Terhangat

The Infomers Eps. 11 Acara Perdana

Sumber: Pinterest

“Hari ini gladi terakhir, upacara untuk apel tahunan. Ustaz harap semuanya siap tampil dengan sebaik mungkin. Kontingen-kontingen konsulat yang betul tampilnya, material art, gymnastic, dan marching band juga. Parade barisan jangan ada yang asal-asalan!” Tegas Ustaz riayah memberi komando dari panggung. Seminggu setelah pelantikan pengurus resmi OPPM, Acara apel tahunan diadakan. Biasanya ada jarak waktu sekitar 2 minggu atau lebih, namun betapa padatnya tahun ini.

Qismul I’lam mengontrol penuh pengeras suara untuk acara kelak, namun tidak semua anggota ikut. Karena beberapa dari kami juga ada yang turun ke lapangan untuk tampil seperti Nafi dan Alvin yang memegang alat musik tim marching band. Gladi hari ini aku menjaga stander mik parade barisan setiap konsulat, menjaga agar mik berada tepat di depan mulut sang komandan barisan yang berseru, “HORMAT GERAK! …… TEGAK GERAK!”

Husein, Sulthan, Revo, Yazid, Anam, dan yang lainya sibuk mempersiapkan daerah panggung. Mixer dengan 32 channel menyambungkan arus yang menyebar ke seluruh lokasi-lokasi sumber suara, seperti mik untuk pembawa acara, pimpinan upacara, alat-alat musik, dan beberapa clip’on untuk petugas upacara.

Rentetan Huper juga berderet rapih dengan jarak 4 meter setiap satu pengeras suara dan pengeras suara lainya. Tapi karena apel tahunan ini tidak hanya dihadiri oleh kaum Adam, ada terop besar di depan gedung Al-Azhar khusus untuk istri-istri ustaz senior dan ustazah-ustazah maka ditaruh juga dua pengeras suara di sana. Huper pun diletakkan di belakang barisan-barisan santri. Banyaknya kotak suara aktif yang digunakan di lapangan membuat kurangnya jumlah huper yang diperlukan untuk apel tahunan di sekitar qoah. Maka mau tidak mau teman-teman CID nantinya harus segera menganggkat huper yang ada dilapangan ke aula pertemuan, beberapa menit setelah upacara selesai.

Gladi sore ini berjalan dengan lancar dengan sedikit evaluasi. Background upacara apel tahunan telah terikat dan tersusun rapi dengan bambu-bambu, begitu pula background di belakang panggung utama. Tak terasa lantunan ayat Al-Qur’an sudah berbunyi dari instalasi pondok, tanda waktu persiap-siap untuk salat Magrib.  Pekerjaan akan dilanjutkan setelah shalat isya kelak.

Malam pun tiba dan para pembimbing telah siap mengontrol juga turut membantu. Aku dan lainya menuju lapangan dari gerbang di samping kantor pengurus harian OPPM. Teman-teman kelas yang lainnya juga sibuk menyelesaikan pekerjaanya masing-masing, beberapa orang merapikan tanaman di depan panggung, ada yang menyiapkan maskot, ada juga menaruh segala atribut-atribut yang akan dikenakan besok.

“CID-nya mana? Kok cuman sedikit, Nam?” Tanya Ustaz Mahmud pembimbing kami, dari tempat mixer.

“Mungkin masih siap-siap di kamar, Ustaz, atau engga ada urusan yang lain,“ jawab Anam sambil mengulurkan kabel cannon.

“Ya Allah, acara besar perdana kalian kok begini.”

Anam hanya diam tak menghiraukan kritiknya, walaupun faktanya benar beberapa teman tak terlihat saat acara besar pertama saat resmi menjadi OPPM.

Aku turut membantu-bantu apa merapikan kabel kebelakang tanaman-tanaman hias di depan panggung menuju podium utama. Dua sound pasif kecil diletakkan di depan panggung utama. Yazid, Husein, Nova, dan teman-teman yang lainya juga ada yang menyiapkan mik-mik untuk musikus. Kabarnya besok ada kelompok tanjidor yang melantunkan musik Ojrot yang biasanya di putar saat parade barisan. Hingga tengah malam kami berkerja, lalu memastikan semuanya aman setelah itu segera kembali istrihat ke kamar. Besok acara besar, kami harus bangun tepat waktu besok.

Sejuk embun pagi menyambut hari yang luar biasa ini. Santri berbondong-bondong pergi menuju ke lapangan hijau. Peserta parade barisan konsulat mengenakan kemeja putih dengan peci songkok, sedangkan kelas 6 gagah dengan kemeja angakatan berwarna biru langit. Dan juga anggota penampilan Bhinneka Tunggal Ika dari konsulat-konsulat menggunakan kostum-kostum yang menarik, topi bulu ayam, boneka ondel-ondel, Reog Ponorogo, kuda lumping, dan banyak lagi. Begitu pula kostum kompak rombongan penampilan dari material art, Gymnastic, dan Marching Band. Dan kami sebagai tim multimedia siap siaga di sekitar panggung.

Nikmat sekali rasanya jadi Qismul I’lam saat apel tahunan. Dengan berjas dan berdasi berwibawa di bawah terop-terop merah putih seperti ustaz-ustaz yang lainya, dikala kelas 6 yang lainya harus terjemur di bawah terik panasnya  matahari. Selama 3 tahun menjadi santri baru kali ini rasanya bisa menonton setiap penampilan saat upacara apel tahunan dari atas panggung. Apalagi saat penampilan tarian-tarian daerah kami harus menjaga kabel yang ada di depan panggung agar tidak disenggol ataupun diinjak-injak. Rasanya bangga bisa menonton dari dekat bahkan melebihi ustaz-ustaz yang lainya. Betapa senangnya kami melihat senyuman-senyuman ceria para santri, atraksi-atraksi menakjubkan, dan juga maskot mother ship[1] kelas 6 yang diiringi barisan siswa akhir dibelakangnya.

Apel tahunan kali ini amat menyenangkan bagi kami semua. Segalanya berjalan dengan lancar tanpa ada kendala yang terlihat. Kami rekan-rekan CID pun dengan tanggap memindahkan huper-huper dari lapangan ke Aula pertemuan dengan tepat waktu. Meski memuaskan akan tetapi benar-benar menguras tenaga dan pikiran. Setelah salat Zuhur diadakan tidur wajib untuk melepas semua letih yang melekat di raga. Kadang aku berfikir banyaknya kegiatan yang ada di pondok adalah cara pendiri dan pimpinan agar para santrinya terus bergerak, tidak kaku, dan menyatu dalam kebersamaan.

* * * * * * * ** * *

Malam-malam terasa lebih padat dari biasanya. Rasanya 25 lima anggota CID saja tidak cukup. Dalam satu waktu ada tiga acara yang berbeda. Husein, Zain, Prass, dan Anam bergerak di panggelaran seni akbar kelas 5. Nafi,Yazid, Wildan, dan Nova mengontrol sound system di panggung gembira kelas 6. Nafi sibuk mepersiapkan menjadi pembawa acara panggung gembira. Bayu, Agilatul, Fawwas, Panji, dan Lalu dikarantina untuk acara drama. Revo dan Najieb fokus menciptakan lagu untuk acara panggung gembira. Sedangkan aku sendiri bersama Aidil, Sulthan, dan beberapa teman yang lain menjaga acara kelas 3 intensive dan kelas 4 di qoah.

Ustaz Naufal berfokus di tengah qoah, mengontrol mixer dalam acara demonstrasi bahasa. Aku dan rekan Qismul I’lam yang lainya fokus di atas panggung sebagai operator mik. Tugas kami mengontrol memandu pengisi suara menggunakan mik dengan benar, mengamankan miknya jika sudah terpakai, dan berkerjasama dengan panitia untuk pembagian mik. Sulthan memegang mik yang terhubung dengan operator mixer untuk mempermudah komunikasi.

Sebuah acara untuk melestarikan bahasa daerah dalam bentuk pentas seni. Perwakilan-perwakilan dari beberapa konsulat besar menampilkan drama dengan logat sukunya. Konsulat Kalimantan dengan bahasa Banjar, Konsulat Jawa Barat dengan bahasa Sunda, Konsulat Sumatra Barat dengan dengan bahasa Minang, dan beragam bahasa lainya. Karena ini sebuah drama, maka pengontrolan pembagian suara harus terkoordinir dengan baik jika tidak maka aktor yang tampil buruk. Dan kali ini CID menyiapkan 4 mik kabel dan 2 mik wireless, aku dan yang lainya selalu siap siaga di samping panggung.

“Penampilan pertama siapa yang tampil?” Tanyaku pada panitia.

“Konsulat Jakarta, Al-akh[2],jawab Arif salah satu panitia acara dengan memegang kertas susunan acara di tangan.

Aku lihat anggota konsulat yang akan tampil perlahan memenuhi panggung.

“Ayo siapa yang aktor utamanya?”

Ana, Al-Akh,anak bercelana batik melambaikan tangan padaku.

“Oke ini kabel wireless-nya. Ingat dipakainya jangan terlalu jauh, dua jari dari mulut!” Ku mencontohkanya dengan  menempelkan kedua jariku di depan bibirku.

Na’am, Al-Akh.” Ia mengangguk.

“Siapa lagi nih yang butuh miknya? Ayo!” Tegas Aidil menanyakan kepada santri-santri di atas panggung.

“Ini, ini, Al-akh,” salah satu dari mereka menunjukan orang-orang yang akan mengambil peran.

Ana ingetin, miknya kalau sudah dipakai jangan dibanting atau dibuang ke lantai, ditaruh pelan-pelan. Fahimtum?”

Fahimtu, Al-Akh.

Sulthan dari tembok panggung sembrang melambai bertanya pada kami.

“Gimana, uda siap?”

Aku dan Aidil mengangkat jempol, dan tiraipun perlahan terbuka lebar.

            Syukur acaranya berjalan lancar sejauh ini. Komunikasi dengan para panitia berhasil menghasilkan penampilan yang sempurna. Tapi tidak dengan beberapa peserta, ada saja ulahnya. Salah satu aktor ceroboh sekali mejatuhkan mik keras ke lantai, bahkan ada satu pengeras suara yang tertendang jauh.

“AAARRGH!” kesal Sulthan dari sisi tertutup panggung, tangannya mengepal keras.

“Itu kok ditendang miknya?!” Heranku.

“Yaudah, Il, cepet gulung miknya kesini biar ga ketendang lagi.” Aidil menepuk dari belakang.

“Oh iya, Dil, ini mau ana ambil.”

Aku mengambil miknya, menggulung kabel hitam dengan jempol lalu membawanya kesamping. 

“Udah, Dil, aman.”

“Oke, Il, semoga aja abis ini gak ada lagi yang buat masalah.”

“Yaah, semoga aja, Dil.”

Rekan-rekan Qismul I’lam dan panitia kembali lagi siap siaga mengontrol di atas panggung.

            Beruntungnya setelah itu acara berjalan dengan lancar tanpa ada tragedi-tragedi yang tak diinginkan lagi. Beginilah santri, ada-ada saja ulahnya. Dan aku salah satu dari mereka. Live is never flat, hidup tidak pernah datar. Seperti acara-acara di pondok yang ada saja masalahnya, tentunya kami tidak bisa mengontrol kapan masalah akan datang. Tapi kami bisa mencegah hal buruk itu terjadi, atau menghadapinya dengan tenang dan sabar.

* * * * * * * * * *

Di area kelas tertua di pondok, gedung Granada berbentuk leter L bertingkat dua digunakan untuk santri-santri kelas latihan pentas seninya. Drama Arena (DA), sebuah pagelaran seni akbar khusus untuk kelas 5 dan hanya dirasakan oleh mereka. Berbeda dengan panggung gembira yang turut mengikut sertakan para santri. Namun acara besar ini juga tidak lepas dari pimbingan para pembimbing dan kaka kelas 6, termasuk zona sound system.

Zain, Prass, Husein, dan Anam bertanggungjawab penuh mengontrol sound system di DA. Tepatnya setiap kali anak-anak kelas 5 gladi acara. Uniknya mereka tidak hanya berempat saja, beberapa santri tahun ke-5 ini juga turut membantu. Dari Afdol yang lugu dan berbadan kecil, Risvan yang murah senyum dan pura-pura tak tahu apa-apa padahal duduk kelas teratas, Ubed yang berbadan tinggi kekar namun sangat ramah dengan kaka kelas, Obit yang bersosok tegas penuh ambisi tapi tetap sangat hormat kepada yang lebih tua, dan juga anggota lainya.

Husein dan Anam tak banyak bicara ataupun memberi pesan apapun kepada penanggung jawab sound system dari kelas 5, mereka hanya memberikan contoh dan menjawab ketika ditanya.  Berbeda dengan Zain dan Prass yang begitu menyayangi adik-adik kelasnya. Mereka berdua suka sekali memberi motivasi setelah gladi selesai, mengajak mereka ngobrol santai, dan bahkan sesekali mengajak mereka makan bersama. Di antara panasnya persaingan untuk lebih baik dalam pagelaran seni akbar yang diadakan kelas 5 dan 6, ada sebuah titik persaudaraan yang hangat di antara kaka kelas dan adik kelas.

Terkadang kami juga terkagum-kagum dengan cara menghormati adik kelas kami. Jika biasanya saat gladi DA, tak hanya ustaz yang diberikan konsumsi kami pun anggota CID disuguhkan semangkok sekoteng ataupun es buah. Sesekali juga Anam terkesima saat Ustaz Mimin pembimbing dari kelas 5 mengucapkan terimakasih kepada Qismul I’lam, karena baru kali ini dia seseorang mengucapkanya.

Dulu seseorang pernah bilang bagian penerangan itu seperti gula dalam kopi. Seenak apapun kopinya tidak akan pernah dipuji gulanya enak, pasti disebut kopinya enak. Akan tetapi ketika kopi dalam cangkir itu terasa pahit, gula selalu disalahkan gulanya kurang nih. Mirip halnya dengan Qismul I’lam sebaik apapun kualitas suara dalam acara, kita tak pernah menerima terima kasih sedikitpun. Namun saat terjadi NGIIIIIIIIIING alias feedback, pasti kami jadi kambing hitamnya. Ideologi ini bukan prinsip kami, hanya sekedar kicauan-kicauan manusia belaka.

Kami tetap teguh ikhlas membantu pondok, dipuji atau tidak, dihargai atau tidak, dimengerti ataupun tidak. Jujur teman-teman CID tidak peduli, yang terpenting pondok tetap maju. Sebab bukan karena manusia kami bergerak, tapi wujud syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan mengemban amanah yang besar ini. Maka kami lakukan sebaik mungkin untuk membantu pondok dan agama.



[1] Kapal induk

[2] kak

 

Tidak ada komentar