Terhangat

Kita Pembunuh

 

Sumber:Reqnews.com


“Kematian, sebuah ritual menuju keabadian." Sebuah kalimat yang selalu saja menghantui malam-malamku sejak penugasan yang terakhir. Kalimat itu mencekik dan tidak memberikanku celah untuk bernapas dengan lega. Memenjarakan kemerdekaanku sebagai makhluk berakal sehat. Kalimat itu aku dapat dari salah seorang militan bersenjata sebuah kelompok separatis di Timur Tengah dalam sebuah kertas kecil bercampur bercak darah. Tempurung kepalanya hancur, darahnya muncrat di tanah dan bajuku setelah dihantam peluru AK 47.

"Bagaimana penugasan terakhirmu, Nick?" 

Asap rokok memecah dinginnya udara malam. Ditemani secangkir kopi arabika dari dataran tinggi Dieng. Aroma kopinya khas, tersohor di beberapa belahan dunia. Belum pernah aku bercinta senikmat malam ini dengan secangkir kopi. Lebih bersensasi dari ritual pengantin saat malam pertama.

“Nick, bagaimana misi terakhirmu?” Ia mengulangi pertanyaannya.

"Biasa." 

Jawabku singkat.

Penugasan terakhir terbilang tidak terlalu sulit karena misi kami agak jauh dari pusat kelompok separatis setempat. Hanya terbilang sebuah desa kecil dengan gelagat pembelotan dari pemerintahan sah sekarang. Misi kami membantai habis para petinggi kabilah di sana secara diam-diam. Meski tetap saja terjadi keributan dan beberapa kru kami tertembak, namun tidak sampai mengenai organ vital. Tidak ada warga sipil lain yang menjadi korban.

"Kau tahu, sebenarnya penugasan terakhir bukan semata mata keputusan bapak presiden. Hanya beberapa elite berkepentingan."

Dari wajahnya, Asad tampak mulai serius. 

"Apa yang kau maksud?" 

Aku menaruh kembali beberapa balok kayu kering dalam api unggun. Malam ini udara benar-benar dingin, mungkin di bawah sepuluh derajat. Hanya tersisa suara gemeletuk api.

"Aku masih belum begitu yakin apakah kabar ini benar atau tidak, tapi menurut kabar burung yang aku dengar ada pihak yang berusaha mengambil keuntungan dari kekacauan semacam ini."

"Maksudku, bukankah misi kemarin adalah untuk menyingkirkan lawan politik bapak presiden saat Pemilu nanti?"

"Ada sesuatu yang lebih menarik dari itu, Nick."

Dia mengeluarkan napas panjang, seolah sedang melepaskan pikirannya, bertualang pergi jauh ke masa depan.

"Apa maksudmu?"

"Ini hanya pradugaku. Sejak negara kita lepas dari Britania Raya (Inggris) faktanya mereka tetap meninggalkan agen di wilayah kita. Ikut campur dalam beberapa putusan politik pejabat tinggi negara. Buktinya negara kita sekarang menganut sistem demokrasi, salah satu barang dagangan baru Eropa di abad dua puluh. Kita tidak bisa membohongi diri sendiri, sejarah tanah air kita tidak sesuci kain kafan. Ada banyak bercak darah berceceran. Berabad abad korban perang berjatuhan. Menjadi medan perang antar negara, juga antar kabilah kita sendiri. Darah kita sendiri."

Ia berhenti sejenak memperbaiki posisi duduknya.

"Aku memang tidak terlalu paham soal politik. Dan tidak mau ikut campur mendalam. Tapi tetap saja bagiku ada kejanggalan dari semua misi-misi kita. Sudah hampir tiga dekade kita perang dengan saudara kita sendiri, anak dari saudara kita juga. Setelah Uni Soviet sekarang ada Amerika yang tampaknya juga mengincar aset kita."

Malam semakin larut, suara burung hantu ikut meramaikan keheningan mengusir keangkuhan malam yang semakin pekat. Bintang-bintang di atas sudah berpindah beberapa meter, itu yang bisa ditangkap mataku. Atau boleh jadi sudah berjuta kilometer. Faktanya bumi kita berevolusi juga berotasi.

Terdengar suara langkah kaki beberapa meter dari tempat kami berdua duduk, semakin mendekat. Wujudnya yang ditelan gelap mulai menyulam rupa. Wajahnya tampak semakin jelas.

Di atas gunung, pelbagai hal bisa saja menjadi kejutan atau ancaman, pendaki harus selalu waspada. Mulai dari ancaman hewan buas seperti serigala atau hewan kecil semisal nyamuk bisa menjadi petaka. Penyakit demam berdarah dan malaria faktanya ditularkan melalui binatang sekecil itu.

"Asad, Nick, kalian sungguh baik hati, mau menjadi samsak nyamuk yang kelaparan."

Itu suara David.

"Masih ada kopimu, Asad? Aku penasaran dengannya. Katamu dia pandai bercinta, menggoyang lidah laki-laki yang sedang kesepian."

David satu kawan lamaku dalam banyak misi datang bergabung. Ia tampaknya mendengar perbincangan kami dari balik tenda empat meter persegi yang kami susun tadi sore. 

"Konflik negara kita bukan saja konflik agama, jauh dari itu sumber daya alam kita sudah juga nyaris tak bersisa. Penduduk kita diajari mencuri dari ladang sendiri, untuk diserahkan kepada mereka secara percuma. Kemerdekaan kita seperti sekadar mimpi. Negara kita sekarang seperti domba gembala yang digiring anjing-anjing pengawas. Dan kekhawatiranku sendiri, semakin membuncah. Apakah saat kemerdekaan kita bisa raih kalau kita benar-benar telah siap. Apakah kita benar-benar telah siap dengan harapan kita sendiri untuk merdeka." Dia berhenti menghisap rokoknya sejenak. Menghangatkan rongga pernafasannya dengan asap pembakaran tembakau.

"Candu di masyarakat kita sudah mengakar kuat. Tertanam sangat dalam, penyakitnya terlanjur menjalar ke sekujur tubuh. Aku sendiri berpikir diriku sudah kehilangan kendali atas kehendaknya. Aku sangat benci Amerika, tapi di sisi lain aku masih candu. Aku candu produk mereka. Itu membuatku ragu untuk lantang dengan ide dan gagasanku. Aku bahkan merasa kerdil dilahap fakta-fakta yang aku ciptakan sendiri sejak dalam pikiran. Dan sialnya banyak rakyat kita yang seperti aku. Menjadi korban candu."

"Zaman sudah berubah, Asad," potongku, “Aku tak pandai berpikir terlalu mendalam. Berbicara realitas pikirku lebih masuk akal daripada bicara soal probabilitas yang masih jauh dari kenyataan.”

"Benar, jati diri kita sudah terkikis sejak lama. Ajaran-ajaran orang tua dahulu sebatas hikayat tanpa seorang pun mau memandang esensi sejatinya, kita hanya mampu menyentuh tempurung terluar, sama sekali tak paham isinya. Itu juga yang membuat kita tidak jujur sejak dalam pikiran. Sekarat sebelum memulai perang." David mulai menyulam asap-asap rokoknya menjadi bola-bola kecil, yang sesaat kemudian hilang ditelan malam.

"Bukan itu maksudku." Asad mengubah posisi duduknya, sekaligus membenarkan jaket yang dia kenakan. Udara malam semakin dingin. Saat seperti ini pakaian tebal menjadi teman terhangat para pendaki yang ingin bermalam di puncak atau di kaki gunung.

"Presiden kita sekarang sangat loyal terhadap elite-elite Amerika dan Israel, dan sebagian yang duduk di kursi parlemen juga sudah banyak yang punya paham komunis. Sedang kita sendiri merasakan ancaman separatis Syiah juga bergerak merambat semakin dekat."

"Semua orang yang mencari makan di ketiak negara tahu itu, Asad. Dan banyak yang memilih diam, menikmatinya dalam kegundahan. Yang masih berani merangkainya menjadi kalimat baku hanya sedikit. Nyawa taruhannya,  kita algojonya." kataku.

"Itu juga yang membuat aku kadang ragu dalam penugasan kita akhir-akhir ini. Bukan soal siapa yang kemudian berkuasa. Orang kecil sepertiku tidak peduli politik. Yang penting keluargaku bisa makan. Bisa tidur nyenyak dengan istri. Anak tetanggaku bisa main di halaman tanpa takut biji matanya dicungkil." sambungku.

"Nick, coba kau pikir." Asad memotong kalimatku, dia ingin memastikan aku yakin dengan yang tengah aku bicarakan.

"Menurutku ada hal lain yang lebih mulia dari sekadar mengisi perut dan meniduri wanita. Aku belum menikah, tapi tak terhitung lagi gua garba pelacur yang aku pernah huni. Nyamuk bisa makan dan beranak pinak tanpa sedikit pun takut dengan AK 47 ditanganmu. Padahal ia sendiri, bisa saja membunuhmu, tanpa kau sadar sedikit pun." balas Asad.

"Benar Nick. Saat membunuh elite pembelot tempo hari, tentu otakku tidak hanya bekerja soal keluargaku bisa makan. Ada misi suci yang aku pegang." kata David.

"Apa maksudmu? Apakah itu berarti di atas misi suci seperti saat perang salib seseorang dibenarkan bertindak keji, memperkosa bahkan membunuh manusia lainnya?" potongku.

"Jangan bercanda, kawan. Tuhan tidak akan suka kalian jadikan kambing hitam dari kebejatan kalian. Kalian lihat ini." 

Aku menunjukkan kepada mereka kain bertuliskan: Kematian, sebuah ritual menuju keabadian; aku dapat saat misi terakhir.

"Jika mereka juga bertindak atas misi suci. Lalu kalian juga sama. Mana yang harus dibenarkan. Setahuku hakikat kebenaran hanya satu, karena itu aku memilih masuk Islam. Keyakinan membimbingku untuk mengakhiri petualangan sebagai politeis. Beruntungnya aku lebih dahulu mengenal Islam sebelum orang Islam. Kalian sadar yang kalian bunuh mereka juga muslim? Menurut ajaran agama, semua muslim itu bersaudara. Jadi siapa yang dibenarkan membunuh dan dibunuh?" tanyaku.

"Tidak ada istilah benar atau baik secara hakiki dalam urusan membuat manusia lain sekarat, membenci nyawanya sendiri. Asal kau tahu, Nick, di hati terdalam aku berusaha berdansa dengan fakta nyata bahwa kita semua pembunuh, dan membunuh adalah pekerjaan kita. Bahkan orang yang sembunyi ketakutan pun juga pembunuh. Ia membunuh keberaniannya untuk bangkit melawan. Sebab dengan melawan boleh jadi nyawa orang yang ia cinta terselamatkan." kata Asad.

"Di atas profesionalitas kita diajari untuk menelanjangi nyawa. Menjadi perantara Tuhan untuk membebaskan ruh dari belenggu jasad. Bukankah kata ulama sufi saat ini ruh manusia tersiksa karena harus hidup dalam jasad? Kita hanya menyudahi rasa kesakitan ruh untuk kembali bebas. Kalau aku menaruh sangka semua yang kita lakukan adalah dosa, maka artinya dengan sadar aku bertahun-tahun melumuri tanganku dengan api neraka. Maka aku mulai berpikir sebaliknya, pekerjaan kita adalah mulia, Nick. Mempercepat ritual hidup manusia di dunia untuk menjemput takdirnya di akhirat. Dunia hanya tempat singgah, Bukankah membantu manusia melanjutkan perjalanan panjang hidup termasuk amal mulia? Aku tidak pungkiri pekerjaan kita sekarang hanya kepanjangan dari kaki tangan elite dalam lingkaran pemerintahan. Bukan atas kinerja hati kita sebagai manusia berakal dan beragama. Aku membunuh atas dasar profesionalitas dalam dunia kerja, biar mereka yang menanggung dosanya."

“Asad, setidaknya aku mendapati ada beberapa kata-katamu yang aneh. Mengapa kau berani melumuri tanganmu dengan darah, namun takut akan dosa? Dosa para jendral sudah menggunung, tak perlu kau tambah lagi dengan dosamu. Lucu sekali, itu sebabnya kita sering lihat mereka di acara bakti sosial saat uang kita cair. Mereka sadar tangan mereka kebas darah, dan dengan amal sosial mereka mencuci tangan sekaligus membersihkan nama.” David menimpali.

“Ingat. kawan, para nabi saja pernah berbuat salah, tapi Tuhan selalu mengingatkan mereka atas kesalahan mereka. Lalu apa salahnya kita mengaku salah? Sebab manusia tempatnya salah dan aku juga bukan nabi, jika ada orang yang enggan mengimani bahwa dirinya punya salah maka orang tersebut iblis, yang bukannya meminta maaf malah menggurui Tuhan. Atau ia sama sekali belum dewasa, masih balita. Tak elok kita salahkan balita, bahkan saat ia salah sekalipun malah membuat orang-orang di sekitarnya senang, menertawakan.”

“David, setidaknya aku juga ingin menjadi pembunuh yang beriman seperti kau. Bukan semisal Lenin dan Stalin yang menyuarakan ideologi kesetaraan kelas dengan membantai lawan ideologi politiknya, ratusan ribu bahkan jutaan orang tewas atas nama kesetaraan kelas, demi meratanya kesejahteraan kata mereka, sungguh menggelikan. Hidup sejahtera di atas mayat rakyat sendiri. Bahkan Amerika, Prancis, Inggris yang sering menyuarakan ideologi demokrasi liberal selalu menyebut-nyebut human right (hak asasi manusia), tidak terhitung lagi nyawa yang mereka lelang demi uang dan kekuasaan. Mereka yang datang ke negara lain sebagai tamu, mereka juga yang menuding tuan rumah sebagai pencuri, penjahat, teroris, tai nyamuk. Lalu atas nama menjaga perdamaian dunia,  pembantaian mereka dianggap halal dan legal. Mereka menyebut diri pahlawan kemanusian setelah membantai manusia. Sangat menarik.” David meluruskan kaki-kakinya lebih dekat dengan api unggun yang hampir padam, sembari mencerna kalimat Asad baik-baik.

“Sekiranya Tuhan mengampuni semua pembunuh,  membiarkan mereka semua hidup bebas di dunia lalu di ganjar surga saat mati hanya karena menganut kepercayaan tertentu, maka itu khayalan yang hanya diharapkan segelintir makhluk bernyawa. Pun kalau ada, manusia akan bergegas menjadi pembunuh, dan dari dirinya sendiri ia akan memulai, membunuh. Sebab tak perlu tangannya kotor dengan darah orang lain. Itulah sebabnya kita tak diciptakan sendirian. Hingga kita tahu rasanya hidup di atas kematian makhluk lain yang kita renggut hak hidupnya. Sapi yang kita sembelih, ayam yang kita potong, burung-burung yang terbang anggun kita tembak, tanpa harus tahu apa kesalahan mereka atas kita. Diciptakan hewan-hewan yang juga mengajari kita berbuat kehewanan, bertahan hidup dengan memangsa atau dimangsa. Lalu disadarkan kita dengan tumbuhan yang mengajari bertahan hidup tanpa harus menyakiti  makhluk sekitarnya. Menyambung hidup dengan menyerap sari tanah, udara, air, dan cahaya. Manusia adalah kebijaksanaan dengan tabiat kehewanan dan dengan sedikit asas tumbuh-tumbuhan. Orang yang pandai agama bilang antara hewan dan malaikat, itulah manusia.”

“Kau berkhayal terlalu jauh, Asad. Pakailah bahasa-bahasa yang mungkin makhluk bumi di sekitarmu masih bisa terka dan telan. Jangan sampai mereka hanya kunyah lalu muntahkan tepat di hadapan mukamu. Aku tahu kau ingin lepas dari belenggu di leher. Aku pun juga sama. Sekiranya kau berhasil menulis buku ‘seni membunuh yang halal’ atau ‘filosofi pembunuh bayaran’, tetap saja orang-orang akan membencimu. Keadaan memaksa kita, aku sendiri sadar kalah dan salah, sebab itu gejolak gagasan-gagasan manusia perlu di ikat dengan titah Tuhan dari langit. Supaya perilakunya berbatas wahyu, tidak lantas semua yang ia perbuat menjadi benar atas dasar revolusi atau apalah itu. Jangan suka menyalahkan Tuhan hanya untuk menyatakan perbuatan kita harusnya dimaklumi bahkan dibenarkan. Saat ini kita tak lebih mulia dari tikus got, bersembunyi saat siang, baru muncul saat malam untuk mencuri sisa sayuran dan sepotong roti, dan kalau perlu membunuh penghuni rumahnya. Aku tak ingin ikut campur tangan terlalu dalam soal ini. Tapi mau tak mau tanganku juga yang berlumuran darah.” aku menarik nafas sejenak, kegelapan sering kali menjadi wadah berbagi bagi makhluk seperti kami, dan teman bertapa yang elegan. Terlebih dipuncak gunung. Paling hanya kelelawar dan burung hantu yang masih beterbangan bebas. Sisanya memilih meringkuk di alam harapan, mengisi malam hanya untuk bermimpi, lalu bertahan hidup lagi saat mentari bangun dari timur.

