Terhangat

Ketika Dia Telah Tiada

Sumber : madaninews.id


Manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Penciptaannya bukan untuk dipermainkan. Ada skenario yang sudah tersusun sangat rapi. Tanpa adanya kekeliruan sedikit pun. Mungkin iya, kita seringkali salah paham dengan takdir kita. Beberapa orang bahkan mengutuk tentang takdirnya. Memberikan label bahwa dirinya adalah pembawa sial.

Kita terlalu sibuk memikirkan urusan takdir, yang padahal sudah sangat jelas kalau takdir bukanlah ranah kita. Apa yang terjadi saat ini, baik ataupun buruk merupakan proses dari terciptanya kita yang lebih baik lagi. Akan ada sebuah hikmah di akhirnya.

Covid-19 misalnya, sebuah fenomena pengguncang dunia. Menghancurkan kestabilan seluruh negara. Bukan satu, dua orang yang terkena imbasnya, tetapi seluruh penjuru dunia. Banyak sekali kabar duka bertebaran. Satu demi satu para mujahid berguguran. Dalam medan tempur yang berbeda.

Rasa khawatir menghinggapi siapa saja yang mendapat sebuah kabar bahwa keluarganya sedang tidak baik-baik saja. Dan semakin hancur ketika kabar kematian tiba-tiba muncul. Apalagi jikalau itu salah satu dari kedua orang tuanya.

Orang tua menjadi salah satu tempat kembali seorang anak yang ternyaman. Orang tua pulalah yang paling banyak berkorban untuk kebaikan anak-anaknya. Pengorbananya pun tak bisa kita balas walau dengan mengegedongnya mengelilingi ka’bah.

Maka Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk berbakti.

قُلْ تَعَالَوْا اَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ اَلَّا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًاۚ

“Katakanlah: Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua.” (QS. Al An’am: 151).

Dan Rasulullah pun telah memerintahkannya, ketika beliau ditanya oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

أيُّ العَمَلِ أحَبُّ إلى اللَّهِ؟ قالَ: الصَّلاةُ علَى وقْتِها، قالَ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: ثُمَّ برُّ الوالِدَيْنِ قالَ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: الجِهادُ في سَبيلِ اللَّهِ قالَ: حدَّثَني بهِنَّ، ولَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزادَنِي

“Amal apa yang paling dicintai Allah ‘Azza Wa Jalla? Nabi bersabda: “Shalat pada waktunya.” Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu apa lagi?Nabi menjawab: “Lalu birrul walidain.” Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu apa lagi?” Nabi menjawab: “Jihad fi sabilillah.” Demikian yang beliau katakan, andai aku bertanya lagi, nampaknya beliau akan menambahkan lagi (HR. Bukhari dan Muslim).

Nah, dari sini kita telah mengetahui bahwa berbakti kepada orang tua bukanlah perkara yang dianjurkan. Melainkan sebuah perintah dari Allah dan Rasul-Nya. Namun, bagaimana ketika mereka telah tiada? Apakah sudah berakhir tugas kita untuk berbakti.

Masih ada banyak cara untuk berbakti. Masih ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memberikan kebahagian kepada mereka. Bukan kebahagian dunia melainkan kebahagiaan akhirat. Kebahagiaan yang paling abadi.

Suatu hari seorang sahabat yang telah ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya bertanya kepada Rasululkah tentang bagaimana cara ia berbakti kepada kedua orang tuannya.

يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِىَ مِنْ بِرِّ أَبَوَىَّ شَىْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا

“Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orang tuaku ketika mereka telah meninggal dunia?”

Setelah mendengar pertanyaannya, Rasul ﷺ menjawab:

نَعَمْ، الصَّلاَةُ عَلَيْهِمَا وَالاِسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِى لاَ تُوصَلُ إِلاَّ بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا

“Iya, masih tetap ada bentuk berbakti pada keduanya. (Bentuknya adalah) mendoakan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orang tua, dan memuliakan teman dekat keduanya.” (HR: Abu Daud).

Setidaknya ada empat hal yang masih bisa kita lakukan. Pertama, mendoakannya. Mendoakannya adalah hal yang wajib kita lakukan ketika mereka telah tiada. Ini bahkan menjadi satu hal yang lebih baik daripada memperingati tapi lupa mendoakannya. Kedua, memohonkan ampunan. Memohonkan ampunan merupakan amal Jariyah yang tak pernah terputus. Dan menjadikan naiknya derajat orang tua kita. Ketiga, menjalin hubungan silaturahmi dengan keluarga orang tua. Dan yang keempat, memuliakan teman dekat keduanya.

Keempat hal inilah yang Rasulullah contohkan kepada kita. Bagaimana beliau tetap menjalin silaturahmi dengan keluarga orang tuanya. Dan tetap memuliakan kerabat orang tuanya.

Satu hikmah, yang didapat. Rasulullah memang ditakdirkan menjadi yatim piatu sejak kecil karena Allah ingin menjadikan beliau pribadi yang kuat, yang hanya bergantung kepada-Nya.

Jangan terlalu larut dalam kesedihan, buatlah mereka bangga dengan diri kita. Berikan hadiah terindah disurga.

  

Abida Kamila

Mahasiswi International University of Africa

Tidak ada komentar