Ga Semua Orang Harus Baca Buku Kok!

 


Semua orang memang terlahir dengan latar yang berbeda-beda. Bahkan dari setiap orang yang terlahir di dunia ini memiliki cara pandang dalam menghadapi kehidupan yang berbeda-beda.Dan saya yakin, setiap orang punya pengalaman masing-masing. Jadi, dari sini kita paling tidak bisa menalar bahwa setip orang memiliki nilai serta filsafat dalam menjalani kehidupan. Adanya warna dalam kehidupan inilah yang menjadikan kita bisa belajar satu sama lain.

Bagi sebagian orang akan berkata bahwa buku merupakan jendela dari keilmuan. Namun, apakah keberadaan buku selamanya menjadi urgensi bagi setiap orang? Sebagai permisalan, dimana kita sebagai warga Indonesia yang hidup dalam masyarakat. Coba lontarkan pertanyaan kepada petani yang hampir setiap hari menghabiskan waktunya di sawah. Lalu kita coba menawarkan sebuah buku untuk dibaca olehnya. Kemungkinan besar petani tersebut lebih memilih untuk fokus pada kegiatan bercocok tanamnya di sawah ketimbang membaca buku yang kita sodorkan.

Dari sini kita tau, bahwasanya membaca buku bukanlah suatu urgensi bagi setiap orang SECARA GENERAL. Saya di sini bukan memprovokasi ataupun berdiri mewakili aspirasi kaum orang yang tidak baca buku. Ataupun pembelaan bagi orang yang tidak suka baca buku. Namun, di sini saya hanya ingin menyampaikan bahwa segala pekerjaan ataupun kegiatan akan lebih nikmat jika dilakukan dengan hati ataupun dengan kesadaran diri.

Sebagai contoh misalnya, seorang atlet badminton The Minnions sebagai seorang atlet professional. Dimana kompetisi merupakan bagaian dari hidupannya, akan lebih interest untuk memperbanyak latihan ketimbang membaca buku yang hanya menyuguhkan teori. Masa iya sih, pengen jadi juara dunia hanya belajar teorinya saja tanpa praktek di lapangan secara langsung.

Jadi, jangan salah tangkap ya...Sebagai seorang yang dewasa pastinya akan lebih paham tentang kebutuhan dirinya sendiri. Mana yang prioritas dan mana yang minoritas. Kalau misalnya membaca memang kebutuhan kita, karena kita seorang akademisi maka membaca mungkin salah satu jembatan bagi anda untuk menunjang kegiatan anda.Atau mungkin anda punya teori lain selain membaca buku yang juga merupakan bagian dari eksperimen anda.Dan kembali saya lemparkan keputusan pada diri anda. Perlukah membaca buku?

Kalau kata dokter Ryu Hassan, yang mana selama hidupnya sudah dicurahkan untuk membaca mendekati 15 ribu buku,keinginan seseorang untuk membaca buku karena ada dorongan dari dirinya melalui kebiasaannya. Nah, kalo direlasikan lagi bahwa kebiasaan itu kata Daniel Goelman mengatakan bahwa 90% emosi mengambil peran penting dalam kehidupan seseorang. Kemudian jika buah dari tindakannya itu dirasa rasional, maka nantinya seseorang dalam melakukan pekerjaannya basisnya adalah consciousness atau kesadaran.

Sudah bisa dicerna kan? Jadi sekarang anda bisa berkaca pada diri anda sendiri. Seberapa pentingkah membaca buku dalam mempengaruhi kehidupan anda? Jika, dirasa membaca itu penting dan mampu mencerahkan kehidupan anda maka silahkan ambil keputusan anda sendiri. Namun, jika selain membaca ada urgensi yang lain maka anda juga berhak menentukan keputusannya sendiri.

 

Oleh Falah Aziz

Mahasiswa Sastra Arab, International University of Africa

1 Komentar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama