Cara Islam Mengatasi Kesadisan Jempol Netizen di Sosial Media

 

Sumber: cnbcindonesia.com

Before you speak. Ask your self. Is it necessary? Is it true? Does it improve on the silence?

    Baru-baru ini Microsoft merilis data hasil penelitian melalui laporan berjudul Digital Civility Index (DCI) di mana laporan tersebut menyatakan bahwa Indonesia menempati urutan ke-29 dari 32 negara yang menjadi obyek riset tingkat kesopanan dunia maya dengan total 16.000 responden dan mendapat predikat netizen yang paling tidak sopan se-Asia Tenggara.  Adapun ukuran penelitian yang dilakukan Microsoft ini berfokus pada meningkatnya hoax dan penipuan online, bertambahnya ujaran kebencian, dan diskriminasi.

    Tentang penobatan netizen ‘tertidak sopan’ se-Asia Tenggara yang juga menimbulkan pro-kontra. Jempol netizen Indonesia tak hanya dinilai ‘sadis’ dalam mencuitkan sesuatu di akun-akun warganya sendiri, tetapi juga dalam hal cuitan untuk warga asing.  Hal itu dibuktikan pada beberapa kasus Warga Negara Asing yang merasa tertekan dengan ulah netizen +62 yang memenuhi kolom komentar akun sosial media mereka. Beberapa contohnya adalah penyerangan akun Tik-Tok warga Filiphina dan Komedian Inggris Stephen Fry yang dikira wasit All England.

    Hal ini tentu menjadi fakta yang menyedihkan mengingat kita, sebagai warga Indonesia terkenal dengan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai dan etika serta kesopanan dalam hidup bermasyarakat. Ditambah lagi mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam menyentuh angka 86, 88 % dari total populasinya. Dalam Islam sendiri, menjadi manusia yang beradab baik termasuk di dalamnya berhati-hati dalam bersikap sudah diatur secara gamblang.

    Jadi pertanyaannya, bagaimana cara Islam mengatasi jempol netizen di sosial media?

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman dalm QS. Al-Hujurat ayat 12:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka buruk (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka buruk itu dosa. Dan janganlah sebagian kalian mencari-cari keburukan orang dan menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudanya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."

    Dari ayat tersebut, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyeru kepada orang beriman untuk tidak hanya menjauhi prasangka buruk, namun juga untuk tidak mencari-cari kesalahan orang lain, ataupun menggunjing mereka. Ketiga poin utama ini yang pada masa sekarang sering kita temui dalam maraknya ulah netizen di sosial media. Hal ini bisa ditinjau dari maraknya akun-akun gosip yang tersebar di mana-mana, hoax yang merajalela, sampai ujaran kebencian yang sering naik menjadi berita hangat. 

    Dalam tafsir Ibnu katsir disebutkan bahwa Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk berprasangka buruk. Yakni mencurigai orang lain dengan tuduhan buruk yang tidak berdasar. Imam Sufyan Ats-Tsauri sendiri mengelompokkan makna prasangka menjadi dua. Pertama, prasangka yang mengandung dosa yang dilakukan oleh orang yang berprasangka melalui ucapan. Yang kedua, prasangka yang tidak mengandung dosa yang dilakukan oleh orang yang berprasangka melalui hati. Akan tetapi, prasangka jenis kedua yang tidak mengandung dosa inipun bisa menjadi pembuka jalan untuk melakukan prasangka yang mengandung dosa.

    Dalam hadis Arba’in Nawawi nomor 36 yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah disebutkan bahwa barang siapa yang menutup aib saudaranya sesama muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Dalam konteks tersebut, larangan mencari kesalahan dan memperbincangkannya dalam Islam jelas karena agama ini menganjurkan hal yang sebaliknya.

     Mengamalkan apa yang terkandung dalam QS. Al-Hujurat ayat 12 akan membuat kita sebagai orang yang mengaku beriman lebih berhati-hati dalam menerima informasi, menyerapnya, dan menyebarkannya. Dalam bersosial media, menjauhi tiga hal yaitu prasangka buruk, mencari kesalahan orang, dan menggunjing manusia akan menjadikan kita sebagai warganet yang lebih bijak dalam memanfaatkan setiap platform media sosial. Dengan kehati-hatian itu, sebagai netizen sosial media, ‘jempol’ kita tidak serta-merta ikut dalam supporter perilaku atau konten-konten tidak baik yang semakin marak sekarang.

    Tak hanya berhenti disitu, Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam juga bersabda dalam salah satu hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:

“Barang siapa beriman pada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam,”

    Dalam syarah hadis Arba’in Nawawi karangan Syeikh Sholeh Al-Utsaimin dijelaskan bahwa tafsir dari lafaz tersebut secara dhohir adalah perintah untuk diam kecuali pada kebaikan. Adapun perkataan sendiri terbagi menjadi tiga: perkataan baik (khair), perkaatan buruk (syarrun), dan perkataan yang tidak ada kebaikan dan keburukan didalamnya (lagw). Perkataan baik dianjurkan dilakukan, perkataan buruk tidak boleh, sementara perkataan yang tidak ada kebaikan dan keburukan di dalamnya, diam diutamakan daripada mengatakannya.

    Lewat hadis yang diriwayatkan Muadz bin Jabal yang tertuang dalam hadits Arba’in Nawawi nomor 29 bahwa Rasulullah memerintahkan untuk menjaga lisan. Muadz bin Jabal bertanya, “Wahai Rasul! Apakah kita akan disiksa sebab perkataan kita?” Maka Rasul menjawab, “Semoga ibumu kehilanganmu! Tidaklah manusia tersungkur di neraka di atas wajah atau di atas hidung mereka melainkan dengan sebab lisan mereka.” (HR. Tirmidzi).

Dengan mengetahui bahwa Islam tidak serta-merta melegalkan semua ucapan yang keluar dari perkataan ataupun perbuatan kita, sebagai netizen sosial media hal ini juga menjadi suatu hal pengontrol kita untuk mencuitkan segala sesuatu di media sosial. Tidak ada lagi fenomena julid di kolom komentar, apalagi dengan menggunakan kata-kata tidak pantas dan menyudutkan, serta ditutup dengan dalih memberikan nasehat. Tidak ada lagi unggahan-unggahan dusta atau konten-konten clickbait yang merugikan banyak pengguna. Tidak ada lagi hate speech atau ujaran kebencian yang memenuhi lini sosial media kita, sebab penggunanya bijak dalam mengatur apa yang akan ia publikasikan di sana. 

    Kesadisan jempol netizen sosial media dapat diatasi dengan mengetahui bagaimana adab-adab dalam bersosial media itu sendiri. Islam sudah mengatur secara utuh bagaimana cara kita menjadi pengguna media sosial yang baik. Beberapa poin yang penulis ulas seperti menjauhi prasangka, menjauhi mencari keburukan, menjauhi aktivitas menggunjing, serta memilah perkataan yang akan diunggah atau kalau tidak diam lebih baik.

    Wallahu A’lam Bi Showab.


Oleh: Faradilla Awwaluna Musyaffa’

Mahasiswa International University of Africa


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama