Terhangat

The Informers Eps. 13 Falsh Back

 

Sumber: Voi.id

Kupandangi salah satu bingkai foto di dinding ruang tamu. Terdapat gambar pengurus CID kelas lima seperti; Alvin, Nafi, Anam, Aidil, Zain, Revo, dan Panji, tetapi ada dua orang lagi yang tak kenal, langsung saja kutanyakan pada Alvin di sampingku.

“Vin, itu orang di sebelah Anam siapa?”

Oh, itu Adhimastya.” Jawabnya.

“Kalau sampingnya Aidil siapa tuh, yang paling kecil?” Tanyaku.

“Faris.” Jawabnya.

“Sekarang mereka berdua ke mana, Vin?” Tanyaku.

“Dipindah Il, ke kampus 3, Kediri.” Jawabnya.

Weh tempat ana dulu, dong?” Sahutku tak percaya.

“Iya bener,” Alvin menjawabnya santai sembari membaca novel kesukaanya.

“Faris sama Dimas kenapa bisa dipindah Vin?” Tanyaku kemudian.

Oh, ga tau ya Il, ana juga,” timpalnya singkat.

“Aduh gimana sih ente Vin, katanya sekamar tahun kemarin.”

“Bukan gitu, Il, ana cuman ga mau ikut campur urusan orang lain. Coba ente tanya Zain atau Aidil mugkin mereka tau,” ujarnya memberikan solusi.

Ah males ga penting,” jawabku tak peduli.

“Ya udah kalau gitu hehehe,” remaja asal Banjarmasin itu pun berbalik badan menghadap tembok.

Eh, Vin! Ini fotonya waktu kedatangan grand syekh Al-Azhar, ya?” Tanyaku.

“Iya Il, tapi kita numpang foto aja. Ga banyak amal.”[1] Timpal Alvin.

Lah kok gitu, Vin?” Tanyaku heran.

Sababuhu nahnu hina dzalik imtihan, Il.[2] Jawabnya sembari mengutarakan alasan numpang foto tersebut.

Idzan man ya’mal?[3] Tanyaku kemudian.

Faslu sadis ma’a ustaz[4],” jawabnya singkat.

“Walah gitu toh.. Eh, Vin, enakan jadi pengurus kelas 5 atau 6 menurut ente?” Tanyaku pada Alvin dengan pertanyaan yang berbeda.

Hem, ga tau ya Il, tergantung apanya dulu,” jawabnya singkat.

“Maksudnya?” Tanyaku tak mengerti.

“Iya Il, kalau masalah tenang, lebih tenang waktu kelas 5, ga banyak orang di kamar. Tapi kalau lebih seru, ya lebih seru waktu kelas 6 banyak temen, banyak acara-acara besar. Apalagi sekarang peranyaan 90 tahun pondok, pasti nanti padat banget acaranya,” ujarnya menjelaskan.

“Walah lebih enak sekarang berarti ya, Vin? Tapi kayaknya kalau waktu kelas 6 gini susah ya kalau ditarikin iuran buat bikin-bikin baju bareng?” Tanyaku sembari turun dari kursi kayu ke karpet biru meregangkan badan. 

“Bener Il, kata ente, susah banget narikin iuranya. Kemarin aja waktu kita buat baju DG-Audio untuk kelas 6, ana harus nombokin dulu. Kalau tahun kemarin munadzomah faslu khomis,[5] semiggu setelah dilantik ada acara graduate musik festival. Nahnu mubasyarotan sina libas ma’an, sahel jiddan pee.[6] Jawab Alvin sebari duduk, menutup, lalu menaruh novelnya di atas meja.

Oh, kaos biru dongker yang biasa di pake Anam sama Revo, ya?” Tanyaku.

Iya yang itu, Il. Walaupun anak-anak CID yang kelas 6 agak susah ditarikin iuranya, biarin aja Il, udah gede. Nanti juga mereka paham sendiri, Il.” Jawabnya.

Oh ya? Kalau gitu menurut ente, ana paham ga?” Tanyaku mempermainkan Alvin.

“Ya gimana yaa?” Jawabnya, balik bertanya.

“Apaan sih, Vin, jawab yang bener dong!” Jawabku,meminta kepastian.

Tiba-tiba Aidil keluar dari lorong Aula, memandangi kami berdua.

Weh ribut-ribut dari tadi, ayo ke masjid, bentar lagi azan Asar nih.”

Oke-oke Dil, ini mau berangkat.” Aku lekas beranjak meninggalkan kamar.

            Kami bertiga segera mengangkat kaki bersama-sama ke masjid. Senikmat apa pun masa lalu, masa depan akan selalu hadir dengan hal yang baru. Kita tak bisa mendikte siapa saja yang akan dijumpai ketika itu, yang bisa dilakukan adalah bersyukur dan terus bersyukur. Tetap berprasangka baik kepada Allah Swt atas apa pun yang diberikan-Nya itulah yang terbaik.

* * * * * * * * * *

Gedung Yakzoh, Robithah, dan Sudan merupakan tempat kelas kami. Terpisah jauh dari kamar. Perlu 100 langkah dari kamar menuju kelas di Yakzoh, 150 langkah menuju gedung Sudan, dan 300 langkah menuju gedung Rabithah. Uniknya, sejauh apa pun kelasnya saat istirahat pertama, pasti kita semua berkumpul kembali di kamar. Entah sekedar memeriksa koran yang baru datang, salat Duha, ataupun mengumpulkan uang untuk beli jajan di Walapa.

Namun yang tak bisa kulupa adalah kelakuan Agilatul. Temanku satu ini benar-benar pintar dan hemat di kala teman-teman yang lainya mengumpulkan uang untuk makan-makan bersama.

“Gil, kok beli makanannya cuman 3, es tehnya 1 aja?” Tanyaku dari depan lemari.

“Iya, Gil, kok gitu sih,” heran Nafi.

“Ya ga papa, biar hemat,” jawabnya polos sembari menebar senyum ramahnya.

“Aduh, Gil, Gil, hehehehehe, tapi ana minta boleh ya?” Tanyaku.

“Boleh kok, Il, tafaddol.” Jawabnya ramah.

Aku pun segera merobek donat miliknya.

“Ana minta juga ya, Gil, hehehehe,” ujar Nafi.

Oh, ya ya silakan.”

   Agilatul memang terkenal hemat di antara yang lainya, meskipun begitu dia amat pintar menuliskan naskah-naskah untuk siaran. Ia rajin membuka kamus Munjid untuk membuat syair-syair epic. Saat bekerja, dia juga tergolong orang yang amat teliti dan dengan cepat memahami sesuatu. Berbeda dengan aku yang hanya melek walang, tak mudah paham kecuali bertanya lebih dahulu.

Setiap anggota CID mempunyai kelebihan dan titik fokusnya masing-masing, seperti Agilatul. Seperti Bayu, sang wakil ketua yang fokus pada segala sesuatu yang terjadi di kamar, studio, dan hall. Fawwas fokus dengan surat-surat dan broadcasting berbahasa Inggris, Rifqi fokus dengan desain-desain, Nafi fokus dengan intonasi siaran yang khas, Alvin yang teliti menghitung arus keluar masuk uang, Umam yang tanggap dalam mengajukan anggaran-anggaran, namun kerap resah karena ada saja masalah yang muncul. Aidil dan anggota perkembangan bahasanya yang fokus pada kualitas siaran setiap orang. Husein dan rekan-rekan teknisinya yang sangat tanggap dan lihai dalam hal sound system, tetapi tidak terlalu tertarik dengan siaran. Revo dan Najieb yang paling paham soal alat-alat musik. Panji, Farhat, Raka, Wildan, Nova, dan aku adalah pemegang kuasa gudang serta inventaris-inventaris Qismul I’lam.

Namun dibalik itu semua, ada sosok teladan seorang ketua. Anam hadir bekerja tanpa banyak bicara, memberikan siaran terbaik tanpa mengkritik mereka yang buruk, menyelesaikan tugas tanpa mencela mereka yang tak hadir membantu. Anak yang pertama kali turun di lapangan, dan terakhir kembali ke kamar. Ia tidak pernah menumpahkan rasa lelahnya di hadapan kami, jika ia sudah tak kuat, maka akan segera tidur. Tak sekalipun merasa berjasa meskipun banyak hal yang dikerjakanya. Dengan segala kebaikannya juga dia tidak menganggap dirinya tinggi, selalu berbaur dengan tawa bersama kami. Itulah mengapa yang membuat kami terus bergerak tanpa harus ada komando, cukup dengan kesadaran diri saja.

* * * * * * * * * * * * *

“CID tolong dibuang sofa yang sudah buruk di depan kamar, sebelum Ustaz sendiri yang memindahkanya.” Tegas Ustaz Tio memberi peringatan saat kumpul mingguan.

Kata-kata itu seolah masuk telinga kanan, ke luar telinga kiri. Tidak mengena di hati. Lagi pula sofa merah muda yang sudah rusak itu masih bisa dipakai. Entah sekedar untuk tempat duduk ketika memakai kaos kaki sebelum sekolah, ataupun bersantai setelah makan malam. Ustaz Akhlis juga biasa menggunakanya pagi-pagi sebagai tempatnya belajar dengan anggota kelas. Bagian diesel juga kadang-kadang tidur di atas sofa itu saat malam. Aku pikir masih banyak manfaatnya benda itu, sayang rasanya jika harus dibuang.

             Hujan deras membuatku terjebak di masjid lantai 2, padahal niatnya siang itu ingin cepat-cepat tidur di kamar. Sembari menunggu hujan reda, aku, Nafi, dan Zain menebar canda dalam blue house. Tak lama kemudian azan Asar berkumandang, kami pun lekas mengambil air wudu lalu menunaikan salat berjamaah.

             Rintik air hujan sudah semakin tenang. Kami lekas pergi ke kamar dengan jalan cepat, berlindung di atap-atap bangunan, melewati walapa, dan sampai di kamar bagian kursus bahasa. Ada yang aneh di depan kamarku.

“Fi! Sofa di depan kamar ke mana? Kok ga ada?!” Tanyaku panik.

Ga tau Il, ana juga kaget,” jawabnya seraya memasukan sandalnya ke tas kecil.

“Ya Allah jadi kosong banget di depan kamar keliatannya.” Ujarku sedih.

“Iya pee, coba ente aja tanya temen-temen di dalem.”

Aku segera masuk ke ruang tamu, tampak Lalu sedang hikmat membaca koran hari ini.

“Lu! Sofa di depan kamar kemana pee?” tanyaku pada Lalu.

Oh, itu Il, tadi siang dibawa Ustaz Tio bareng temen-temen kelas 6 yang lain pake truk ke TPS (Tempat Pembuangan Sampah),” ia menoleh padaku.

Seketika itu hatiku hancur lebur mendengarnya, ya Allah kenapa dibuang. 

Dah terus temen-temen CID gimana? Ada yang nahan sofanya biar ga diambil ga?” Tanyaku.

“Ya engga ada Il, mau gimana lagi kalau udah kaya gitu.” Jawab Lalu.

“Aduh padahal sayang banget loh Lu, masih bisa dipakai.” Ujarku pada Lalu menyayangkan sofa itu dibuang.

“Udah lah, Il, ga papa, sabar aja.” Asyrof menyambung dari pojok kursi kayu.

Kupenjamkan mata, mencoba merima kenyataan yang terjadi. Kubersandar pada tembok studio lalu bertekad suatu saat pasti akan kubelikan sofa yang baru, jauh lebih bagus dari sebelumnya.   

             Beginilah pondok, sepandai apa pun seseorang melanggar disiplin atau perintah. Pasti akhirnya kena juga. Hanya mereka yang beruntung yang bisa bertahan menyembunyikan kenakalannya. Tetapi lebih baik taat dengan segala yang ada, demi mendapat rida dan berkah para Kiai. Aku belum memahami segala hal yang terjadi saat ini, tapi suatu saat pasti akan mengerti.

 

 

M. Ismail

Mahasiswa International University of Africa



[1] kerja

[2] Sebab kita waktu itu ujian.

[3] Jadi siapa yang kerja.

[4] Kelas enam sama ustaz.

[5] Pengurus kelas 5.

[6] Kita langsung buat kaos kompak gampang banget.


Tidak ada komentar