“Pernah aku dengar dalam agama pun, ada istilah pembunuhan yang dilegalkan. Katanya orang yang membunuh secara sengaja, hukuman yang pantas adalah di bunuh dengan serupa. Nyawa dibalas nyawa. Namun diperjelas perkaranya dihadapkan mahkamah sebelum putusan hukum dijalankan. Menariknya aku dapatkan ajaran itu saat masih jadi domba tersesat, belum jadi hewan berakal sepenuhnya. Orang seperti kau, Asad, yang suka tidur dengan pelacur pantasnya dihukum mati menurut agama. Itu aku dapat dalam kitab perjanjian lama. Untungnya kau belum pernah menikah, jadi menurut agamamu sekarang (Islam) kau hanya dihukum cambuk. Dan satu lagi, dalam perang juga sama. Antara terbunuh atau membunuh. Semua sudah diatur rapi, itu yang membuatku tertarik kepada Islam. Kita tak boleh membunuh kecuali yang berhak dibunuh atau yang memanggul senjata. Anak kecil, orang lanjut usia, para wanita tak boleh kita lukai sedikit pun meski saat perang berkecamuk sekalipun. Namun aku masih beradu keberanian, menimbang apakah revolusi bisa disebut masa perang. Apakah usaha kita untuk merdeka pantas untuk dihargai nyawa? Sedang darah mereka yang kita bantai, darah kita juga. Hanya untuk membuktikan siapa yang pantas berkuasa, siapa yang hatinya paling kejam, dan tangannya paling banyak berdarah.”

“Nick, aku memang belum sepenuhnya jadi agamawan yang baik, tak elok juga aku ceramah di atas mimbar, namun aku rasa kita semua sepakat revolusi dan usaha perjuangan butuh taruhan nyawa. Kita sendiri mempertaruhkan nyawa di setiap misi kita. Tidak ada jaminan pasti kita selalu akan bisa kembali menginjakkan kaki di rumah. Kalau memang jalan kita sekarang menurut agama salah, aku sama sekali tidak merasa enggan menanggalkan lencanaku ini. Untuk lahir yang kedua kalinya sebagai makhluk bumi yang baru bisa belajar merangkak dan berjalan. Mencari pekerjaan lain yang lebih terhormat.”

Malam semakin larut dalam keheningan. Balok-balok kayu mulai meregang nyawa satu persatu, memulai siklus hidup baru menjadi abu, bercampur dengan tanah atau terbang dibawa angin malam. Kopiku sudah ludes dari tadi.

"Pembunuh tetaplah pembunuh, hanya saja seorang pembunuh harus berpikir matang-matang sebelumnya apakah orang yang dia bunuh pantas mendapatkan hadiah demikian. Jika pantas, pembunuh tadi disebut pahlawan. Begitu tipis sekat antara pembunuh dan pahlawan. Kita tentu sepakat orang tua kita dahulu pahlawan karena berhasil menggorok para penjajah Uni Soviet yang menjarah bumi kita, mengoyak keperawanan gadis-gadis kita, lalu menjadikan bayi-bayi kita sebagai sasaran tembak. Orang seperti itu layak dihadiahi peluru. Kebanyakan pahlawan berlumuran darah dan tak pernah sekalipun sejarah menyebut mereka pembunuh ataupun teroris." Rokok ditangan Asad hanya tersisa dua senti lagi.

"Kalian lihat rokokku, malam ini aku ingin bermimpi menyetubuhi bumi. Meninggalkan harta karun untuk anak cucuku kelak." Ia bangan dari tempat duduknya lalu bergegas menuju tenda.

"Omong kosong, sadar, Asad, kau belum menikah. Meski kau timang burung kesayanganmu, kau mandikan setiap hari kau tak mungkin punya anak, apalagi cucu." jawab David.

"Kalian hanya tidak tahu, tidak harus menikah untuk disebut bapak. Kalian pernah dengar lagu; Ibu kita Kartini. Semua orang Indonesia memanggil ia ibu meski tidak pernah terlahir dari gua garba miliknya. Namun hanya sedikit yang sadar nama aslinya sebenarnya adalah Harum. Dan sampai hari ini jutaan manusia menjadi anaknya selama negara itu masih tetap berdiri, karena aku dengar akan ada ajang pertunjukan dor-doran antara Cina dan Amerika. Semoga itu hanya kabar burung."

“Hai, Asad, mungkin suatu hari nanti kita perlu mencicipi profesi baru menjadi pemberontak, bergabung dengan kelompok separatis. Bukan lagi menjadi pembunuh rakyat yang dilegalkan negara. Supaya kita tahu rasanya menjadi golongan yang di marginalkan masyarakat dunia.” teriakku.

“Ah, pembunuh tetaplah akan membunuh meskipun ia beralih profesi menjadi petani. Para tikus sawah harus segera rapat darurat, demi kelangsungan pangan anak-anak mereka. Nickolas penjagal kepala manusia sekarang jadi petani.”

ia tampaknya mulai melantur.

Malam adalah hadiah Tuhan untuk para pencinta melakukan ritual suci, sedang para laki-laki kesepian merana dalam penantian dan khayalan. Bintang dan bulan adalah saksinya.

***

Khartoum, 9 November 2021



Ibnu Abdillah

Mahasiswa International University of Africa

Tidak ada komentar