Self Healing with Islam

 

Sumber: Netralnews.com

Zaman terus maju dan berkembang, memaksa manusia untuk beradaptasi dengan segala permasalahan baik secara sosial, ekonomi, dan politik. Tak jarang banyak manusia modern yang merasa terbebani dengan masalah-masalah yang dihadapi karena realita yang mereka jalani tak sesuai dengan ekspetasi yang dimiliki. Terlebih lagi hal ini berdampak pada kesehatan mental mereka. 

Saat ini kita hidup di dalam lingkungan di mana masih adanya keterbatasan pemahaman masyarakat mengenai kesehatan mental.  Masih sering ditemui dalam tradisi dan budaya kita yang menghubungkan kasus gangguan jiwa dengan kepercayaan masyarakat, yaitu mayoritas masyarakat percaya bahwa penyakit mental disebabkan oleh setan atau terkait dengan roh jahat. Pemikiran ini menyebabkan sebagian masyarakat tidak mau terbuka dengan penjelasan-penjelasan yang lebih ilmiah dan memilih untuk mengenyampingkan perawatan medis dan psikiatris terhadap gangguan jiwa. 

Gangguan mental dapat dikatakan sebagai perilaku abnormal atau perilaku yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku di masyarakat. Perilaku ini dapat berupa pikiran, perasaan maupun tindakan. Gangguan ini menyebabkan ketidakseimbangan dalam jiwa sehingga dapat menciptakan kemarahan, kegelisahan, kesedihan, dan gejala-gejala lainnya yang berhubungan dengan kejiwaan. 

Mental yang tidak sehat akan mempengaruhi pola tingkah dan perilaku seseorang sehingga akan memiliki dampak yang besar dalam kehidupan mereka. Efek dari gangguan mental ini adalah seseorang akan merasa frustrasi, depresi, hingga bisa sampai berujung dengan menyakiti diri sendiri dan memilih untuk bunuh diri. 

Seringkali masalah gangguan mental dikaitkan dengan iman seseorang. Masyarakat menilai bahwa orang yang mempunyai gangguan kesehatan mental hanya dimiliki oleh orang-orang yang kurang iman atau orang-orang yang kurang memahami agamanya. Keadaan iman seseorang itu naik turun, timbul dan tenggelam yang artinya perasaan frustasi, depresi hingga bunuh diri itu dapat menjangkit siapapun, baik orang yang beragama ataupun tidak, baik orang yang religius orang yang tidak religius.

Rasulullah Muhammad Saw. dalam Tarikh Ath-Thabari pernah disebutkan di dalamnya, bahwa Beliau pernah muncul keinginan untuk bunuh diri dengan cara melompat dari tebing karena lantaran Allah lama tidak menurunkan wahyu-Nya kurang lebih sekitar 6 bulan bahkan ada yang menyebutkan 3 tahun. Karena kejadian ini Rasulullah akhirnya berpikir jika Allah tidak lagi meridai dirinya sebagai seorang Rasul, beliau merasa bahwa Allah telah meninggalkan dia. Maka putus asalah Rasulullah, dan saat Rasulullah merasa putus asa, Allah menurunkan Surah Ad-Duha.

Surah Ad-Duha sendiri memiliki kekuatan untuk menghilangkan gangguan kesehatan mental yang menyebabkan rasa sedih, frustasi, dan depresi. Ayat demi ayat dalam Surah Ad-Duha dapat membuat seseorang menemukan kedamaian dan harapan lagi.

Dalam ayat pertama “Wad duhaa”, demi waktu Dhuha. Ini adalah hal pertama yang perlu didengar oleh seseorang yang merasa terpuruk. Bangunlah. Lihatlah sinar matahari. Segala sesuatu dalam hidup tidak semuanya suram.

Ayat ke dua “Wal laili idza sajaa”, Dan demi malam yang diselimuti kegelapan. Hal ini sebagai pengingat bagi kita bahwa Allah menciptakan malam untuk kita beristirahat. Karena seringkali Ketika kita merasa depresi, pola tidur kita berantakan, kita tidak dapat tidur di malam hari. Dan ayat ini mengingatkan kita untuk menggunakan malam sebagai waktu beristirahat untuk meringankan kesusahan kita.

