukan ini merupakan buah hasil dari pemikiran pemuda yang kritis melalui paradigma yang sistematik atau terarah. 

       Melihat gaya hidup anak muda masa kini memang lebih maju, terbuka dibandingkan dengan jaman dulu. Pola pikir, cara bertindak, dan cara berbicara pun sangat dipengaruhi oleh gaya hidup modern yang tidak lain adalah generalisasi budaya barat itu sendiri. Itu semua adalah sisi positif dari lahirnya budaya maju. Akan tetapi kita tidak lupa bahwa di mana ada sisi positif, maka disitu ada sisi negatif. Begitu juga dalam hal gaya hidup modern. Gaya hidup modern selain memberi nilai-nilai positif, juga mengakibatkan sisi negatif yang tidak kalah bahayanya. Dengan adanya tujuan untuk mengikuti perkembangan jaman sebagai bentuk gaya hidup itu, para remaja ingin menunjukkan bahwa mereka dapat mengikuti apa yang sedang tren dalam menunjang penampilan mereka di muka publik. Oleh karena itu tak jarang para remaja akhirnya mencari jalan pintas yang instan guna memenuhi kebutuhan mereka atas nama modernitas tersebut. Namun yang sekarang menjadi masalah adalah, bahwa pada sejumlah kawula muda, hal yang praktis dan serba cepat ini terkadang juga disalahartikan. Berawal dari gaya hidup yang dilakukan oleh remaja dimana segalanya menjadi lebih instan, dan perkotaan diwarnai dengan kehadiran pusat perbelanjaan yang banyak bermunculan misalnya, kafe dan tempat tongkrongan masa kini.

       Kita sepakat para pemuda yang baik ialah para pemuda yang bukan hanya memakan, merasakan, atau menyantap hasil jasa orang lain. Tapi, pemuda yang baik adalah yang pandai menanam jasa untuk orang lain, untuk umat seribu tahun yang akan datang. Paradigma berpikir pemuda ini biasanya dibentuk dan dipengaruhi oleh apa yang mereka baca, apa yang mereka tonton, dan apa yang mereka dengar.

       Oleh sebab itu untuk merubah paradigma pemuda masa kini agar tidak mudah terjebak dalam zona nyaman, perlu adanya kesadaraan yang dilakukan secara terus-menerus baik dalam pendidikan formal maupun nonformal. Sebab, pendidikan adalah ujung tombak dalam membentuk SDM yang berkualitas. Artinya, seluruh pemuda masa kini harus cerdas dan tetap mengedepankan nilai-nilai religiusnya dalam bersikap dan bertindak. Sehingga memiliki profesionalisme serta mampu menjadi agen pembaharuan di tengah masyarakat dan kehidupan bangsa. Karena pemuda memiliki kekuatan yang luar biasa dalam tatanan kehidupan bangsa dan negara. Selain penyadaran yang dilakukan di sebuah pendidikan, lingkungan juga sangat berpengaruh dalam membentuk paradigma kaum pemuda dengan cara merubah tempat nongkrong pemuda masa kini dengan wahana tempat baca yang memfasilitasi kaum muda dengan buku bacaan dari berbagai literasi. Selain itu, yang sangat penting adalah menanamkan kembali nilai-nilai budaya yang menjadi salah satu warisan dari nenek moyang kita.

Lastu bikhoirikum wassalamualaikum … 

Oleh : Muhammad Azka Azwadi
Mahasiswa University of Africa

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama