Terhangat

Tutup Tahun dengan Takbir

Sumber : www.unsplash.com

Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Laa Ilaaha Illallah.. Allahu Akbar wa Lillaahil Hamd..

Segala pujian hanya untuk Allah, Zat Yang Maha Menguasai segala sesuatu termasuk hidayah yang diberikan-Nya untuk hamba-hamba-Nya yang berpasrah, tunduk pada syariat-Nya. Terima kasih Allah atas segala pemberian-Mu hingga detik ini, matikanlah kami dalam Islam. Amin.

Jikalau ungkapan syukur itu dituliskan di sini maka isinya hanya tentang-Nya. Ah, sudahlah semoga tulisan ini juga menjadi bagian dari mewakili rasa syukur karena titipan ilmu yang sedikit ini bisa diolah.

Sejenak hening, jujur penulis terdiam ketika menulis paragraf ketiga ini. Ya Allah begitu agungnya Engkau, yang bisa menjadikan setiap hari adalah momen besar untuk beribadah. Bulan ini Engkau hadiahkan salah satu mahluk-Mu yang agung, berisikan empat hari dengan keistimewaan yang Engkau berikan dengan dilarangnya kami berpuasa. Ada apalagi gerangan ya Allah? Apa hikmah di balik semua ini?

Engkau merahasiakan-Nya hingga detik ini, namun membebaskan seluruh hamba-Nya untuk mencari hikmah apa yang sebenarnya ada di balik pengharaman puasa selama empat hari ini. Ditambah pula kita mendapatkan pahala tambahan dari setiap takbir yang kita lantunkan jahran wala sirran, yang terdengar ataupun yang berbisik bahkan dalam hati.

Saat ini kita sama-sama kalut dalam masalah, baik di perantauan ataupun di kampung halaman. Dunia kita, khususnya negara kita masih sakit, adapun yang sehat sejatinya tetap tidak nyaman karena saudaranya terkena virus covid-19. Isu pandemik menjadi bulan-bulanan hingga akan genap umurnya dua tahun sebentar lagi. Namun, semoga kita bisa mengambil banyak hikmah sembari tetap berikhtiar sebisanya untuk percepatan bangkitnya kita dari pandemik saat ini.

Hampir-hampir penulis pesimis apakah pandemik ini akan selesai dalam waktu dekat atau masih sangat lama, hingga muncul putus asa. Mungkin perasaan ini muncul juga terlintas di benak pembaca sekalian atau beberapa saja. Itu wajar, namun sebaiknya cepat-cepat kita mentas atau selesai menyelam dari kekalutan ini karena putus asa adalah salah satu perasaan yang Allah benci hadir di hati kaum muslimin. (Surat Yusuf: 87)

Narasi optimisme sebaliknya adalah yang selalu Allah dan Rasul-Nya sampaikan kepada kaum muslimin, seburuk apa pun kondisinya. Narasi itulah yang membuat Bilal bin Rabbah mengikrarkan keimanannya di depan majikannya dengan kata ajaibnya, “Ahadun ahad.. Ahadun ahad.” Narasi optimisme disampaikan ketika kaum muslimin juga sedang membangun parit untuk persiapan perang pada tahun 5 Hijriah tepatnya di bulan Syawal, pesan visioner Rasulullah Muhammad bahwa Islam akan menyebarkan kegemilangannya hingga ujung barat dan ujung timur, juga ditaklukkannya Persia dan Syam.

Seburuk apa pun kondisi yang terjadi menimpa kaum muslimin, sejatinya bukanlah semata-mata menganiaya mereka, justru kalutnya kita dalam konflik walau sebentar akan mengantarkan pada keberanian kolektif untuk bangkit bersama. Bisa dibayangkan saat itu ketika persiapan perang Khandaq, hampir-hampir kita tidak percaya, jika tidak di landasi dengan keimanan akan pesan Rasul tadi. Bagaimana mungkin umat yang jumlahnya kala itu sangat sedikit akan menghancurkan dua imperium besar di zaman itu dan akan meluaskan ekspansi dakwahnya ke seluruh penjuru bumi?

Ya, karena kita punya iman. Dalam saat-saat krisis ini, Allah masih mensyariatkan kita untuk banyak-banyak bertakbir khususnya selama empat hari ini (tanggal 10 Zulhijah ditambah 3 hari tasyrik). Allah menyiratkan pesan untuk hamba-hamba-Nya saat ini agar tetap optimis, yakin pada-Nya bahwa pandemik ini akan segera berakhir.

Selain itu, penulis juga ingin mengajak para pembaca untuk bernostalgia melihat satu tahun ke belakang. Apa saja yang sudah kita lewati? ”Dan tidaklah mereka memikirkan kecuali orang-orang yang menggunakan akalnya.” (Surat Al Baqarah: 269)

Bukan cocoklogi, namun penulis ingin memanfaatkan momen empat hari  diharamkannya puasa dan disunahkannya bertakbir untuk sama-sama mengingat kebaikan kita yang sudah kita beri untuk Allah, setidaknya ada empat hal besar:

1. Berkurban

Betul, tentu yang pertama adalah berkurban. Kegiatan penuh makna juga penuh pahala disisi-Nya. Selain pesan-pesan yang sudah disampaikan oleh banyaknya khatib pada pelaksanaan salat Iduladha, penulis di sini juga ingin mengajak seluruh pembaca untuk memulai suatu kebaikan yang mungkin bisa menjadi hal baru bagi yang belum melakukannya, ataupun agar tetap istikamah menjalankannya. Ajakan penulis kepada semua untuk menabung kurban. Berapa pun yang kita punya, walau itu juga dari uang bulanan yang orang tua berikan, coba sama-sama kita ikhtiarkan untuk ditabung sebagiannya. Jika ada yang ingin memulai dengan merutinkan setahun kurban satu kali itu mulia, jika ada yang ingin memulai dengan merutinkan setiap dua tahun kurban satu kali itu juga mulia, bahkan lebih dari itu juga mulia. Ya, tergantung niat kita.

Prinsipnya tinggal kita breakdown saja dari harga hewan kurban dibagi jumlah bulan hingga akhirnya menemukan jumlah yang harus kita sisihkan setiap bulannya. Berangkat untuk memacu diri lebih baik dari hari ke hari selanjutnya bukankah itu karakter muslim sejati? Tahun ini boleh kita belum berkurban namun insyaallah tahun depan kita akan berkurban.

2. Kembali ‘Suci’

Perjuangan namun nikmat dengan waktu yang cukup panjang selama kurang lebih tiga puluh hari berperang melawan musuh terberat (hawa nafsu) lalu berhasil menjadikan kita menang. Menang juga dengan harap semoga Allah menaungi kita dengan kenaikan derajat takwa yang kita dapatkan dari Madrasah Ramadan kemarin.

Banyak sekali evaluasi dari ayat qauliyah ataupun kauniyah-Nya selama kita bersekolah satu bulan kemarin. Semoga tidak hanya diingat, namun juga menjadi catatan resolusi kita di Madrasah Ramadan tahun depan. Allahumma Ballighna Ramadhan. Amin.

3. Berpuasa Satu Bulan

Sebelum merayakan kemenangan, kita mendapatkan banyak pelajaran yang sudah Allah siapkan di kawah Candradimuka-Nya. Namun entah mengapa saat-saat itu adalah saat-saat paling nikmat untuk bermuamalah dengan kalam-Nya, menyalakan gelapnya malam dengan salat-salat dan sujud pada-Nya, senyuman tulus sepanjang bulan hingga zakat fitrah yang disalurkan membuat kita rindu akan hari-hari itu.

Namun apakah pantas kita menyematkan rasa rindu di hati jika di luar bulan itu ternyata ibadah kita sama saja seperti sebelum datangnya Ramadan? Bukankah Tuhan kita Allah? Atau Ramadan? Kun Rabbaniyyan wa laa Takun Ramaadhiyyan. Jadilah hamba Allah (yang beribadah sepanjang waktu) dan janganlah menghamba ketika datangnya Ramadan saja. Mari kita sama-sama belajar.

4. Tekad Bersama Merayakan Kemerdekaan

Berangkat dari semangat menadaburi kisah-kisah besar yang sudah kita buat sebelumnya, membuat kita hadir ingin mewujudkan kemerdekaan bangsa ini. Awal tahun 1443 Hijriah sudah di depan mata, bertepatan nantinya dengan tanggal 10 Agustus 2021 atau 76 tahun Indonesia merdeka.

Tujuan negara kita sepenuhnya belum terwujud. Menjadi pekerjaan kita bersama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut andil dalam perdamaian pabadi dan keadilan sosial di tingkat terkecil hingga yang terbesar yaitu dunia. Pekerjaan yang cukup berat, mari kita selesaikan bersama-sama. Apa yang bisa kita beri? Jika belum bisa, maka ambillah dari mana saja hal yang baik lalu berjanjilah akan kembali kepada bangsa ini sebagai bentuk pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak.

Semangat kolektif yang kita bangun semoga bisa diterima dan diridai oleh Allah, hingga Allah akan menghadiahkan kita atas kesembuhan bangsa ini dari pandemik covid-19. “Tuhanku, jadikanlah negeri kami negeri yang aman dan berikanlah rezeki kepada setiap penduduknya yang mengimani Allah dan hari akhir melalui buah-buahan yang Engkau tumbuhkan.” (Surat Al Baqarah: 126)

 

Farrel Izham Prayitno

Mahasiswa International University of Africa

Tidak ada komentar