Ayat ketiga “Ma wad da-aka rabbuka wa ma qaala”, Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak membenci kamu. Umumnya orang yang merasa depresi disebabkan karena berputus asa dari rahmat Allah Swt., merasa tidak ada yang memedulikan keadaan mereka. Padahal Allah, Tuhan kita selalu ada di sisi kita dan tidak pernah meninggalkan kita. Allah selalu ada buat kita dan selalu siap untuk membantu kita. Maka ketika kita punya masalah segeralah lari ke Allah. 

Ayat ke empat “Walal-aakhiratu Khairul laka minal uula”, dan akhirat lebih baik bagimu daripada (kehidupan) yang pertama. Saat sedang depresi orang-orang sering berpikir “Apakah hidup saya selalu begini? Apakah hidup saya akan menjadi lebih baik?” Ayat ini adalah jawaban yang sempurna, mengatakan bahwa kehidupan akhirat merupakan tempat yang terbaik. Kesusahan dan kesedihan kita di dunia hanya sebentar saja karena dunia bersifat sementara. 

Ayat ke lima “Wa la sawfa yu-tiika fatardha”, dan Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau menjadi puas. Ini adalah janji dari Allah bahwa Dia akan memberi kita pahala yang besar berupa surga. Ini adalah hal terbaik yang kita dengar saat kita merasa depresi. Bukankah janji Allah itu pasti?

Dari ayat ke enam dan seterusnya, dalam ayat ini Allah memberi kita alasan untuk mempercayai janji-janji-Nya. Ayat tentang anak yatim dan seseorang yang kekurangan ini berhubungan sebagian besar dengan pikiran kita. Bukankah ada banyak waktu dalam hidup kita ketika kita merasa kesepian, kekurangan, dan merasa tidak memiliki siapa pun. Kita yang seperti seorang anak yatim tanpa adanya orang tua. Saat itu hanya Allah lah satu-satunya yang menjaga kita, yang membimbing kita keluar dari keadaan itu. 

Ketika seseorang merasa depresi mereka akan tenggelam dalam situasi mereka dan merasa bahwa tidak ada seorang pun mungkin berada dalam situasi yang lebih buruk. Islam adalah agama yang sempurna. Selalu menghadirkan solusi bagi setiap masalah. Ada beberapa cara agar agar kita tidak tenggelam dan berlarut-larut dalam keadaan seperti itu. Senantiasa mengingat Allah. Karena hanya dengan mengingat Allah hati bisa tenang, mental bisa sehat. Selalu sibukkan diri dengan belajar ilmu-ilmu Allah, khusunya ilmu tentang tauhid dan akidah agar kita bisa lebih mengenal Allah. Karena bagaimana mungkin kita bisa sayang, kita bisa mengingat Allah ketika kita tidak mengenal Allah. Basahi terus lisan kita dengan kalimat-kalimat tayibah dan kitab-kitab Allah karena hati yang dihuni dengan quran akan terjaga dari bisikan setan ketika mencoba untuk menyesatkan kita menuju langkah-langkah yang buruk. 

Manusia adalah makhluk sosial. Jangan pernah membiasakan untuk menanggung semuanya sendirian. Ceritakan semua masalah kita kepada Allah, Dzat Yang Maha Mendengar sebagai tempat pertama kali kita berkeluh kesah. Lalu carilah orang yang bisa kita percayai dan memiliki kompetensi untuk membantu masalah kita entah itu teman, sahabat, keluarga, psikolog, ustaz, musyrif atau murobbi kita yang memang sudah mengenal diri kita. 

Semoga kita dapat senantiasa mengingat Allah sehingga kesehatan mental kita dapat selalu terjaga dan terjauhkan dari rasa berputus asa dari rahmat Allah yang akan menimbulkan sikap-sikap menyakiti diri sendiri.


Zainab Az Zahra

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah, Jawa Tengah

Peserta Lomba Menulis Opini El-Nilein Minor tema "Kesehatan Mental"


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama