Ketika Kita Bertemu

  Sumber: cewekbangetgrid.id
 

       Dalam mushola dakhili, dengan sedikit angin sepoi-sepoi. Tidak dingin juga tidak panas. Bau pengap itu sudah pasti. Ditemani oleh orang-orang Afrika yang masih bercengkrama yang gak ku ketahui maknanya. Ya begitulah. Aku berada diujung mushola. Tengah rebahan santuy. Sambil terus menatap layar handphone dan sedikit bercengkrama dengan diriku sendiri. 

       Akhir-akhir ini aku sedang bingung dengan apa yang ku alami. Kadang kala aku ingin menangis. Tapi tak tau sebabnya. Dan yang lebih parah itu hanya keinginan tak terwujudkan. Aku tak berhasil menangis. Sudahlah, tanpa perasaan lega sedikitpun aku hanya menatap kosong mushola yang tak lebih lebar dari dari rumahku. Berpikir dan akhirnya ia datang membangunkan sisiku yang lain. 

       “Ai, apa yang sebenarnya yang kau rasakan” Ia bertanya seraya duduk disampingku. Menatap tajam diriku yang lain. 

       “Gak tau, Nun. Aku hanya sedang merasakan kehampaan yang mendalam. Kadangkala aku Ingin berteriak sekeras-kerasnya. Kadang kala pula aku ingin menangis. Aku merasakan memiliki satu hal masalah yang belum aku selesaikan saat ini tapi aku tak mengerti.” Aku menjelaskan sambil terus menundukan pandangan dari tatapan tajamnya. 

       “Coba kau ingat-ingat apa yang sudah kau lakukan seharian ini?” Ia mengajakku untuk berpikir ria. 

       “Kau tau itu, Nun. Bangun sholat, kuliah, rapat, dars dan tidur. Seperti itu saja kegiatanku. Gak ada yang istimewa dengan hari-hari lainnya. Ehm, apa mungkin aku punya permasalahan dengan seseorang ya?” Aku balik bertanya kepadanya. Yang ditanya masih menatap tajam ke arahku. 

       “Itu sih jelas tidak. Semua permasalahan mu hanya ada pada dirimu. Wahai Ainun!” Sosokku yang lain menimpal. Kali ini terkumpul tiga Ainun. 

       “Kau betul In. Masalahnya hanya didalam diri kita.” Aku jelas membenarkan apa yang dikatakan In. Karena itulah kenyatannya. Aku selalu menghindar dari orang lain agaknya tak mungkin jika aku memiliki masalah dengan orang lain. Akhirnya aku mulai kesal dengan permasalahan ini. Ku ambil posisi tidur terlentang menatap langit-langit mushola. Memejamkan mata. Berpikir dan berpikir. Kami bertiga terdiam. Nun masih dengan posisi duduk silangnya sambil menatapku tajam dan In sudah duduk selonjoran sambil bersandar ditembok mushola. 

        Ya beginilah aku, selalu mengumpulkan sosok-sosokku yang lain. Mengajak mereka berdiskusi. Kadangkala aku menemukan jawaban dari permasalahanku. Kadangkala pula aku terpentok di jalan buntu. Memutar balik arah dan kembali lagi bertemu di jalan buntu. 

       “Ah, sudahlah. Aku capek. Hei Ai, Nun! Apa kalian tidak lapar? Ayoklah kita makan dulu.” Si In selalu saja seperti itu. Mudah lapar ketika berpikir, “-dan kau, Ai. Ngapain juga kau terus memanggilku kesini. Pertanyaannmu selalu sama. Aku kenapa dan kenapa? Tidakkah kau bisa memberikan pertanyaan lain selain kenapa? Misalnya siapa yang kau cintai? Itu akan lebih mudah dijawab bukan?” Si In mulai kesal. Sambil terus menggerakan kakinya petanda ia mulai capek. 

        “Hai, In. Pertanyaan itu memerlukan jawaban. Sementara pertanyaan tentang siapa yang Ai sukai jelas saja kita semua mengetahuinya. Karena kita satu kesatuan. Hahaha. Kalau jantung kita mulai berdetak cepat pun secara bersamaan kita semua akan tersipu malu.” Nun selalu saja bisa menenangkan si In. Agar ia mau diajak berdiskusi. 

       “HOI! Sudahlah jangan membahas hal itu. Kalian seolah-oalah tau siapa yang aku sukai padahal aku sendiri tak mengetahuinya tuh.” Aku sedikit mengelak perkataan mereka. Bohong memang kalau aku berkata tak mengetahuinya. 

       “Bukan gak tau kau, Ai. Kau saja yang tak mengakuinya sampai kapan kau akan berbohong dengan dirimu sendiri?” Nun selalu benar dalam berbicara. Perkatanya selalu saja membuatku terpojokkan. Tapi, itulah dia. Jika tak ada Nun mungkin aku akan terus menemukan jalan buntu. 

       “Oke, aku akui itu. Lalu sekarang aku sedang kenapa?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Agar segera terselesaikan permasalahanku ini. 

       “Kau jelas tak kenapa-napa wahai tuan putri. Nan cantik jelita. Kau hanya perlu benahi hatimu. Kembalilah pada fitrah manusia, yaitu beribadah. Sudahlah sepertinya ini tak akan terselasaikan kecuali si Ai memperbaiki hubungannya dengan Rabbnya” Si In datang paling akhir dan pergi paling awal. Sudahlah aku tak akan menariknya kembali. Ia memang selalu keras kepala. 

       “Hmm, Ai. Seperti yang dikatakan si In. Coba kau perhatikan. Bagaimana hubunganmu dengan Sang pencipta?” Nun mulai bertanya tentang hal ini. Agaknya memang benar masalahku berada disitu. 

       “Aku salat, tilawah dan mengaji, Nun. Al-ma’tsurat takku lupakan. Apa lagi yang salah? Salat duha aku rutin.” Aku mencoba membela diri. 

       “Bukan soal kuantitas. Tapi soal kualitas. Apakah kau salat hanya untuk menggugurkan kewajiban? Atau kau salat dengan niat yang lain? Sudahkah kamu salat dengan niat mendapatkan ridho-Nya?” Pertanyaan bertubi-tubi itu menyerang tepat didadaku. Memberikan tusukan yang teramat dalam. Aku terdiam sejenak. 

       “Apakah aku belum benar dalam salatku?” Aku kembali bertanya. 

       “Yang tau hanya dirimu sendiri, Ai, dan karena aku adalah kamu, aku juga masih menanyakan hal itu. Setidaknya kita lakukan yang lebih baik lagi ya. Solatlah dengan tenang. Mengajilah dengan tartil. Selipkan hatimu disana.”

       Setelah berkata seperti itu, Nun pergi meninggalkanku seorang diri di mushola dakhili. Benar, apa yang dikatakan mereka. Mungkin saja seluruh keresahanku berawal dari kurang dekatnya aku dengan-Nya. Aku terlalu sibuk dengan dunia. Ingin memberikan yang terbaik pada dunia. Tapi, lupa memberikan yang terbaik pada sang Pemilik Diri. 

       Aku segera bangkit, mengambil air wudhu. Solat dua rakaat dan memohon ampun. Dalam sunyinya malam kini aku menyadari. Tak perlu bersusah payah mencari solusi. Cukup bercerita dengan sang Pemberi Solusi. Bukankah kita hanya diperintahkan sabar dan solat ketika dipenuhi permasalahan hidup? 


Oleh: Kuni Abida Kamila

Mahasiswa international university of Africa


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama