Menilik Kisah Sahabat Ahlush Shuffah

Sumber: Abdi Pranowo - WordPress.com

Ahlus Shuffah merupakan julukan bagi para sahabat yang tinggal di masjid. Menurut Ibnu Manzur, Ash-Shuffah merupakan bangunan yang menyerupai teras (beranda depan rumah) yang luas, panjang, dan tinggi. Disebut Ahlus Shuffah, karena ketika pada zaman Rasulullah Saw, banyak sahabat yang tinggal di shuffah (beranda) masjid. Namun demikian, bukan berarti mereka semuanya tidak memilki tempat tinggal, di antaranya ada para delegasi dari suatu kelompok untuk meyatakan keislamannya kepada Rasulullah, dan ada juga orang Anshar yang sengaja memilih tinggal di shuffah masjid dengan maksud hidup lebih sederhana walaupun mereka memilki rumah.

Para Ahlush Shuffah sendiri mendapat didikan langsung dari Rasulullah Saw., dengan pendidikan yang memadukan antara ilmu, iman, dan amal, Ash-Shuffah melahirkan orang-orang yang pandai dalam masalah keilmuan. Ada banyak sekali para sahabat yang menjadi bagian dari Ahlush Shuffah. Berikut ini akan penulis ‘kenalkan’ beberapa sahabat yang menjadi bagian dari Ahlush Shuffah.

1. Abu Hurairah

Nama aslinya adalah Abdurrahman bin Shakhr Ad-Dausi. Masuk Islam pada tahun ke-7 hijriah, ketika Rasulullah berada di Khaibar. Ia merupakan Ahlush Shuffah tekenal yang tinggal di Ash-Shuffah dan selalu membersamai Rasulullah, hampir tidak pernah berpisah kecuali saat sedang tidur. Kondisi ini berjalan sejak masuk Islam hingga Rasulullah wafat.

Abu Hurairah menjadi sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis, karena banyaknya waktu yang ia lalui bersama Rasuullah Saw. Hal ini diakui oleh Umar bin Khatab bahwa dia berkata, “Hai, Abu Hurairah, engkau adalah orang yang paling lama mendampingi Rasulullah Saw. dibandingkan kami, dan engkau adalah orang yang paling banyak menghafal hadis daripada kami.” (HR. Tirmizi).

Menurut Baqi bin Makhlad, hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah berjumlah 5.374 hadis. Asy-Syafii mengatakan, “Abu Hurairah adalah orang yang paling banyak hafal di antara seluruh perawi hadis pada masanya".

2. Abdullah bin Mas’ud

Abdullah bin Mas’ud merupakan orang keenam yang masuk Islam. Dididik dari kecil oleh Rasulullah dengan Al-Qur’an, sehingga Al-Qur’an yang dibacakan olehnya sangat mirip dengan apa yang diturunkan kepada Rasulullah. Abdullah bin Mas’ud jugalah orang pertama yang membacakan Al-Qur’an dengan sangat lantang di tengah-tengah masyarakat Mekkah setelah Rasulullah.

Abdullah bin Mas’ud dianugerahi oleh Allah bakat membaca Al-Qur’an dan pemahaman yang mendalam tentang arti dan maksud Al-Qur’an. Keistimewaan lainnya, dia juga menjadi salah satu dari empat orang yang Rasulullah perintahkan orang-orang untuk belajar Al-Qur’an kepada mereka, yait; Abdullah bin Mas’ud, Salim Maula, Abu Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab, dan Muadz bin Jabbal. (HR. Bukhari).

3. Sa’ad bin Abi Waqqash

Sa’ad bin Abi Waqqash masuk Islam saat berusia 17 tahun. Merupakan salah satu sahabat yang aktif mengikuti perang, sehingga tercatat pada dirinya sosok yang memiliki keberanian hebat dan iman yang tebal.

Di samping itu, Sa’ad merupakan administratur pemerintahan yang baik. Ketika Sa'ad memimpin wilayah Irak pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, Sa’ad bin Abi Waqqash berhasil membuat Kota Kuffah dan Bashrah menjadi pusat perdagangan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan Islam.

4. Abu Dzar Al-Aghifari

Nama aslinya adalah Jundab bin Junadah, sedangkan Abu Dzar sendiri merupakan nama panggilan setelah anak pertamanya lahir. Dia mempunyai ras Arab dan bersuku Ghifar, itulah sebabnya nama Ghifari tertulis bersama namanya.

Abu Dzar masuk Islam dengan sengaja mendatangi Rasulullah dan mendengarkan ceramah darinya. Setelah memeluk Islam, Abu Dzar kembali kepada keluargnya dan kaumnya agar bisa menceritakan apa saja yang telah dialaminya.

Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, Abu Dzar datang ke Madinah dengan membawa rombongan besar dari suku Ghifar dan Aslam yang telah diislamkannya. Selama di Madinah pula, Abu Dzar tinggal di Ash-Shuffah dan menjadi salah seorang yang melayani Rasulullah dan menyibukkan hidupnya dengan beribadah.

4. Salman Al-Farisi

Salman Al-Farisi merupakan salah satu bagian dari Ahlus Shuffah yang memilki ilmu yang luas. Banyak dari para sahabat yang mengakui keilmuan Salman, di antaranya ada Umar bin Khattab yang ketika ditanya setelah Salman meningal, ia menjawab, “Salman adalah keluarga kami dan kembali kepada kami. Siapa di antara kalian yang mampu menyerupai Lukman Al Hakim, Salman telah diberi ilmu yang pertama dan ilmu yang terakhir. Dia membaca kitab pertama dan kitab terakhir. Dia bagaikan lautan yang tak pernah kering".

Salman meninggal pada tahun 36/37 H. Detik-detik sebelum ia berpulang, barang berharga yang ia miliki hanyalah seikat minyak kesturi yang sejak lama ia titipkan kepada istrinya. Pada hari meninggalnya, ia memerintahkan kepada istrinya agar memercikkan minyak kesturi ke sekitar tempat tidurnya. Setelah itu, dia meninggal dengan tenang bagaikan orang tidur.

Demikianlah sedikit kisah para sahabat yang merupakan bagian dari Ahlush Shuffah. Budi luhur dan perangainya yang selalu menawan sepatutnya menjadi contoh dan teladan. Ini baru sedikit kisah, belum seluruhnya. Semoga kita semua bisa mencontoh dan meneladani mereka semua. Aamiin.

Jika sobat Nileiners punya kisah selain dari sahabat-sahabat di atas, atau yang tahu cerita lain dari sahabat-sahabat di atas, silakan berbagi pengetahuan lewat tulisan dan kirimkan melalui website El-Nilein, ya.

 

Nailul Rohmatul Muwafaqoh

Mahasiswa International University of Africa

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama