Insecure dalam Problema Kita

 

Sumber: IDN Times

Perkembangan media komunikasi dan teknologi memungkinkan pertukaran informasi yang semakin cepat dan pesat. Istilah-istilah yang belum pernah diketahui dari membaca buku atau pelajaran di sekolah, sudah mudah dikonsumsi oleh semua kalangan melalui jaringan internet. Perkembangan teknologi ini akan terus berlanjut, sehingga istilah-istilah baru ini akan terus berkembang dari segala latar belakang ilmu, dan akan berserakan di dunia digital manusia yang dapat mempengaruhi pikiran kita.

Istilah insecure (ant secure = aman) yang telah digunakan di berbagai negara dengan bahasa Inggris sebagai bahasa keseharian dalam berkomunikasi, seperti Inggris, Amerika, Australia, Kanada, dan Selandia Baru. Istilah ini kemudian populer di Indonesia melalui media sosial setelah peluncuran film Imperfect karya Ernest Prakarsa tahun 2019. Insecure berasal dari bahasa Inggis, yang berarti tidak aman. 

Menurut Abraham Maslow, insecure adalah suatu keadaan di mana seseorang merasa tidak aman memandang dunianya dan menilai kebanyakan manusia sebagai ancaman berbahaya dan egois. Orang yang mengalami insecure, umumnya merasa ditolak dan terisolasi, cemas, pesimis, tidak bahagia, merasa bersalah, tidak percaya diri, egois, serta cenderung neurosis. Mereka akan mencoba mendapatkan kembali perasaan secure (aman) dengan berbagai cara.


Penyebab Insecure

Menurut psikolog klinis Melanie Greenberg, Ph.D., terdapat 3 penyebab umum seseorang merasa insecure, yaitu:

Pertama, insecure karena kegagalan atau penolakan yang terjadi baru-baru ini. Penelitian tentang kebahagiaan menunjukkan bahwa, peristiwa yang baru terjadi memiliki pengaruh besar pada suasana hati dan sikap kita terhadap diri. Karena ketidakbahagiaan berdampak pada self-esteem, kegagalan dan penolakan dapat berdampak dua kali lipat pada ketidakpercayaan diri.

Kedua, insecure karena mengalami kecemasan sosial. Merasa takut dihakimi orang lain dapat menimbulkan kecemasan yang akan membuat mereka menghindarkan diri dari lingkungan sosial karena merasa tidak nyaman. Jenis insecure ini umumnya didasari pada kepercayaan yang menyimpang tentang harga diri.

Ketiga, insecure yang disebabkan oleh sikap perfeksionisme. Beberapa orang memiliki standar yang tinggi terhadap semua yang mereka lakukan. Sayangnya, hidup tidak selalu seperti yang kita inginkan. Jika kita terus merasa kecewa dan menyalahkan diri karena merasa kurang sempurna, maka kita akan selamanya merasa tidak nyaman dan tidak layak terhadap orang lain. 


Jenis Insecure dan Perilaku yang Tidak Perlu

Setiap orang memiliki kondisi psikologis yang berbeda-beda dalam merespons berbagai kondisi sosial yang ada di lingkungannya. Beberapa faktor di atas dapat kita ketahui bahwa penyebab insecure ini akan menimbulkan berbagai tipe insecure yang berbeda berdasarkan lingkungan tempat kita berinteraksi. Ada beberapa jenis insecure yaitu, insecure dalam hubungan (relationship insecurity) yang terjadi karena hubungan yang tidak mendukung, insecure dalam pekerjaan (job insecurity) karena ancaman kelangsungan pekerjaan, insecure terhadap citra tubuh (physical insecurity) karena perfeksionis terhadap penampilan, dan insecure terhadap kehidupan sosial (social insecurity). 

Bila dilihat dengan saksama, berbagai macam jenis penyebab dan jenis insecure ini merupakan segala hal yang berasal dari luar diri kita. Kecenderungan kita melihat secara berlebihan akan situasi dan segala hal yang ada di luar lingkup kita, menimbulkan pengaruh negatif bagi kepribadian. Apabila kecenderungan ini tidak dapat dikendalikan, maka inilah yang akan menimbulkan masalah kejiwaan. 

Menurut penulis, maka hal fundamental yang bisa dilakukan adalah menyeimbangkan antara kemampuan bersyukur terhadap segala hal yang ada, yang telah terjadi, atau yang didapatkan. Walaupun gagal, setidaknya bersyukur atas hal tersebut sudah lebih dari cukup karena kita sudah berani mencoba. Walaupun relasi yang didapat kurang sehat, tetapi kita bisa menyehatkan fisik dan psikis dengan berolahraga dan self-love. Kita harus fokus terhadap hal yang bisa dilakukan untuk ke luar atau menyelesaikan masalah itu tanpa harus memperhatikan sisi luar yang dapat membuat kita terdistraksi dalam proses pengambilan sikap. 

Allah SWT. berfirman di dalam Al-Qur’an:

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (Q.S. Al-Ankabut: 2-3).

Melalui ayat ini, Allah menjelaskan bahwa setiap orang yang beriman pasti akan diberi ujian ataupun masalah. Saat dihadapkan pada sebuah masalah, mereka akan dihadapkan pada proses pengambilan keputusan tentang pemecahan masalah tersebut. Sikap seseorang dalam menghadapi sebuah permasalahan tentu saja berbeda-beda, proses seseorang dalam pengambilan keputusan pun juga bermacam-macam. 

Realitas menunjukkan, sebagian besar dari kita dalam menghadapi insecurity adalah bukannya mengambil sikap untuk memecahkan masalah, tetapi menimbulkan masalah baru. Kemampuan untuk mensyukuri segala hal agar dapat mengambil sikap terhadap masalah yang terjadi di tengah berbagai tekanan dari luar, memang tidak mudah. Orang bisa saja memandang negatif terhadap keputusan kita. Maka diperlukan kepercayaan atau optimisme terhadap masa depan, bahwa hari esok akan jauh lebih baik dari hari ini. 

Terakhir, perkataan Ir. Sukarno menjadi kutipan penutup tulisan ini. Beliau berpesan:

    Ada saatnya dalam hidupmu engkau ingin sendiri saja bersama angin menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata.”



Oleh: A. Muh. Farid Khuzairi

Mahasiswa Pendidikan Biologi UIN Alaudin Makassar

3 Komentar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama