Terhangat

Aku dan Ayah

 

Sumber: pinterest

Hangat dan menyenangkan. Pagi ini ayah mengajakku bermain ke taman kota. Menikmati udara pagi juga butiran embun yang bergelayutan manja pada helai daun. Sengaja aku sentuh, merasakan setiap tetesnya yang beradu dengan kulit. Suara riuh pengunjung ikut meramaikan suasana. Terdengar sorak-sorai anak seusiaku bermain sepak bola dan voli.

Hematku, matahari sudah mulai meninggi. Menyapa bumi yang semalam tidur lelap dibelai temaram cahaya bulan. Seakan semburat cahayanya menyiram sekujur tubuhku yang pada hari-hari biasa lebih suka sendirian di kamar bersenda gurau dengan sepi. Memaksanya mengeluarkan butiran keringat dari pori-pori kulit.

Hari ini hari libur. Ayah selalu baik padaku. Selalu tahu keinginanku meski tanpa aku pinta. Ayah sering memberiku hadiah ketika aku mendapat juara kelas atau memberi kejutan di momen spesial tertentu. Aku memang tidak jago dalam olahraga bahkan tergolong payah. Namun dalam bidang akademik aku lumayan bisa diperhitungkan, karena aku mempunyai memori hafalan yang kuat.

Ayah bekerja sebagai pegawai kantoran dengan gaji pas-pasan. Berangkat pagi pulang sore, setiap hari seperti itu. Namun ayah tak pernah bosan menemaniku belajar di malam hari, juga tak segan berbagi kisah menarik. Tawanya yang khas, agaknya terdengar menyenangkan di telinga. Ia suka bercanda. Tapi aku sendiri kurang suka dicandai. Aku hanya bisa berandai-andai suatu saat nanti aku bisa menatap baik-baik wajahnya yang termakan usia.

Ibuku juga baik. Orangnya sabar dan pengertian. Kendati aku suka merepotkan, sejauh ini belum ada yang bisa menggeser posisiku sebagai anak tunggal. Aku suka semua masakan ibu, baik yang sederhana seperti nasi goreng atau yang spesial seperti kari ayam. Ibuku bukan wanita karier. Tugasnya hanya mengurus aku dan rumah. Semua tugas rumah mampu ia garap sendirian. Mulai dari mencuci, memasak, membersihkan rumah, bahkan sampai merawat dan menyiram kebun sederhana kami di pelataran rumah. Kalau saja aku bisa membantunya pasti aku akan lalukan. Aku sayang mereka berdua. Sangat sayang.

Kalau saja guratan takdir bisa diubah, ada yang hendak aku adukan pada Sang Pencipta, "Yaa Allah, izinkan aku menatap wajah keduanya walau hanya sekali.” Pintaku dalam hati.

Aku dilahirkan buta sejak lahir. Terlahir tanpa indra penglihatan yang normal, membuat duniaku berbeda dari anak-anak lain. Untuk melihat kedua orang tuaku pun tak sempat. Tidak seperti teman-temanku. Apalagi untuk bertatap sapa dengan dunia ini. Tapi tidak mengapa. Aku yakin Allah punya takdir lain yang sedang disiapkan hanya untukku. Mungkin esok hari atau puluhan tahun yang akan datang. Yang pasti Allah tidak pernah menyalahi janji-Nya.

Ayah memberiku nama Hilyah. Diambil dari bahasa Arab yang artinya permata. Aku tidak tahu pasti mengapa mereka memberiku nama tersebut. Apakah hendak menghiburku karena aku terlahir tanpa penglihatan atau ada hal lain yang belum saatnya aku tahu.

Dahulu, aku sering murung memusuhi takdir, Allah tidak adil. Mengapa aku diciptakan tanpa penglihatan yang sempurna? Sebegitu bencinyakah Allah padaku? Lalu untuk apa aku terlahir jika aku hanya pantas menjadi beban bagi orang di sekelilingku? Menjadi duri yang hinggap di tengah kebahagiaan mereka sebagai sepasang suami istri. Ya Allah aku cinta mereka berdua. Mengapa engkau harus hukum mereka dengan kehadiranku? Kalau sudah begitu aku hanya bisa menangis tanpa suara di sudut ranjang dengan memeluk guling. Aku takut ayah dan ibu mendengar tangisanku, sungguh aku tak tega membuat mereka bersedih.

Aku beranggapan dunia ini terlalu kejam untuk gadis kecil seusiaku. Memasungku dalam keniscayaan, jauh dari masa kanak-kanak yang menyenangkan. Berlarian mengitari taman bunga, saling berkejaran satu sama lain. Bermain boneka, dan kelereng atau petak umpet. Itu semua hanya untuk mereka dan bukan untukku. Aku terus membiarkan air mataku mengalir sampai kering tak bersisa. Sampai suatu saat suratan takdir membawaku pada jalan yang lain. Cahaya yang perlahan tapi pasti membawaku kepada penerimaan dan pengertian hidup bukan untuk kebanyakan orang.

“Hilyah, pagi ini udaranya sejuk. Coba kamu tarik nafas dalam-dalam.”

Aku mencoba mengikuti saran ayah. Menariknya dalam-dalam menikmati setiap bulir oksigen yang terkandung dalam udara membiarkannya mengalir deras ke sekujur urat nadi sampai pada ujung-ujung jari. Lalu aku tersenyum. Hatiku sedang berbahagia.

“Kamu cantik sekali Hilyah, seperti ibumu. Dan kamu selalu membuat ayah bangga.”

Entah itu sebuah pujian atau hanya diksi penghibur, namun aku selalu percaya ayah. Wajahku semakin memerah tak tahan dipuji. Meski aku sendiri belum tahu pasti seperti apa rona merah itu.

“Ayah. Semester lalu aku sudah selesai menyetor hafalan pada ibu guru. Juz 13 surat Yusuf.” Aku memberi tahu ayah tentang perkembanganku di pesantren, entah dia sudah tahu atau belum.

“Oh iya, boleh dong sekarang ayah dengar lantunan Al-Qur’an dari bidadari cantik di hadapan ayah.” Tangannya membelai kerudung panjangku. Mungkin dia sedang tersenyum.

“Boleh. Dengan senang hati.” Lalu aku mulai membacanya dengan tartil satu persatu ayat-ayat kisah Nabi Yusuf alaihisalam. Tidak terasa ternyata aku sudah sampai pada ayat ke 86 : Dia (Yakub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. Bacaanku terhenti sejenak.

Aku merasa ada air mataku yang jatuh mengalir di pipi. Aku segera mengusapnya takut ketahuan ayah. Ingatanku sedang pulih. Saat itu aku memang belum paham bahasa Arab, hanya saja aku teringat kata ibu guru ayat ini berkisah tentang kesedihan Nabi Ya’qub ditinggal pergi oleh putra kesayangannya Yusuf bertahun-tahun lamanya. Setelah ditinggal Yusuf kali ini Nabi Ya’qub juga harus menelan getah pahit lagi ketika mendengar saudara kandung Nabi Yusuf -Bunyamin- tertangkap oleh kerajaan Mesir atas tuduhan pencurian. Berlipat ganda kesedihan Nabi Ya’qub sampai matanya buta teralu banyak menangis mengadu kepada Allah Rabb yang maha mengetahui hikmah dibalik semuanya.

“Hilyah mengapa berhenti ? Ayah senang bisa dengar bacaan Hilyah yang merdu. Anak ayah yang cantik dan cerdas.”

Eh Ayah. Perasaan tadi aku baca terlalu banyak deh. Takutnya Ayah malah bosan. Terik matahari juga sudah mulai panas. Sampai sini dulu saja bagaimana? Habis Hilyah agak lupa ayat setelahnya.”

Kali ini aku terpaksa berbohong pada Ayah. Berharap ayah bersedia membawaku pulang ke rumah.

“Benar juga, matahari sudah meninggi, ayo kita pulang pasti Ibu sudah menyiapkan hidangan spesial buat Hilyah.” Kami pun bergegas pulang, ayah tak segan menggandeng tangan kiriku, sedang tangan kananku menenteng tongkat. Menyusuri jalan aspal dengan berjalan kaki dengan alunan bunyi kendaraan yang sudah mulai riuh melintas di jalanan terasa menggairahkan. Liburan semester teramat berharga bagiku untuk melepas rindu sedikit demi sedikit hingga tak bersisa.

Usiaku sudah menginjak 14 tahun kelas dua Sekolah Menengah Pertama. Setelah membersihkan diri, aku memilih berdiam di kamar memutar murattal Al-Qur’an sembari menghafalnya. Alunan bacaannya sangat bersahabat dengan telinga. Masuk ke dalam gendang telinga lalu ditangkap oleh saraf sensorik dibawa menuju otak kiri untuk diolah sedemikian rupa, kemudian disampaikan kepada mata melalui saraf motorik. Membuat kantong air mataku menetes lagi. Tetesan bahagia.

“Hilyah..” Ibu memanggil dari dapur.

“Iya bu sebentar.” Aku bergegas mengambil tongkat pergi ke dapur. Menyusuri meja dan dinding.

Meski buta jangan salah, aku ternyata mewarisi bakat ibuku jago masak. Tentu semua itu aku dapat dengan bersikeras melawan takdir, merayunya dengan segala kerja keras. Berlatih tanpa kenal putus asa. Pekerjaan mengiris bawang bukan sesuatu yang mudah bagi tuna netra sepertiku, tidak terhitung sudah berapa kali tanganku teriris pisau. Tapi ibu tidak pernah melarangku mencoba dan mencoba lagi. Bahkan ibu pernah bilang, “Hilyah seorang perempuan yang baik harus pandai masak. Minimal mau belajar. Ibu dulu juga seperti kamu dari kecil diminta nenekmu bantu-bantu di dapur. Pernah suatu ketika malah Ibu salah menaruh garam dalam kolak pisang, Ibu kira gula. Ketika dicoba ternyata rasanya asin. Jujur Ibu malu, tapi nenekmu hanya tersenyum dan bilang.

Nak dalam setiap hasil ada proses yang menyertai. Banyak perempuan sekarang memilih instan akibatnya menyajikan nasi goreng saja mereka tidak cakap. Padahal proses itulah yang membuat sesuatu menjadi begitu spesial. Coba kamu pegang daging itu, dia tidak akan terasa lezat bila tidak diiris sisi-sisinya lalu dipanggang di atas api terlebih dahulu. Panas memang, tapi begitulah takdir berbuat untuknya. Manusia juga sama, tidak akan pernah sukses bila tak mau mencoba, meskipun itu terasa sakit, karena gagal dan gagal lagi. Tapi kegagalan dan rasa sakit mendidiknya menjadi sposok manusia yang berbeda. Tidak perlu bersedih.” Nasehat itu selalu terngiang di kepala.

Ibu dan Ayah yang baik hati, suatu saat nanti aku akan menjadi seperti yang kalian impikan. Menjadi anak yang kuat. Menjadi “Hilyah” yang hakiki, permata bagi kalian. Sebuah permata yang dibentuk dari air mata dan ditempa dengan kasih sayang. Aku memang ditakdirkan buta di dunia namun aku bersumpah akan menuntun kalian menuju surga-Nya di akhirat kelak. Aku berjanji akan menyelesaikan hafalan Al-Qur'anku. Gumamku dalam hati.

***

Debur ombak membasuh kakiku sekaligus membuat sebagian tubuhku basah kuyup. Tiupan angin berdesau lembut

Sore ini aku mengenang kembali kisahku delapan tahun silam. Aku berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur'an ketika masih kelas 3 di pesantren. Enam tahun sudah aku tinggal di sana ditambah masa bakti satu tahun. Bahasa Arabku sudah lumayan bagus. Pernah aku memohon izin sekolah ke luar negeri namun Ayah dan Ibu merasa keberatan. Kemudian aku meminta izin mereka untuk mendaftar Ma'had Qur'an bersanad di daerah Bogor.

Sekarang sudah menginjak tahun keempat. Aku sendiri sudah mengantongi satu qiraah berserta dua riwayatnya. Hafs dan Syu’bah dari Ashim. Aku menyelesaikannya dalam tiga tahun. Riwayat Hafs adalah yang paling masyhur di Indonesia bahkan di dunia. Beberapa kejuaraan dari tingkat kabupaten sampai nasional pernah aku ikuti. Selain itu banyak matan-matan kitab lain yang aku juga hafal di luar kepala. Usiaku sekarang 23 tahun. Aku mendengar beberapa temanku sudah ada yang menulis skripsi dan sebentar lagi akan sidang. Ada juga yang memilih segera melepas lajang, menikah muda membangun rumah tangga kecil.

Aku hanya merenung. Orang seperti aku akan bertakdir untuk hal-hal seperti temanku pada umumnya, bisa berkeluarga atau masih tersisa rahasia-rahasia langit yang menungguku. Entah lah.

Hari ini adalah hari Ayah pergi untuk selamanya, tepat dua tahun lalu. Aku kurang pandai bercerita, apalagi untuk menuliskannya. Namun aku akan tetap mengingatnya dalam paragraf kenangan melalui ayat-ayat yang  aku lantunkan bersamanya saat hari-hari libur di taman kota itu.

 

Ibnu Abdillah

Mahasiswa International University of Africa


Tidak ada komentar