Islam dan Kesehatan Mental



Perubahan gaya hidup manusia modern yang serba dinamis dan cepat dewasa ini, akan menuntut adanya kompetisi, rasionalisasi, efektivitas, dan efisiensi di berbagai aspek kehidupan yang mengarah pada kepentingan materiel (
material oriented). Hal ini tentu memberikan dampak positif dan negatif terhadap fisik maupun psikis manusia pada zaman ini seperti: produktivitas, efisiensi, dan keterbukaan informasi yang merupakan dampak positif modernisasi, adapun yang menjadi dampak negatif ialah pada aspek kejiwaan bisa berupa agresivitas, individualitas, emosi yang tidak stabil karena banyaknya tekanan dan persaingan yang tidak sehat.

Hubungan antara agama dan kesehatan mental sudah ada pembahasannya dari zaman dahulu hingga sekarang. Mungkin, dulu manusia hanya berpandangan bahwa suatu penyakit merupakan intervensi makhluk gaib, sedangkan bagi masyarakat modern yang hidup dengan kemajuan teknologi semakin pesat, tentu membawa pemikiran manusia pada keyakinan bahwa suatu penyakit akan terlihat jika ada gejala-gejala biologis saja.

Di awal abad 19, para psikolog mulai menemukan bahwa keadaan psikis dapat memberi pengaruh terhadap fisik, ini dinamakan dengan psikosomatik. Psikis yang terganggu akan menimbulkan reaksi atau efek negatife pada fisik manusia, begitu sebaliknya. Hal ini senada dengan hadis Nabi Muhammad SAW tentang hati, yang jika ia sehat dapat dipastikan sehat pula seluruh tubuh.

Ciri mental yang sehat adalah dia tidak mudah terpengaruh emosi negatif, baik yang datang dari dirinya maupun dari luar atau tidak mudah terganggu stresor (faktor-faktor penyebab stres) karena ia mampu mengendalikan hal tersebut dengan baik. Sebetulnya faktor luar atau yang dinamakan stimulus itu sifatnya netral, respon seseorang seperti sedih, kecewa, marah, takut dan hal lainnya merupakan interpretasi kita saja terhadap hal tersebut yang mana bisa jadi sifatnya subjektif. Begitu pula sebaliknya seperti rasa bahagia, senang, aman itu juga berasal dari interpretasi pemikiran kita.

Kondisi yang stabil (positive feeling) akan mengantarkan pada pikiran yang positif (positive thingking) dalam islam disebut dengan Husnu ad-dzan, di dalam kondisi tersebut seseorang akan melahirkan keputusan yang objektif. Mental yang terganggu akan mudah termakan emosi negatif, dari sanalah akan membuka celah terganggunya fisik seseorang, di dalam kondisi seperti ini sebaiknya tidak mengambil atau memutuskan suatu keputusan, karena kondisi labil (negative feeling) hanya akan melahirkan keputusan yang subjektif.

Kesehatan mental disebut juga Mental Hygiene atau Mental Health, hal ini akan  mengantarkan seseorang pada kedamaian, ketenangan, keharmonisan, keserasian, baik itu terhadap dirinya maupun alam sekitar. Ia cenderung bahagia dan merasa aman dalam kondisi apapun. Ada slogan yang menyebutkan “Innerpeace is a new success”, bagaimana tidak? Seseorang yang menjunjung tinggi materi (dalam hal ini harta, tahta, dan berbagai kesenangan duniawi) ketika semua itu telah didapatkan belum tentu membawa kedamaian, bahkan berapa banyak orang yang hidup kaya raya tapi berujung depresi, frustasi, bukan malah bahagia.

Allah Swt. mempunyai kekasih yang dinamakan Waliyu Allah, jamaknya adalah Auliyau Allah, mereka adalah orang-orang pilihan-Nya yang dianugrahi innerpeace dalam hatinya. Bagaimanapun kondisinya ia tetap Laa khoufun Alaihim wa laa hum yahzanuun, tak pernah takut akan masa depan akan bagaimana dan seperti apa, dan tidak pula bersedih hati atas apa yang telah atau sedang terjadi. Para wali Allah ini adalah manusia seperti kita, yang menjunjung tinggi hakikat penciptaannya di muka bumi. Sungguh karunia yang sangat luar biasa yang tak dapat ditukar atau dibeli dengan apapun.

Sudan terkenal dengan sebutannya negeri seribu darwis, darwis dalam KBBI artinya penganut sufi yang sengaja hidup miskin sebagai jalan untuk mencapai kesempurnaan jiwa. Disana akan banyak ditemui orang yang hidupnya sederhana sekali, tetapi mereka tetap bahagia, dan mereka punya cara tersendiri dalam mendekatkan diri terhadap tuhan-Nya. Jika membahas dunia tasawwuf kita akan menemukan istilah Tazkiyyah An-Nafs atau penyucian diri. Islam merupakan agama solusi, kesulitan apapun yang dihadapi dapat di atasi, yaitu dengan banyak mencari informasi. Tidak sedikit firman Allah Swt. yang menganjurkan manusia agar menggunakan akal yang telah dikaruniakan-Nya dalam hal-hal yang baik dan berguna, jika belum didapati maka tanyakan pada yang ahli (Q.S An-Nahl:43). Semua ketaatan, ibadah, dan hal baik lainnya dalam Islam memberikan efek positif, terhadap pertumbuhan dan perkembangan psikis seseorang.

 

Sumber : islampos.com

Yusi Yuliandini

Mahasiswa STIQ Ar-Rahman

Peserta Lomba Menulis Opini El-nilein Minor tema “Kesehatan mental”

Posting Komentar

0 Comments

Formulir Kontak