Ngaji Kebahagiaan ala Kaum Stoa

    Sumber gambar: instagram @adansajalah

       Jujur saja, saat ini kita semua tengah dilanda kegelisahan yang hebat terkait kondisi Negara Sudan ini kan? Gelisah karena harus disini selama menempuh pendidikan yang kondisi tiap tahun terus memprihatinkan dan sangat tak mungkin untuk pulang ke tanah air dengan kepala kopong, gelisah karena bahan pokok tiap hari makin mencekik, gelisah karena kiriman dari orang tua tak cukup ditambah lagi segan meminta uang lebih dan yang lebih parahnya lagi nggak ada pemasukan sama sekali! Kerjapun tak boleh kalaupun ada ya sembunyi-sembunyi dari petugas imigrasi. Atau bahkan kita jadi gelisah karena banyak orang yang menjadi gelisah, atau malah kita gelisah karena ada aja orang nggak gelisah disaat yang lain pada gelisah dengan keta’banan ini.

        Bagiku gelisah sih memang wajar ya, tapi kalau gara-gara gelisah semua kegiatan-kegiatan kita hilang dan ambyar ya tak bagus juga, masa gara-gara gelisah Muhadharah tak pernah dimasuki? Dars pun sering di-ghosting-i? Yang lebih parah lagi tak kunjung di-muraja’ah-i? chuaksksssss.

       Di zaman yang sangat laju ini sosial media menjadi semakin besar dan cepat, filternya pun semakin berkurang. Banyak informasi yang didapat yang mana itu membawa kita ke peradaban, membawa kita ke kehidupan selanjutnya tapi kita tidak bisa menutup mata bahwa hal ini membawa dampak buruk juga, misal lu buka youtube terus lu nemuin ada anak-anak muda yang udah sukses di usia 20 atau 30 tahun, terus ada konten-konten 100 juta pertama, 100 milliar pertama, habis itu lu nemuin temen-temen yang udah jadi pembicara di seminar ini dan itu, ada yang udah selesai sarjana dan elu masih gini-gini aja, dan ada temen lu yang main crypto, saham, Vtube bahkan sampai ke penjara lagi heheheh, habis itu lu buka instastory, lu nemuin temen-temen yang hunting-hunting di luar negeri seperti Mesir, Turki, atau Amerika bahkan, lahh kita di Sudan ga nemuin yang gituannnn mylovv chuakkksssskkk. 

       Dan mereka bisa terlihat lebih sheetal dari kita dan kita merasa mereka jauh kaya dan beruntung dari kita, terus kita pergi ke kampus dan kita ketemu temen-temen kampus dan disitulah kita mendapati bahwa hidup teman-teman gua jauh lebih enak dari apa yang gua rasain dan itulah efek dari keterbukaan informasi, terus menerus menghadapi situasi seperti ini membuat mindset kita berpikir bahwa “apa yang salah dari hidup kita?’’ kenapa kita begitu tertinggal, kenapa orang lain begitu maju dan gua gini-gini aja, kita bingung kita uring-uringan terjebak dalam lomba lari yang sebenarnya tidak kita butuhkan, berujung jadi iri, iri berujung jadi dengki, akhirnya kita memborong hal-hal negatif ke diri kita, rasa tidak tenang, kebahagiaan yang bersyarat dan lebih sering insecure-an.

       Biasanya kalau sudah begini satu-satunya hal yang dikerjakan cuma sambat. Yessss, sambat memang enak banget. Ia jadi wujud pelampiasan, kegelisahan, kemarahan, kemuakan, ke-jancuk-an dan segala emosi buruk lainnya. Kalau bisa ditilik lebih jauh sambat terlahir dari emosi-emosi yang tak tertahan sebab kita memasang standar hidup yang kita lihat dari orang lain, ekspetasi tinggi dan tidak bisa mengontrol ekspetasi tadi, output dari tidak bisa mengontrol ekspetasi tadi adalah overthinking level seratus, baperan tingkat akut lagi cemas menghadapi hari esok, maka menurutku Filsafat Stoikisme ada sebagai obat!

       Yang gua temuin stoikisme bukanlah aliran kepercayaan, bukan agama, melainkan aliran filsafat yang mengontrol emosi negatif terus meng-amplify kebahagiaan dan rasa syukur yang kita rasakan sederhananya gitu. Kalau kita masuk ke ranah teologi, stoikisme tidak tumpang tindih dengan kepercayaan atau agama manapun termasuk Islam, karna di islam diajarkan yang namanya tawakal, mualaq, dan mubram. so far yang gua temuin antara aliran filsafat stoikisme dan islam itu sendiri tidak bertentangan.

       Jadi apa itu stoikisme? Stoikisme adalah aliran pikiran dari Yunani di zaman pendudukan Romawi dan dibawa oleh Zeno dari citium yg terus berkembang sampai saat ini, ada Senesce si pedagang, Marcus Aurelius sang kaisar dan Epictetus si budak yang mana mereka terus mengembangkan ajaran dari Zeno ini, kalau bisa dibilang stoikisme itu sangat inklusif, bukan sebuah aliran pikiran atau aliran filsafat yang hanya dinikmati oleh kalangan masyarakat tertentu, artinya guru-gurunya pun ada yang kaisar ada yang pedagang, bahkan ada yang budak!

       Tentang pendefenisian stoiskisme cukup abu-abu karena cangkupannya sangat luas, banyak hal dan unsur yang harus dipelajari, tapi kita coba mengkaji stoiskisme dengan cara yg paling sederhana. Jadi stoiskisme mendefenisikan hidup terbagi dalam 2 dimensi; yang pertama dimensi internal dan dimensi eksternal inilah yg dinamakan dikotomi kendali. Nah apa itu dimesi internal? yaitu segala sesuatu yang berada dalam kendali kita secara penuh, kehendak kita, etos belajar kita, komitmen kita atau profesionalitas kita itu semua berada penuh dalam kendali kita sendiri.

       Yang kedua dimensi eksternal yaitu hal-hal yang berada di luar kendali kita yang sama sekali ga bisa kita kendalikan. Contohnya tanggapan orang lain, respon orang lain, kita bisa melakukan sebuah aksi dan orang lain bisa melakukan reaksi atas aksi kita dan itu semua benar-benar diluar kontrol kita, nah masalahnya adalah manusia pada umunya menaruh faktor kebahagiaan, kepuasan itu di faktor eksternal yang mana sebenarnya itu faktor ga bisa dikontrol sama sekali dan di luar kendali kita, pada akhirnya stoiskisme datang untuk menyadarkan kita bahwa faktor kebahagian dan kepuasan bisa lo dishifting, dari dimensi eksternal ke dimensi internal nah itulah yang menjadi fundamental dari ajaran filsafat ini. 

       Misalnya lu seorang penulis lepas di beberapa media online, cerita yang ingin lu tulis, treatment apa yang mau lu pilih, dan gaya bahasa mana yang mau lu pakai, itu semua berada dalam kendali lu, tapi ketika masakan lu tadi sudah terhidang dan orang mengomentari masakan lu, memuji masakan itu, mencaci masakan itu, itu udah benar-benar diluar kendali lu, dan ketika kita menaruh kebahagian dan kepuasan di dimensi eksternal tadi, artinya kita baru bahagia kalau kita mendapati komentar yang bagus misalnya, sangat besar kemungkinan kita nggak akan mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan yg kita hendaki, tapi ketika faktor kebahagian tadi kita taruh di dimensi internal dimana kita bakal bahagia karena film tadi tayang seusai apa yang kita inginkan, bukan apa yang orang lain inginkan.

       Atau contoh lain kita seorang mahasiswa, kepercayaan diri kita, kehendak kita, komitmen kita, dan dedikasi kita kepada kampus itu semua berada dalam kontrol kita ada di dimensi internal kita, tapi keputusan untuk tidak me-minhah-kan UKT, administrasi yang makan umur, dosen yang seenaknya izin tidak masuk padahal 10 menit lagi kelas akan dimulai, tanggapan semua orang di kampus kita ataupun bagaimana penilaian orang tentang diri kita itu semua berada dalam kondisi eksternal kita, dan kita sering merasa ketidakpuasan belajar dikampus adalah ketika kita belajar kita merasa tidak mendapatkan apa yang kita mau dan kita sudah melakukan itu semua, ujungnya kita sering urik-urik-an, kesal, kenapa itu bisa terjadi? karena kita menaruh kebahagian di faktor ekternal tadi yang mana itu di luar kontrol kita, ini tinggal kita ubah saja ke dimensi internal, artinya kita belajar sesuai dengan kehendak kita dan itulah dasar dari sebuah stoikisme.

       Lalu stoikisme juga mengajarkan kita untuk bersikap rasional dan merespons semua hal dengan rasionalitas, artinya ketika kita mau melakukan sebuah sesuatu atau tindakan atau mengucapkan sesuatu kita sudah berpikir bahwa apa sih kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi ketika kita melakukan hal tersebut, jadi ketika kita membayangkan segala kemungkinan baik dan buruk kita jadi lebih siap menerima apapun itu. Misalnya lu punya gebetan dan lu pengen nembak ke kegetan lu, waktu lu mau melakukan itu, kalkulasikan kemungkinan terburuk yang akan terjadi ketika lu nembak gebetan lu selalu kalkulasikan! Oke kalau gua nembak dia kayaknya gua bakal gagal dan apa yang terjadi ketika gua gagal, apakah gua akan sedih? Kalau gua sedih apa yang gua bakal lakuin setelah itu mungkin gua akan mencari orang lain yang cocok dan itu semua lu simulasikan sampai ke tahap oke gua nembak dan ketika lu nembak dan ternyata lu ditolak, sedih iya kecewa ada tapi itu tak bertahan lama, kenapa? Karena realita yang terjadi itu sesuai dengan ekspetasi lu, karena ekspetasi lu tadi bakal ditolak, tapi ketika lu diterima, uuuhhhh rasa kebahagiannya ter-amplyfy cuy, lebih bahagia dari pada lu mengekspetasikan bakal ditolak. Jadi selalu lakukan yang terbaik dan bersiap untuk hal yang terburuk.

       Soal mentalitas yang haus akan pembuktian haus akan validasi itu terus menerus tumbuh di generasi sekarang, seakan-akan hidup ini ya soal bagaimana kita diakui orang dan bagaimana kita dilihat orang, dan menurut gua stoikisme adalah obat yang paling manjur untuk menghadapi keambyaran di era ini, dan itulah yang sering gua rasain, gua sekarang nggak pernah terganggu dengan apapun pencapaian orang lain dan gua nggak pernah merasa gua harus melakukan pembuktian apapun ke orang lain dan gua benar-benar gak masalah dinggap sebagai orang yang gagal misalnya, dianggap sampah oleh orang lain, karena itu berada diluar kontrol gua, lu benci sama gua ya sudah, lu suka sama gua ya Alhamdulillah....

       Karena stoikisme membantu gua menciptakan kebahagiaan dan ketenangan gua sendiri, sekarang gua baru sadar bahwa rasa bahagia tenang itu bukan terletak pada seberapa tinggi sebuah pencapaian tapi seberapa rasional sebuah harapan, misal gua berharap Sudan baik-baik saja tapi yang tejadi malah tidak baik-baik saja itu malah kecewa, tapi ketika gua berharap sudan tidak baik-baik saja dan yang gua dapati memang tidak baik-baik saja gua bakal happy, ya setidaknya ekspetasi gua tadi segaris dengan realita yang ada.

       Jadi stoikisme itu bukan membunuh keinginan-keinginan lu bukan menbunuh ambisi lu, tapi stoiskisme membantu untuk mendefenisikan apasih sebenarnya yang lu mau, apasih yang mau lu kejar, apasih sebenarnya yang mau lu capai dan membuang semua distraksi-distraksi yang selama ini nggak penting. Dan stoikisme itu bukan nihilism-nya Nietzshe bukan pesimistis jadi bagi gua stoikisme lebih ke rasionalitas netralitas.

       Pesan gua kepada temen-temen semua selalu lakukan yang terbaik bagi lu bukan orang lain dan bersiap untuk hal yang terburuk. Mari rayakan hidup ini dengan tenang, damai, bahagia tanpa syarat ala kaum Stoa!!!!!


Oleh: Abdul Aziz (Terobsesi jadi koki di White House USA)


Mahasiswa University of Africa


1 Komentar

  1. Tulisannya menarik, tapi editor tolong diperbaiki lagi ya, masih ada salah penulisan, penggunaan kata ganti yang tidak selaras

    BalasHapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama