Terhangat

Sedia Payung Sebelum Acara

 

Sumber: Pinterest

Kamis pagi ini tidak ada kewajiban menjadi pengawas latihan pidato untuk rekan-rekan CID, karena Ustaz Riza telah meminta kami agar meminta izin. Dia ingin mengumpulkan kami di gudang, hendak membicarakan beberapa hal dan menyelesaikan sesuatu bersama-samaa. Kostum amal; kaos jersey dan celana training sudah melekat di badan kami menggantikan kemeja-kemeja masuk kelas sebelumnya. Satu persatu berangkat ke ruang bawah tanah Qismul I’lam, beberapa dari kami juga telah ada yang sampai di sana.

 Ada alasan kuat kenapa Ustaz Riza sampai mengumpulkan kami, aku penasaran. Husein, Sulthan, Najieb dan yang lainya dengan tanggap merapihkan gudang, Bayu juga dengan cekatan menyapu lantai ruangan. Tak lama yang ditunggu-tunggu pun tiba mengenakan kemeja mengajar tanpa mengenakan dasi. Dia duduk diantara sound-sound besar sembari meminta Revo mengambil kotak mik.

Bismillahirahmanirrahmanirrahim… Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh.”

“Walaikumsalam warahmatullahi wabarakaatuh.

“Langsung saja, Ustaz tidak mau berlama-lama. Satu setengah bulan lagi kita akan menghadapi acara terbesar tahun ini yaitu peranyaan 90 tahun pondok. Sebelum itu tiba kita harus ngecek semua barang-barang yang ada, berapa yang masih bisa, berapa yang harus dibetulin. Jika ada yang perlu dibeli lagi kita beli segera. Anam!”

“Iya, Staz

“Dulu setiap pagelaran seni akbar kelas 5 dan 6, mereka mesti mewakafkan puluhan mik. Nah kok Sekarang di kotak miknya kok cuman tinggal sedikit, sisanya pada ke mana?” Tanyanya tegas.

Afwan, Ustaz, kayanya mik-miknya ketinggalan di aula-aula di sekitar pondok, setelah menyiapkan sound belum dikembalikan lagi ke gudang.”

“Yaudah kalau gitu, tolong pagi ini ente sweaping[1] ke tempat-tempat yang mungkin ada mik disitu atau alat-alat lainya. Ajak temen-temen.”

“Oh iya, Ustaz, nanti ana bagi tugas untuk sweaping setelah ini.

“Jangan sweaping semuanya, Nam, ada juga yang disini cek kabel cannon ada yang noise atau engga.”

“Oke, Ustaz nanti anak-anak bagian teknisi yang ngecek, Ustaz.”

“Bagus kalau gitu, kamu  dan teman-teman didata alat-alat semua. Catat kira-kira berapa yang kurang, setelah itu laporkan ke Ustaz Akhlis, atau ustaz yang lainya. Afwan ini Ustaz buru-buru juga ada acara lain. Jadi gitu ya nam jangan lupa!” Dia menegakkan badanya lalu beranjak pergi menaiki tangga.

“Iya, Ustaz, nanti ana koordinir teman-teman,” Katanya sembari tersenyum menunggunya pergi.

            Anam mengumpulkan kami segera, membagi tugas masing-masing. Satu tempat dikirim satu pasangan untuk sweaping ke tempat-tempat seperti; Aula Pakistan, Aula Bagian Pendidikan Pondok, Aula Wisma Pondok, sekitar masjid, studio, dan area lainya. Kali ini aku mendapatkan memeriksa di wisma bersama Wildan.

            Si Anak Saburai ini berhasil memperoleh sepeda ontel, entah dari mana. Karena memang jaraknya cukup memakan waktu jika dilalui dengan berjalan kaki, kami bergonjengan ke sana. Melewati lapangan hijau dan gapura pondok. Setibanya di wisma hijau milik pondok ini, tempatnya begitu sunyi, tenang, dan sejuk.

“Eh, Dan, ayo naik ke atas!”

“Yaudah yuk, Il.”

“Sepedanya hati-hati ditaruhnya jangan sampai ilang.”

“Weh aman, Il, ga ada siapa-siapa kok.”

TOK..TOK..TOK

Assalamualaikum, Ustaz!”

Ku ketuk pintu kamar Ustaz penghuni wisma ini, kebetulan bersebrangan dengan aula wisma letaknya.

Pintu perlahan terbuka, lalu tampak pria berambut klimis menyilaukan itu.

Walaikumussalam, limaza akhie?”[2]

Afwan, Ustaz, saufatis adawat lil Qismul I’lam fil Qo’ah.”[3]

“Oh ya, taffadol, Akhie,[4]” dia segera berbalik dan memberikan kuncinya.

Syukron, Ustaz.”

Afwan~”

Aku dan Wildan lekas membuka pintu aula, memeriksa lokasi biasanya teman-teman CID bersangkar disini. Ternyata firasat Anam betul, ada beberapa mik yang masih tertinggal di sini dengan dua buah kabel. Barang-barang itupun ku ambil, dan mengembalikan kuncinya. 

            Man Arafa bu’da safarin, istadda.[5] Salah satu pepatah arab ini menjadi prinsip utama kami sebagai bagian penerangan. Padahal acara masih 2 bulan lagi, sudah mulai dipersiapkan sedini mungkin. Ini pun baru persiapan permulaan, biasanya akan ada kumpul-kumpul penting bersama para musrif di aula CID untuk membicarakan semuanya secara terperinci. Meski ancang-ancang kami telah dari jauh-jauh hari, tidak menutup  kemungkinan terjadinya masalah saat acara. Entah apapun yang terjadi, setidaknya sudah kami persiapnkan semaksimal mungkin.

* * * * * * * * * * * 

Operator sound setiap kumpul wajib pondok selalu berada di samping jendela depan aula. Tugasnya mengontrol kualitas suara yang keluar dari setiap media yang digunakan, dari mulai, video di layar kaca, melodi piano, sampai yang paling sentitif yaitu mik. Benda itu memiliki pengontrolan suara lebih, dari yang lainya. Karena beda orang yang menggunakan mik, beda pula pengaturanya di mixer. Di dalam benda dengan banyak tombol bass, tremble, middle yang dapat diputar ke kanan atau ke kiri ataupun yang channel mik yang naik turun mengatur volume. Jika salah mensettingnya akan menimbulkan suara yang memekikkan telingnya. “NGIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIING,” atau biasanya kami sebut dengan Feed-Back.

Mixer Yamaha dengan 6-16 channel mik yang biasa digunakan saat acara pondok, entah di aula ataupun yang lainya. Ada pun yang lama bentuknya abu-abu, terlihat sangat manual dengan hanya dua 2 channel mik didalamnya. Dan kali ini rumornya ada mixer yang baru saja dibeli khusus untuk acara peranyaan 90 tahun Pondok.

Malam itu setelah menyantap tahu lem tambak, alias tahu isi aci tebal tapi biasanya anak-anak menyebutnya begitu. Aku, Nafi, Aidil, Alvin, dan Raka hendak masuk ke dalam kamar. Tiba-tiba Zain menarik lenganku dari belakang.

“Eh, Il, ente mau lihat sesuatu ga?” Ajaknya.

Nafi, dan yang lainya tidak mepedulikanku lalu asyik bersantai di ruang tamu.

“Lihat apa, Zain?”

“Udah ikut ana aja dulu, Il, ke gudang.”

Aku pun menerutinya berjalan menuju markas CID itu.

Tak lama kami pun tiba di sana, waktunya memang tak cocok karena berhempitan dengan azan Isya. Aku terdiam sesaat terheran-heran padanya.

“Ada apa sih, Zain?”

“Ini loh, Il!” dia menarikku mendekat suatu benda yang masih terlihat asing.

“Apa nih? Barang baru ya?”

“Iya, Il, ini namanya Mixer Digital, channel-nya ada 32, katanya ini itu ga banyak tombol-tombol kaya bass, tremble, middle, dan gainnya. Semuanya diatur di satu layar yang Touch-Screen, keren kan, Il?”

“Iya mantep banget pee, barang fungky kaya gini bisa berapa ya harganya?” tanyaku sambil mengelus-mengelus kardus barang itu.

“Katanya sih sekitar 200 juta’an, Il, harganya.”

Gholin jiddan pee, masrufat ana mundu judud hatta faslu sadis faqot, la yakfi lisrai haza.[6]

Soheh il ana kazaka hahahahha.[7]

            Hahahhahhaha.

Ruang bawah itu pecah dengan tawa kami berdua. azan Isya pun  berkumandang, membuat kami segera keluar dari ruangan tersebut dan segera mengambil air wudu.

            Pondok bukan hanya mempersiapkan sesuatunya dari jauh-jauh hari. Tapi memberikan yang terbaik untuk para santri, bukan hanya sekadarnya saja. Dan Kabarnya bukan hanya mixer digital yang baru datang, ada juga sap aktif yang amat berat dan katanya harganya mencapai puluhan juta. Benar adanya kata pendahulu, pondok ini dari santri untuk santri dan didik oleh kiai santri. Jadi terasa betul keberkahan kebersamaan di dalamnya.

 * * * * * * * * * * *

Sebuah menara menjulang di  sebelah masjid berwarna abu-abu, konon sudah berumur puluhan  tahun higga tampak banyak karat menempel di dinding besinya. Tikus-tikus dan burung-burung menjadi penghuni tetap disana.  Namun bagaimana pun juga bangunan itu masih amat berjasa memopong tinggi banyak corong TOA untuk mengumandangkan azan dan lantungan ayat suci Al-Qur’an. Kabarnya di tahun ini menara itu akan dirubuhkan lalu diubah menjadi lebih baik dan modern.

Diantara ribuan santri, tidak semua boleh memasuki lokasi tersebut. Hanya bagian-bagian terpilih yang mempunyai kepetingan diperbolehkan ke sana, seperti bagian diesel untuk memeriksa lampu-lampu dan arus listrik, dan juga bagian penerangan yang mengontrol suara-suara tetap bisa keluar dari corong-corong yang menggantung di sana.

Malam hari, sepulang dari kumpul di masjid. Aku, Nafi, Alvin, Aidil, dan Raka sedang asyik menyantap seporsi Pecel Lele di kafetaria. Kebetulan sekali makan di sana karena masih awal bulan, uang belum terkuras habis. Perut kenyang hatipun senang, sudah makan tak lekas pergi kembali ke masjid tapi kami hendak mampir bersantai terlebih dahulu di teras kamar CID. Bersantai di atas sofa tua sembari memadangi wajah-wajah santri yang lalu lalang.

“Dil, masih laper ga ente? Beli roti bakar di samping Qoah yuk?”

Kholas, Il, mabtun jiddan ana haqiqotan,[8] jawab Aidil sembari mengelus-ngelus perutnya.

“ Deh ente, Il, ga kenyang-kenyang,” tegur Alvin.

“Ya kali aja masih ada yang laper kan,” kataku sambil mataku melirik yang lainya.

“Nanggung, Il, udah bentar lagi salat Isya. Nanti besok-besok lagi aja,” kata Nafi menasehatiku.

“Iya soheh pee, tapi kok jam segini belum ada suara murottal dari JMQ[9]-nya?”

“Wah iya pee, kok belum ada ada ya?”

Di tengah-tengah percakapan kami, tiba-tiba Sulthan lewat dan berseru.

SOUND MENARA MATI!”

Kami tekejut mendengarnya, bergegas belari kenjang ke menara, menerobos kerumunan orang-orang yang berjalan. Aku dan yang lainnya yakin, ada kemungkinan kabel sound di atas sana terputus sebab gigitan tikus. Para santri terheran-heran melihat kami panik melewati gedung-gedung. Tepat di depan Masjid Jami’ kami membagi menjadi dua tim, ada yang masuk ke dalam menara, ada juga yang memeriksa mixer dan amplifier dari blue house.

Ana, Yazid, sama Husein ke Blue House. Dil, sama yang lainya tolong cek ke atas menara,” seru Sulthan.

“Oke-oke.”

            Gembok kode yang menempel di pintu menara dengan cepat dibuka. Kegelapan ruangan menara pun menyambut kami, tak ada sinar terpancar di dalamnya selain dari lampu cabai kecil yang pernah ditaruh Qismul Makinah.[10] Puluhan anak tangga dengan besi yang keropos kami pijaki satu persatu, tangan kami bepegang kuat di pagar besi yang sesekali bergoyang-goyang seakan ingin rubuh. Jantung pun berdenyut semakin kencang dari biasanya.  Kala itu tak terfikirkan lagi keselamatan kami, hanya ingin terus berjuang bagaimana caranya membantu pondok.

            Tibalah kami di pintu pertama menara. Alvin dan Panji yang pertama kali menjajahkan kakinya disana, sedangkan aku masih berhati-hati menyusul dari bawah. Mereka yang telah sampai di atas lekas memerika kabel-kabel, corong-corong pengeras suara, di dalam dan diluar ruangan. Menurut mereka tidak ada satupun kerusakan yang ditemukan. Aku yang baru di CID bingung apa yang harus  dilakukan.

“Audzubillahi-minasyaitonnirrajimm..  Bismillahirahmanirrahim”

Suara lantunan Al-Qur’an mulai keluar dari corong-corong menara.

“JIII! PANJII!” Husein teriak dari bawah Masjid yang berjarak sekitar 20 meter.

“KENAPA, SEN!” Panji membalas.

“UDAH SELESAI JI, SALAHNYA DARI BLUE HOUSE!”

“OKE, SEN!” Panji pun berbalik badan.

Kholas pee, fabana muskilahtuhu fi Blue House pee.”[11]

“Haduh, kalau gitu ngapain susah naik menara,” keluh Aidil.

“Hah yaudahlah gimana lagi, udah terlanjur juga,” kataku.

            Kami berlima pun segera beranjak turun dengan rasa campur aduk, tenang karena masalahnya sudah selesai, dan kesal karena tidak ada gunanaya naik menara. Bagaimanapun juga apa yang kami lakukan sekarang, akan menjadi cerita indah di masa depan kelak. Benar kata Pimpinan pondok.

Seindah-indah masa adalah masa muda.

Seindah-indahnya masa muda adalah waktu belajar.

Dan kalian semua rasakan itu semua di pondok.”



[1] Menyapu memungut barang-barang.

[2] Kenapa nak?

[3] Maaf ustaz mau mengecek peralatan bagian penerangan di dalam.

[4] Silahkan nak.

[5] Siapa yang mengetahui seberapa jauhnya perjalanan akan bersiap-siap.

[6] Mahal banget, uang bulanan saya dari anak baru sampai kelas enam aja, ga mungkin cukup buat beli ini.

[7] Bener il ana juga.

[8] Udah lah, Il, saya udah kenyang banget beneran.

[9] Jamiyyatul Qurro, Komunitas Qori Santri-santri.

[10] Bagian Diesel.

[11] Udah selesai nih, ternyata masalahnya di Blue House


Tidak ada komentar