Terhangat

Sudan Putus Jaringan Internet, Begini Kondisi WNI di Sudan

 Sudan mengumumkan situasi darurat nasional sejak (25/10) kemarin yang berdampak pada beberapa aspek kehidupan warga setempat sekaligus warga negara asing yang tinggal di sana. Situasi darurat ini tak hanya berdampak pada kenaikan bahan makanan pokok di pasaran, kelangkaan bahan, dana tunai yang menipis, atau penutupan beberapa akses transportasi antar wilayah, namun juga memutus akses internet untuk seluruh pengguna sebagai salah satu kebijakan dari pemerintah setempat terkait pergolakan politik yang terjadi di Sudan.

 Tak hanya itu, pergolakan politik yang terjadi juga mengakibatkan beberapa aktivitas kampus sempat terganggu. Beberapa kampus seperti International University of Africa (IUA) dan Jami’ah Quran, Omdurman, sempat menonaktifkan kegiatan belajar-mengajar sementara saat gejolak politik dan demonstrasi sedang panas. Kampus IUA sebagai salah satu kampus yang menjadi tempat belajar kebanyakan mahasiswa Indonesia juga menetapkan kebijakan jadwal ujian baru setelah beberapa waktu lalu diundur karena situasi yang tidak memungkinkan.

 Adapun pemutusan jaringan internet ini, mau tidak mau, juga berdampak pada kehidupan Warga Negara Indonesia (WNI) yang berdomisili di Sudan. Beberapa dampaknya adalah terhambatnya komunikasi antar sesama, terhambatnya penyebaran informasi, bahkan bagi beberapa warga Indonesia yang memiliki usaha mikro, pemutusan internet juga memiliki dampak riil bagi keberlangsungan usaha mereka. Sementara dalam ranah organisasi, pemutusan internet memengaruhi pelaksanaan program kerja, kordinasi, dan kegiatan-kegiatan.

Gambar mahasiswa sedang mencari wifi

 Fenomena pemutusan internet ini, mengakibatkan para warga Indonesia khususnya dan warga asing pada umumnya untuk berburu jaringan internet di tempat-tempat yang menyediakan wifi kendati pada beberapa keamanan Sudan masih dikatakan belum stabil. Adapun destinasi yang biasa dikunjungi oleh warga Indonesia saat tidak adanya jaringan internet ini seperti bandara internasional, kampus, tempat makan dengan fasilitas wifi, beberapa counter yang menyediakan wifi perjaman, atau Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dengan kuota dan batas jam yang sudah disepakati.

 Pemburuan wifi ini tak hanya sedikit sulit, namun karena akses jaringan yang dipakai bersama, tak jarang kualitas jaringan pun tidak memadai untuk digunakan. Beberapa mahasiswa yang menggunakan jaringan wifi berbayar di counter-counter yang menyediakan layanan wifi mengeluhkan tentang kecepatan akses wifi yang tidak stabil, tidak bisa digunakan untuk video call atau WhatssApp call dengan mumpuni, dan beberapa keluhan lain. Sementara bagi para pencari wifi gratis, bandara internasional menjadi salah satu destinasi favorit yang selain tidak dipungut biaya juga menjadi ‘markas menginap’ beberapa warga yang ingin mengakses internet. Karena saat siang pengunjung bisa dua atau empat kali lipat lebih banyak dan akses internet dipastikan sering ngadat. Beberapa warga Indonesia juga sempat mencoba menggunakan bantuan aplikasi VPN untuk terhubung dengan jaringan internet, walaupun hanya mampu mengirim dan menerima pesan via WhatsApp.

 Beberapa waktu yang lalu, pengalaman penulis saat mencari wifi di bandara adalah kondisi ruang tunggu pengunjung yang menjadi tempat adanya jaringan wifi itu ada, hampir sebagian besarnya dipenuhi oleh Warga Negara Indonesia sampai-sampai beberapa harus rela berdiri atau duduk di lantai saking tidak adanya tempat kosong lagi. 

 Adapun terkait kondisi terbaru di Sudan, beberapa kampus sudah mulai beroperasi kembali sekaligus juga pasar, toko, dan transportasi umum juga telah beroperasi. KBRI juga menjalin kerja sama dengan beberapa organisasi pelajar, organisasi politik, dan kekeluargaan untuk memastikan tidak terputusnya komunikasi antar warga Indonesia selama kondisi politik Sudan belum stabil. Pun terus berkomunikasi dengan Kementerian Luar Negeri untuk menyampaikan situasi terkini. [Faradilla Awwaluna Musyaffa’]

Tidak ada komentar