Terhangat

Sudahkah Kau Mencintai Tuhanmu?

Sumber: IQTAF_News


Cinta, sebuah fenomena yang dirasakan umat manusia, di mana kita mendapati sebuah rasa yang timbul di dada, merasa terpompa untuk menggapai dengan segala cara, hingga sebuah pengorbanan termasuk di dalamnya. Cinta merupakan fitrah manusia, sekaligus anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita, darinya timbul kebahagiaan dalam hidup dan penerus generasi selanjutnya. Yang membuatnya istimewa adalah terkadang ia datang secara tiba-tiba tanpa disangka, dan akhirnya menjadi prioritas atas segala hal yang dimiliki, demi menggapai keutuhan dari cinta sejati.

Islam membawa kita pada sebuah definisi tingkat tertinggi dalam mencintai, yaitu sebuah pengorbanan, di mana itu menjadi bukti, serta tolak ukur kecintaan kita terhadap sesuatu. Dalam hal ini Islam mengajarkan kita untuk mencintai Tuhan alam semesta, Allah subhanahu wa ta`ala. Tuhan yang menciptakan kita dan memberi kehidupan di dunia ini, bukankah wajar jika kebaikan membawa pada kecintaan? Lalu pertanyaan muncul di benak kita, sudah sampai manakah wujud kecintaan kita terhadap Tuhan kita? Apakah kecintaan kita terhadap Allah sudah melampaui kecintaan kita terhadap makhluk-Nya? Atau hanya sekedar penggugur kewajiban kita sebagai ciptaan-Nya?

Pengorbanan sebagai bentuk tertinggi dalam mencintai dapat kita temukan dalam kisah para nabi terdahulu, kisah Nabi Ibrahim alaihissalam contohnya. Beliau dilahirkan di lingkungan yang jauh dari agama Allah, sesembahan berhala mengaitkan definisi Tuhan untuk mereka. Ketika akhirnya Allah memerintahkan Nabi Ibrahim membawa risalah kebenaran kepada kaumnya untuk menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah subhanahu wata`ala.

Keluarganya pun mengusirnya, lalu kaumnya menyiapkan sebuah api unggun besar untuk membakarnya, tapi apakah dengan begitu wujud kecintaan beliau terhadap Allah sirna? Tidak, malah cintanya makin menggelora bersamaan dengan kobaran api yang kian membara, melangkah pasti menuju tempat eksekusi yang mungkin menjadi tempat terakhirnya di dunia, akan tetapi Allah senantiasa menolong hamba-Nya yang mencintai-Nya, dengan izin Allah api menjadi dingin dan Nabi Ibrahim selamat.

Ujian akan pengorbanan yang ditujukan untuk Nabi Ibrahim belum selesai, Allah ingin kembali menguji kecintaan Ibrahim kepada-Nya. Ketika umurnya hampir mencapai 90 tahun, baru Allah berikan keturunan atasnya berupa anak laki-laki bernama Ismail, yang juga akan menjadi penerus panji perjuangan Islam. Sebuah penantian panjang dari rentetan doa yang senantiasa dipanjatkan oleh Ibrahim kepada Allah, akan tetapi momen dari penantian panjang tadi, hanya dinikmati singkat oleh beliau.

Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membawa anaknya yang masih sangat kecil serta istrinya ke sebuah lembah tak berpenghuni, yang di dalamnya bahkan tidak ada tanda-tanda kehidupan, sebuah lembah yang hanya dikelilingi batu dan pasir yang bahkan orang sekalipun tidak mengetahui tempat tersebut sebelumnya. Bagaimana mungkin anak dan istrinya dapat bertahan hidup di tempat ini tanpa seorang pun yang mendampinginya, tapi dengan wujud kecintaan Nabi Ibrahim kepada Allah atas segala sesuatu, beliau pun melaksanakan perintah tersebut walau dengan mengorbankan anak dan istrinya.

Perintah Allah tak pernah sia-sia, tempat tersebut hari ini kita kenal dengan nama kota suci Mekkah Al-Mukarromah. Di dalamnya terdapat sebuah bangunan yang menjadi kiblat sujud jutaan umat Islam di dunia, serta mengalir mata air zam-zam yang tak pernah terputus.

Di saat Ismail beranjak remaja, Nabi Ibrahim akhirnya dapat kembali menemuinya, setelah bertahun-tahun lamanya terjadilah reuni antara ayah dan anak sulungnya. Dan sekali lagi, Allah menguji kecintaan Nabi Ibrahim kepada-Nya, dengan memerintahkan beliau untuk menyembelih anaknya sendiri yang baru saja ia temui setelah sekian lama. Inilah pengorbanan tertinggi Nabi Ibrahim atas bukti cintanya kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, di hatinya beliau menempatkan Allah sebagai yang paling dicintainya atas segala sesuatu, maka Nabi Ibrahim pun melaksanakan perintah Tuhannya, dan dengan bukti kasih sayang Allah kepada kekasih-Nya, Ia ganti Ismail dengan seekor domba besar yang akhirnya peristiwa ini menjadi sebuah ibadah yang pada hari ini kita kenal dengan ibadah kurban.

Hari ini, kita mengenal ibadah kurban yang dilaksanakan setiap tahun pada tanggal 10 Dzulhijjah, tepatnya pada hari raya kedua umat muslim di seluruh dunia yaitu hari raya Iduladha. Kurban sendiri berasa dari bahasa Arab yang artinya mendekatkan diri, karena dengan berkurban dapat menjadi bukti cinta kita kepada Allah subhanahu wa ta`ala, dan dengannya kita dapat mendekatkan diri kepada Allah.

Akan tetapi, hari ini kita tidak diperintahkan untuk berkurban dengan anak kita seperti perintah Allah atas Ibrahim, atau dengan mengorbankan anak dan istri kita dengan meninggalkan mereka di sebuah tempat yang asing, atau bahkan mengorbankan diri kita sendiri untuk dilempar ke sebuah api unggun besar, kita hanya diperintahkan oleh Allah untuk berkurban dengan hewan ternak seperti domba, sapi ataupun unta. Yang mana dengan mengorbankan sedikit dari harta kita di setiap tahunnya, yang mana harta hakikatnya hanyalah titipan Allah semata. Sebagai bukti kecintaan kita kepada Allah atas segala makhluk ciptaan-Nya, bagaimana mungkin jerih payah kita hanya diberikan kepada manusia padahal masih ada Tuhan pencipta kita semua yang berhak dicinta lebih dari segalanya.

Dengan segala hikmah dan keutamaan yang sudah kita ketahui, realitanya masih banyak orang-orang di luar sana yang masih mengacuhkan ibadah ini. Dengan segala kemampuan yang dimilikinya, untuk berkurban 1 ekor kambing saja terasa sulit luar biasa, padahal untuk hal lain mereka dengan mudah membelinya.

Terkadangan prioritas dapat menujukkan kecintaan kita terhadap sesuatu, bahkan bisa menjadi tolak ukur ketakwaan, karena katakwaan kita kepada Allah dibuktikan dengan mencintai-Nya segenap hati dan jiwa raga, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, serta mengikuti pembawa risalah-Nya yaitu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Hal tadi seharusnya menjadi dasar kecintaan kita dalam hidup, dan semua itu butuh pengorbanan sebagai bukti tertinggi kita dalam mencintai-Nya, lantas sudahkah kau mencintai Tuhanmu?

 

Abdurrahman Boy

Mahasiswa International University of Africa

 

Tidak ada komentar