Pelecehan Seksual Marak. Akankah Masih Ada Harapan untuk Perempuan?

 


    Akhir-akhir ini berita seputar pelecehan seksual marak menghiasi media massa. Bak kartu domino yang roboh dan merobohkan teman-temannya. Kasus pelecehan seksual, terutama pada perempuan, mendapatkan momen paling eksis di tahun 2021. Kemunculan kasus-kasus yang bertubi dan silih berganti menjadi salah satu fenomena miris di tahun ini.

    Sebut saja mulai dari kasus dosen yang memperkosa mahasiswi di beberapa universitas, perawat yang memperkosa pasien di salah satu RSUD, sopir Grab yang aniaya dan lecehkan penumpang, ayah yang memerkosa anak kandungnya, bahkan kasus yang santer tentang seorang laki-laki pemilik pesantren yang memerkosa puluhan santriwatinya.

    Hal ini dibenarkan oleh data dari Komisi Nasional Perempuan yang menyebutkan bahwa kasus kekerasan seksual meningkat. Terhitung Juni 2021, Komnas Perempuan menerima 2.592 kasus di mana jumlah tersebut melebihi jumlah kasus yang diterima pada 2020 kemarin. 

  Sementara dampak baru dari pandemi adalah pelecehan seksual secara online turut mengalami peningkatan sejalan dengan rutinitas daring selama masa Covid-19. Adanya keterbatasan mobilisasi dalam pelaporan pelecehan juga menjadi salah satu latar belakang bahwa di balik tingginya angka pelecehan, fakta bahwa masih banyak kasus pelecehan yang belum terdaftar juga menjadi masalah.

    Tapi di balik himpunan kasusnya, lantas kenapa perempuan yang kerap menjadi obyek dari suatu pelecehan seksual?

    Tentu hal ini mengundang banyak asumsi dari masyarakat. Dikutip dari beberapa sumber, pelecehan seksual yang kerap menimpa perempuan bisa tumbuh karena persepsi masyarakat yang menganut budaya patriarki yang meletakkan laki-laki memiliki kuasa di atas perempuan, sementara dalam budaya yang berkembang di masyarakat, perempuan merasa bahwa semua laki-laki dengan kuasanya memiliki sifat perlindungan dan kasih sayang. 

 Padahal dalam kenyataannya tidak semuanya demikian. Dan dalam perkembangan revolusi industri yang membawa dampak krisis moral, kuasa laki-laki yang salah ini justru berpotensi digunakan untuk menjadikan perempuan obyek kekerasan, salah satunya pelecehan seksual.

    Asumsi selanjutnya, bahwa perempuan lah yang menjadi penyebab hal itu terjadi. Seperti menggunakan pakaian minim dan menarik yang dapat memancing perhatian laki-laki hingga pelecehan seksual akhirnya terjadi. 

  Akan tetapi, semakin berkembangnya zaman, kasus-kasus seputar pelecehan seksual juga kerap menimpa perempuan yang menutup aurat. Bahkan dalam skala ringan seperti catcalling ataupun sentuhan fisik yang tidak pantas di kendaraan umum. Walaupun Islam telah mewajibkan setiap perempuan untuk menutup aurat dalam rangka ketaatan pada Tuhan, bukan hanya sekedar untuk perlindungan diri dari kekerasan.

    Latar belakang yang lain terkait hal ini adalah faktor lingkungan sosial, pandangan pelaku bahwa perempuan adalah makhluk lemah yang mudah ditaklukkan, hasrat seks yang tidak dapat tersalurkan, adanya penurunan moral, kecanduan konten pornografi, memiliki fantasi seksual yang mendukung kekerasan, dan beberapa faktor lainnya.

    Tak berhenti menjadi obyek yang mendominasi dalam kasus pelecehan seksual, perempuan juga mengalami kendala dalam melapor pelecehan yang dialaminya. Kompas.com merilis artikel yang memuat salah satu ungkapan dari seorang pekerja perempuan yang mengalami pelecehan seksual di ranah kerja ketika ia berusaha melapor kekerasan yang dialaminya pada atasan perusahaan, ia justru mendapat tanggapan bahwa dirinya saja yang tidak memahami firendly gesture (sikap ramah) orang lain.

    "Friendly gesture bagaimana kalau elus-elus paha di bawah meja saat meeting?" kata korban yang mengaku telah mengalami pelecehan seksual sebanyak tiga kali.

    Tak hanya satu kasus. Banyak kasus lain yang menyebabkan keengganan perempuan untuk melapor pelecehan seksual yang dialaminya. Selain sanksi sosial yang didapat yang kerap menyudutkan, sistem hukum di Indonesia bisa dikatakan belum ramah dalam menerima pelaporan pelecehan seksual. Kebanyakan sistem yang berjalan, alih-alih membantu menyelesaikan justru sibuk menyalahkan korban. Selain itu, barang bukti juga menjadi hal yang menghambat banyak pelaporan kasus pelecehan seksual karena kebanyakan terjadi di ranah privat.

