Terhangat

The Informers Eps. 12 Central Isti’dzan Daiman

 

Sumber: yukepo.com

Anam sebagai ketua pertama di bagian penerangan, dialah penentu utama setiap keputusan di kamar. Mulai dari memutuskan penempatan posisi di bagian, penanggung jawab setiap acara, pencairan dana, dan yang paling penting yaitu pemilihan anggota yang diizinkan untuk tidak masuk kelas. Bukan anggota CID namanya jika belum pernah diizinkan tidak masuk kelas. Meskipun beberapa dari kami lebih memilih masuk kelas daripada turun membantu pekerjaan pondok, salah satunya Aidil. 

 Ada saja tugas-tugas yang harus tim CID selesaikan tiap minggunya, apalagi di tengah perayaan 90 tahun pondok ini. Rasanya hampir setiap hari Nafi, Rifqi atau Fawwas mencetak surat izin untuk meninggalkan kelas, setelah teman-teman bertanya di kamar. Dan pagi ini giliran Rifqi sang desainer Qismul I’lam mencetak suratnya.

MAN MU’ZAN?[1] Tanya Wildan.

“Ana, Panji, Husein, Yazid, sama Farhat.”

“Panji daiman pee!”[2] Keluh Revo dari pojok kamar.

Soheh, huwa-huwa kula marroh,[3] lalu ikut kesal.

Ana baru tiga kali pee,” Panji membela seraya senyum cengengesan.

Ana faqot lam bil marroh, Ji!” Sahut Aidil sambil pergi meninggalkan kamar.

Kholas loh, Dil, irdho faqot[4],” balas si anak Pasuruan itu.

Aidil dengan berjalan cepat menuju kelas setelah membuang muka dari Panji.

Yaudah besok-besok yang belum pernah diizinin ga masuk kelas, bilang ke ana. Panji sama yang lainya yang udah sering izin gantian. kasian tuh Lalu, Najieb, Alvis, Wildan yang jarang dizinin, Ji!” Tegur tegas Anam sang ketua.

Haduh, Ji, Ji!” Bayu menambah-nambah.

“Iya-Iya.” Panji tertunduk memelas. 

“Biasa aja loh, Ji, gitu aja baper pee,” sahut Alvin.

“Idih baperan pee, Panji,” Nova menyenggol di sampingnya.

“HAHAHAHAHAHA. JI, JI,” Alvis tertawa terbahak-bahak padanya.

“Apaan sih, siapa juga yang baper.” Panji pindah dari kamar ke ruang tamu setelah termakan rasa malu.

Yah pergi dia, hahaha aduh parah ente, vis!” Raka meliriknya dengan senyum canda.

“Duh kok ana sih?”

“Iya ente loh biasa aja ketawanya tadi, Vis,” Najieb ikut menegur.

Kholas lah, La ubalie[5] hehehehehehehe.” Sang teknisi dari Riau ini buru-buru keluar kamar.

Suasana di kamar sesaat kembali normal. Teman-teman perlahan menyebar ke kelas, membopong tumpukan buku di tanganya. Sedangkan mereka yang diizinkan tidak ikut kegiatan belajar masih asyik bersantai membaca koran atau sekedar tidur-tiduran di atas karpet halus. Karena baru mulai kerja pukul jam 8 tepat biasanya.

* * * * * * * * * *

Aku buru-buru ke kamar mengajak Fawwas untuk izin hari ini. Hari paling diidam-idamkan CID untuk izin, yaitu hari Kamis. Rasa menyenangkan sekali saat penat-penatnya belajar, bisa izin tidak masuk kelas paginya, diizinkan tidak membimbing latihan pidato siangnya, apalagi kerjanya hanya mengontrol mik dari jauh ketika ada tamu-tamu dari pondok alumni.

Perizinan hari kamis tidak hanya pagi saja, malam pun kami bergantian menentukan siapa yang dizinkan tidak ikut kumpul wajib mingguan dengan Ustaz Pengasuhan. Dua atau tiga orang diperbolehkan mempersiapkan sound system di depan Aula untuk acara bahasa setiap hari Jumat pagi.

            Qismul I’lam sebagai keluarga pergerakan bahasa di pondok. Tidak diwajibkan ikut serta dalam kajian bahasa untuk kelas 5 dan 6 di masjid pada tiap Selasa dan Jumat. Sesekali aku coba bergabung ke acara itu setelah salat Subuh, ustaz pembimbing bahasa marah-marah ke kelas 6. Aku sampai sekarang masih ingat sekali apa yang dikatakannya dengan lantang.

WALLAHI MAN LA YAHMIL KUTAIB, ANA UHALLIK![6]

Sejak mendengar itu, aku tidak pernah lagi hadir.

            Sampai datanglah suatu pagi, tubuhku terasa lelah sekali setelah membimbing lomba pidato kemarin malam. Selepas salat Subuh hari Jumat aku segera buru-buru bersembunyi ke gudang untuk tidur. Kabarnya pagi itu juga Ustaz Faruq membuat keributan di kamar karena anak-anak terlambat bangun, tanpa sepengetahuanku, Nafi dan Alvin ikut bersembunyi tidur di gudang. Benar-benar nyenyak terbawa mimpi indah hinga akhirnya.

‘STUUUUUUK’

Sebuah novel tebal menghantam keras kepalaku, aku mengelus-ngelus kesakitan. Saat perlahan kumemandang ke depan, Ustaz Mimin menatap dingin seolah sudah dijatuhkan hukuman karena tidur di gudang. Aturannya memang sudah ia buat sebagai ustaz riayah pembimbing CID. Ku lirik ke samping kanan dan kiriku, terlihat Nafi dan Alvin tampak pasrah juga menerima hukuman.

“Kalian bukannya ikut agenda marhalah [7]di depan gedung Syiria, malah tidur di gudang!” Ustaz Mimin memarah-marahi kami yang masih berusaha mengumpulkan nyawa, usai tidur pagi.

“Sekarang kalian semua botak!”

Kami hanya mengangguk menyetujui keputusannya, lemas, dan pasrah.

“Husein mana guntingnya,” tanya Ustad Mimin.

“Ini. Ustaz,” gunting kecil pink diberikan Husein.

KREK-KREK-KREK

Si petugas disiplin itu mencoba mencukur-cukur rambut panjangku. Karena tebal, dia pun kesulitan, bukannya rambut yang terpotong malah guntingnya yang menyangkut di kepalaku.

“Husein, minta gunting ke bagian Keamanan!”

Na’am, Ustaz. Husein segera pergi meninggalkan kami.

Suasana semakin canggung, Alvin dan Nafi tertunduk diam, begitu pula Ustaz Mimin. Ku hanya berharap ini lekas selesai.

Tak lama Husein kembali dengan gunting hitam panjang. Sang penegak disiplin ini pun mulai memitak rambut kami satu persatu secara bergantian.

“Jangan diulangi lagi! Setelah ini silakan dirapikan di tukang cukur, ingat botak! Bukan yang lain.” Kata Ustaz Mimin sembari beranjak meninggalkan kami semua.

Rasanya kesal sekali dibotak di gudang sendiri, apalagi ini kali pertamaku botak selama duduk di kelas 6. ‘AAAAAARRRGGGGHHH USTAZ MIMIN!’ Gumamku dalam hati. Semenjak hari itu aku tak pernah ikut kajian bahasa lagi, dan pastinya gudang bukan tempat persembunyian yang aman lagi. Untungnya masih banyak tempat persembunyian CID.

* * * * * * * * *

“Hari ini siapa aja yang diizinin?” Tanya Wildan polos.

Ana, Aidil, Asyrof, Sulthan, sama Fawwas.” Jawab Zain datar.

Yaah ana ga diizinin lagi pee,” keluh Wildan.

Udah lah Dan, ente ba’din faqot ma’i murofiq KMD[8], lebih lama ga masuk kelasnya.” Sambung Raka dari tengah kamar.

“Iya pee jalan-jalan ke kampus 2 lagi,” ujar Yazid.

“Yaudah lah, oke.”

Aku hanya menyimak dari depan lemari, tak berharap dapat izin ikut KMD. Karena jujur saja, ku tak suka kegiatan Pramuka. Di saat mereka bercengkerama soal perizinan, aku bernegosiasi dengan Nafi mengenai sarapan pagi.

“Fi, ente mau beli lauk atau ngambil nasi?”

Ana beli lauk aja, Il, ente ambil nasi yang banyak ya di dapur.” Nafi mengambil secarik uang di lemarinya.

Oke deh, Fi, siap.”

Aku beranjak pergi sepuluh langkah ke dapur umum, sedangkan Nafi tujuh langkah ke walapa[9]  sekedar membeli lauk 5 ribu dapat 7 macam makanan. Hal ini sering kali kami lakukan untuk menghemat waktu, dan ingin lauk tambahan. Beruntungnya kamar kami amat strategis untuk pergi kemana pun.

            Rasa iri dan dengki tak pernah bersarang di hati rekan-rekan CID. Kami paham semuanya pasti akan dapat giliranya masing-masing, dan memiliki kapasitas kemampuan yang berbeda-beda. Daripada memperdebatkan hak, kami lebih suka menebar tawa dan canda-canda. Bersyukur bisa dipertemukan di satu kamar dengan orang-orang yang bisa saling menghargai.

 

 

M. Ismail

Mahasiswa International University of Africa



[1] Siapa yang diizinin?

[2] Panji terus nih.

[3] Dia-dia terus.

[4] Udahlah, Dil, terima aja.

[5] Udahlah ana ga peduli.

[6] Demi Allah yang ga bawa buku catatan kecil, saya botak!

[7] Angkatan

[8] Kamu nanti aja sama saya ngebimbing kursus mahir dasar.

[9] Kafetaria dekat kamar.


Tidak ada komentar