Terhangat

Broadcasting

 

Sumber : istockphoto.com

Izaa Hanaa-l-waqtun li-d-Dukhuli Fasli, ha hiya haazihi furshatun likasbi-l-ululmi almutanawi’ah wannafia’ah. Wa izaa hanaa waqtun lizahabi ilal jaami’,  ha hiya haazini furshatun liqiro’atil aayatul  Qur’aniyyah, wa simaa’atil nashrotil-Arabiyyah. [1]

            “Bismillahirrahmanirrahim.. Asslamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh.” Anam membuka siaran. Waktu Magrib ini adalah kali pertama Idza’ah[2] di awal menjabat menjadi pengurus resmi.  Sang ketua menjadi sosok teladan pertama bagi teman-teman yang belum pernah siaran. Giliran tampil di hadapan 3000 lebih kepala manusia ini ditentukan dari urutan bagian di Qismul I’lam, dari mulai ketua, sekretaris, bendahara, sampai yang terakhir bagian perlengkapan.

 Dengan jumlah anggota dua 25 orang, maka hanya berkesempatan sekali atau dua kali sebulan untuk idza’ah, belum lagi kalau botak. Karena peraturan yang selama ini dijaga adalah kalau botak tidak boleh idza’ah. Dan faktanya 90% dari kawan-kawan CID pernah botak, aku salah satunya. Maka bagiku broadcasting [3] itu hal yang sakral, perlu persiapan ekstra untuk menghadapinya.

Siaran di depan ribuan santri selama beberapa menit, memanjatkan doa bersama, membacakan panggilan-panggilan, dan menyajikan syair-syair indah dari karangan kami. Bukanlah tanpa pengawasan. Di balik ratusan tatapan mata yang memandang penampilan, ada telinga-telinga yang mengintai mencari kesalahan. Karena setiap dari anggota Qismul I’lam akan menyimak sang mudzi’,[4] menerka-menerka kata-kata yang salah disebut olehnya, tatanan bahasa yang keliru, lalu menulisnya di atas kertas, buku kecil, ataupun tangan kosong.  Bagai malaikat masjid yang mencatat dosa-dosa mudzi’, setelah itu diadili bersama-sama dalam mahkamah bernama Intiqodad.

            Syukron katsiron ala husni-l-ikhtimaamikum, waa narjuu liljamii’ attaufiq wan najah. [5]Wassalamualaikum warahmatullahi mabarakaatuh.”  Anam menutup siaranya dengan sempurna. 

            “Ya Allah, Nam, mantep banget pee ente, ana sampai susah nyari naqd-[6]nya,” ujar Panji menghampirinya dari belakang tembok tempat imam.

            “Ah enggak, Ji, ana biasa aja.” 

Rekan-rekan CID akhirnya berkumpul lengkap di dekat blue house, mengeluarkan catatanya masing-masing, siap menghakimi mudzi’ hari ini. Duduk melingkar dengan Anam di tengahnya, dan dibuka pertemuanya oleh Aidil sang penanggung jawab utama idza’ah.

“Bismillahirrahmanirrahim.. Assalamualaikum warahmatullahiwabarakaatuh.”

“Walaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh.”

“Gimana antum sudah siap dengan naqd-nya ya?”

“Udah, Dil,” Nafi menjawabnya.

Toyyib, idzan hayya nabda intiqodadtuna bil basmallah.[7]

Bismillahirrahmanirrahim.

            Zain orang pertama menyebutkannya, dia mendapatkan beberapa kesalahan kecil dari si penyiar malam ini. Dia menemukan keliruan dalam konteks hukum mudhof-mudhof ilaihi yang digunakan Anam, lalu ia memberitahu yang benarnya seperti apa. Dengan rendah hati Anam mengakui kesalahanya lalu mencatatnya. Secara bergantian kami menyebutkan segala dosa-dosa yang dibuat si penyiar, dari hal yang paling kecil hingga yang amat penting. Namun kali ini sang ketua tampil begitu sempurna sampai beberapa orang tak sanggup menemukan kesalahan yang ia perbuat.

“Giliran ente, Vis, ada naqd ga?” Aidil menagih dihadapanya.

“Ga ada pee, udah disebutin semua hehehehe.” Ia menggaruk-garuk kepala.

“Hah, okedeh selanjutnya. Il, ente punya naqd ga buat Anam?”

Kholas~, Sabaqo dzikruhu dil.”[8] Jawabku seraya tersenyum malu.    

“Haaaaaah… Sabaqo dzikruhu daiman pee.

“Yaah kaifa Kaman, pee, mafiee[9]

            Anak dari NTB ini pun mengangguk, memaklumiku. Kemudian berlanjut ke teman-teman setelahnya. Raka menggelengkan kepalanya lalu mempersilahkan Umam di sebelahnya menjawab. Si anak bendahara ini pun hanya mengarahkan tanganya ke Farhat di sampingnya. Dan untuk kesekian kalinya seseorang mengangkat tangannya untuk menyerah sampai akhirnya jatuh ke tangan Aidil sendiri di urutan terakhir.

“Oke ana punya beberapa naqd lagi yang belum disebut. Pertama.. “

Aidil menembak Anam tiga kali berturut-turut dengan naqd yang dia punya. Si ketua tertunduk-tuntuk menulis kesalahan-kesalahanya. Aidil masih menemukan dosa-dosa dalam kaedah Ilmu Nahwu di saat rekan yang lainya sudah tidak bisa mendapatkanya lagi.

            Master of Naqd, mungkin itu gelar yang layak ditrima Aidil tahun ini. Secara dia hampir tidak pernah diam saat intiqodat, lisan-lisan kawan Qismul I’lam yang menyiarkan pengumuman tak ada yang luput dari catatan naqd si Aidil. Sebagai ketua bagian pengembangan bahasa di CID, memang wajar jika dia berprilaku terliti mengenai itu semua. Bahkan bukan hanya soal ahli mencari masalah, dia juga mampu menjadi contoh untuk menjadi mudzi’ yang baik

Naskah-naskah bahasa Arab dan Inggris, terkesan sederhana, mudah dipahami, tapi sempurna. Retorika dan intonasi bacaanya juga mengalir lembut menembus telinga para santri. Dan yang paling senjata andalannya adalah syair-syair menawan karanganya, ia bisa mengarang kata kaana-yakuunu hingga menjadi kun-fayaakun,[10] memainkan satu kata lalu memekarkanya jadi beragam kata-kata yang menarik. 

Man arafa bu’da safarin, ista’adda’,[11] itulah salah satu nilai yang tersirat dalam kegiatan di Qismul I’lam, yang selama ini ia tanam. Bukan hal yang remeh untuk melahirkan naskah yang apik, Aidil biasanya butuh waktu tiga hari hingga satu minggu lamanya. Mulai dari mengecek kecocokan kata di kamus-kamus, memebenarkan tulisanya berkali-kali, dan mencuri waktu kosong untuk membaca terus menerus karanganya. Maka wajar jika Aidil bisa tampil dengan baik dengan persiapan yang bukan main-main. Tak jarang ia pun gondok ke anak-anak yang menganggap remeh suatu siaran. Padahal letak pendidikan CID sesungguhnya ada di situ, terus berbenah, belajar, dan menjadi teladan bahasa bagi para santri.

            Si anak Flores berambut ikal ini bukan satu-satunya hakim intiqodat terganas bagi kami. Mungkin dia mampu menebas mudzi-mudzi dengan naqd-nya saat pekan bahasa Arab, Namun tidak begitu hebat ketika pekan bahasa Inggris. Fawwas lah orangnya yang berhasil mengalahkan Aidil dalam hal pronountiation[12] dan grammar.[13] Ia seringkali membenarkan kami tentang cara mengucapkan kata ‘graduate’, dan berbagai kata lainya. Meski dia sering terlihat mempunyai sifat lembut, penyanyang, dan tidak pernah marah. Akan tetapi ada saatnya kata-katanya begitu tajam, dingin, dan terdengar amat serius.

 Ketua pengembangan bahasa Qismul I’lam kami pun mengakui kapasitas manusia genius berkacamata dari kota Bekasi. Dia amat teliti dan terlatih, baginya kamus Oxford yang amat tebal terlihat seperti mainan, membaca tulisan-tulisan berbahasa Inggris tak ada kesulitan baginya sudah banyak novel berbahasa asing yang ia tamatkan.  Aku tak heran mengapa Allah takdirkan dia hadir di CID, tak lain untuk memperkokoh kualitas bahasa Inggris teman-teman. 

Tampaknya Aidil cukup puas dengan naqd yang ia berikan ke Anam malam ini. Ia pun menutupnya,   Maka tak usai pertemuan kami malam itu di situ saja, dilanjutkan dengan agenda lainya.

Nahtatim intiqodadtuna bil hamdalah![14]

Alhamdulillahirabbilamiin.

Wa nabda, kaifa law!

“Ayoo pee ada yang mau dibicarain ga?” Tanya Revo.

“Katanya besok Yazid ulang tahun pee, soheh la, Zid?[15] Husein menyikut Yazid di sampingnya.

“Langsunglah beli ayam nungging, Jid.” Anam menepuk paha Yazid.

Mata Kaman[16] loh, Jid, ayoloh mau ana pesennin ga nih? Tri yang masih berkumpul dengan kami memijat bahu Yajid.

“Ah.. Kholas loh pee,[17] bosen makan ayam nungging terus. Besok Insyaallah ana bawa makanan dari rumah aja. Ga tau pake apa yang penting besok ba’da intiqodad langsung tanggap ke kamar semua,”

“Oh ya ana lupa rumah ente deket sini ya, Jid.” Husein menggaruk-garuk kepala kritingnya.

“iya pee, wong P-O hehehehehe..” sahut Najieb.

“Hahahahhahahahahaha,” tawa pecah diantara kita.

“Eh ada lagi ga yang mau di omongin?” Resah Panji.

“Kenapa sih ji, ente Mudif na’am?[18]  Zain melirik heran padanya.

“Panji mudif diam-diam aja pee.” Sindir Alvis.

“Emangnya siapa yang mudif, Vis? Zain SINA-SINA PEE[19].”

“Weh santai, Ji, ga usah ngegass,” tegur Farhat.

“Iya, Ji, biasa aja loh.” Nafi menyenggolnya dari samping.

“Bukan gitu pee, udah laper nih,” raut muka si anak Pasuruan ini pudar.

“Yaudah ini ada yang mau diomongin lagi ga? Bayu bertanya.

Mulut-mulut kami terdiam tak mau berucap apapun, hanya melirik-lirik. Sampai akhirnya Fawwas menyeru.

Kholas mafiee, hayya nakhatatim![20]

“Yoo Nakhtatim bilhamdalah!” Anam menutup perkumpulan.

Alhamdulillahirabbil Alamiin..”

            Seketika setelah acaranya ditutup Anam merapat ke tengah perkumpulan, lalu menyodorkan genggaman tangannya dengan jari jempol yang keluar ke samping.

            “Ayo pee tangannya!” Seru Sulthan.

Rekan-rekan CID dengan tanggap ikut bergabung, saling menggenggam jari jempol teman di sampingnya sampai berbentuk lingkarang yang benar-benar rapat. Bagai kabel-kabel yang menyatu sama lainya lalu menciptakan suara yang menawan. Maka itulah kami sebuah ritme-ritme melodi kehidupan yang berpadu membuat cerita indah. Anam sebagai mudzi hari ini memberi aba-aba yel-yel.

C-I-D CREW!” suara Anam mengendap dalam.

JUST LISTEN – DO ACTION – WE ARE EXCELLENT!”

Tangan-tangan terlepas ke atas lalu mendarat dengan sebuah petikan jari seraya beseru

TEK’

“HEM… A-E![21]

            Kami pun sontak sama-sama berdiri, lalu menyebar ke tujuanya masing-masing. Ada yang berkumpul dengan teman klubnya, beli makanan di kafetaria, menelepon di wartel, bersantai-santai di runag tamu, dan aku, Aidil, Agilatul, Nafi, Raka langsung menuju dapur umum. Jelas saja kami ini menenangkan perut kami yang sudah lama meronta-ronta. Meskipun begitu terkadang senda gurau di kala sesi kaifa law hingga mendekati waktu Adzan Isya, dan terkadang harus tidak makan. Tapi bukan masalah bagi kami, karena tawa dan kebersamaan lebih berarti dari pada hanya sekedar pekikan lambung.

            Hari ini baru pertama kali melihat Anam tampil siaran di depan para santri. Aku jadi semakin tak sabar menunggu giliranku unjuk gigi nantinya, belum waktunya saja sudah terbanyang naqd-naqd dari Aidil pasti akan menghujaniku kelak. Tapi tak apa, ku akan mencoba semuanya dan tak perlu takut salah. Sebab lebih baik salah tapi sudah mencoba, dari pada tidak pernah mencoba karena takut salah.



[1] JIka tiba waktu untuk masuk kelas, inilah kesempatan untuk mendapatkan ilmu-ilmu bermacam-macam dan bermanfaat. Jika datang waktu untuk pergi ke masjid, inilah kesempatan untuk membaca ayat-ayat Qur’an dan berita bahasa arab . 

[2] Siaran.

[3] Siaran

[4] Penyiar

[5] Trimakasih atas perhatian baik kalian semua, dan saya harap untuk semuanya mendapatkan pentujuk dan kesuksesan.

[6] kesalahan

[7] Oke kalau giitu ayo mulai  intiqodad ( pengumpulan kesalahan-kesalahan yang dilakukan seseorang) dengan bismillah

[8] Telah disebutkan sebelumnya

[9] Gimana lagi, ga ada.

[10] Jadilah maka jadilah

[11] Siapa yang mengetahui jauhnya perjalanan akan bersiap-siap

[12] Cara baca/mengucapkan Bahasa inggris

[13] Tata penulisan bahasa inggris

[14] Kita tutup intiqodad kita dengan hamdalah

[15] Bener ga?

[16] Kapan lagi

[17] Udah lah

[18]Kamu dijenguk ya

[19] Buat-buat

[20] Udah ga ada, ayo tutup

[21]Audio Engineering


M. Ismail

Mahasiswa International University of Africa

Tidak ada komentar