    Padahal pelecehan seksual yang dialami perempuan juga memiliki dampak signifikan pada kesehatan jiwa. Komisioner Komnas Perempuan Indonesia, Mariani Amiruddin, mengungkapkan bahwa ia terkejut saat mendatangi rumah sakit jiwa di daerah Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Jawa Tengah di mana banyak perempuan yang mengalami disabilitas mental atau gangguan jiwa akibat kekerasan seksual, kekerasan dalam berpacaran, hubungan seksual ayah ke anak, dan pencabulan.  

Pada beberapa kasus, korban pelecehan juga nekat melakukan bunuh diri lantaran depresi sejalan dengan data yang dirilis organisasi kesehatan dunia WHO di mana setiap tahun ada 700.000 kasus bunuh diri di seluruh dunia lantaran depresi.

    Lantas dibalik huru-hara kasus pelecehan seksual yang menimpa perempuan akankah masih ada harapan untuk memiliki ruang aman bagi mereka?

     Penurunan moral yang menjadi salah satu problematika yang dibawa revolusi industri 4.0 menjadi urgensi yang harus dibenahi. Latar belakang pelecehan seksual salah satunya adalah penurunan moral yang terjadi di masyarakat hingga menjadi pemicu seseorang untuk mengakses konten-konten negatif di internet, salah satunya pornografi, hingga bisa menjadi salah satu pemicu pelaku untuk melakukan fantasi yang mengarah pada aksi pelecehan seksual terhadap perempuan.

    Penyalahan korban pelecehan yang banyak menyudutkan perempuan, kendati sebenarnya memang benar atau dibungkus dengan dalih nasehat juga perlu diperhatikan. Dalam Islam, berdakwah perlu dilakukan dengan sikap lemah lembut dan membimbing dengan arahan yang baik. Hal ini karena kesalahan dalam menyampaikan sesuatu, walaupun itu kebenaran jika tidak dibarengi dengan cara yang baik, dapat memiliki banyak dampak negatif. Sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nahl ayat 125,

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

    Jangan lagi ada ungkapan laki-laki berkuasa di atas perempuan untuk menjadi pembenaran dalam melecehkan. Alih-alih dengan membawa dalil agama dengan pemahaman tafsir bahwa salah satu lebih superior dibanding yang lain. 

       Karena bukan superior yang digaungkan untuk menindas yang lain hal yang dipetik tapi bagaimana Tuhan sudah memberikan kelebihan antara perempuan dan laki-laki untuk dijalankan supaya menjadi hamba yang terbaik dalam beribadah kepada-Nya. Apalagi mengambil istilah boys always be boys untuk menjadi pembenaran bahwa hal seperti pelecehan seksual terhadap perempuan adalah kelumrahan atas panggilan naluri laki-laki.

     It takes two to tango. Butuh dua telapak tangan untuk menciptakan suatu tepukan. Sebagaimana laki-laki yang harus memahami bahwa ia bukan makhluk yang berhak melegalkan pelecehan pada perempuan. Begitu juga perempuan, ia memiliki kewajiban yang sama untuk melindungi dirinya supaya pelecehan itu tidak terjadi. 

    Hukum Islam mewajibkan adanya kewajiban menutup aurat, tidak berhias diri secara berlebihan, dan beberapa hukum lain yang menjauhkan perempuan untuk mengundang “naluri” tidak baik orang lain yang boleh jadi belum terverifikasi dengan benteng-benteng pemahaman agama yang dapat mencegah pelecehan seksual terjadi. Walaupun beberapa kelompok pasti menolak pernyataan saya yang seperti ini, xixixi.

    Terakhir, menjadi keharusan kita untuk mengawal sistem hukum terkait perlindungan kekerasan seksual. Jangan sampai pelecehan seksual diatasi atas dalih penghukuman korban namun terjadi penyimpangan seksual yang lain. Seperti ungkapan asal suka sama suka mah bebas. Karena hal itu perlu dipikirkan untuk menjaga diri kita sebagai perempuan, di zaman yang kehormatan menjadi ujian saat menjaganya, juga masa depan generasi kita ke depannya untuk bisa hidup dengan lingkungan yang aman.

    Akankah masih ada harapan untuk perempuan? 

          Mari terus membaik, memperbaiki moral diri, baik-baik jika bisa memperbaiki moral sekeliling, dan memberi pemahaman bahwa menjadi perempuan itu suatu kemuliaan dengan himpunan kelebihan yang diberikan Tuhan untuk mampu menciptakan peradaban yang baik dengan cara-Nya, dengan fitrah yang diberikan Tuhan padanya.


Sumber gambar : Tempo.co

Faradilla Awwaluna Musyaffa'

Mahasiswa Internasional University of Afrika

Posting Komentar

0 Comments

Formulir Kontak