Terhangat

Dunia yang Dikejar

 

Sumber : Islamituindah.my

Sering manusia merasakan kegundahan tak berujung lantaran ujian dan cobaan yang menimpanya. Kebanyakan, semuanya adalah perkara duniawi yang semakin dibuat risau, semakin buntu arah pikiran dan batin, dada sesak tak karuan, dan kepala pening tak berkesudahan seolah penyakit manusia ini begitu melekat erat dalam  jiwa manusia.

Dunia yang fana ini begitu menggiurkan untuk dikejar. Ibarat semangka di musim panas, ingin sekali untuk langsung melahapnya. Padahal, dimensi kehidupan manusia tak hanya sebatas dunia. Masih ada ruang-ruang akhirat yang perlu dijadikan tujuan akhir. Allah ta’ala berfirman:

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَ

“Dan kehidupan akhirat itu lebih baik dan abadi.”

Betapa Allah telah menjamin dengan penawaran yang seharusnya manusia menyadarinya, bahwa dunia ini bukanlah harta karun yang sempurna. Namun, apakah dengan demikian manusia harus berlepas begitu saja dari dunia? Allah subhanahu wa taala berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِين

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang - orang yang berbuat kerusakan.”

Ternyata Allah tidak memerintahkan manusia supaya meninggalkan dunia begitu saja. Justru setelah manusia mengejar akhirat, manusia diberi kesempatan untuk mendapatkan kebahagiaan duniawi. Tentu hal ini merupakan kebahagiaan yang tidak menimbulkan keburukan dan kerugian bagi diri sendiri dan kehidupan sekitar.

Manusia tetaplah manusia. Apalagi kita yang bukan wali bahkan nabi. Tentu sulit untuk dapat menyeimbangkan mana yang harus dipikirkan dengan seksama. Dunia atau akhirat yang kekal selamanya. Hidup ini sebenarnya sederhana. Meraih kebahagiaan dunia dengan sederhana saja, sudah menentramkan hati dan pikiran. Badai kegelisahan dalam jiwa kita untuk memaknai permasalahan duniawilah yang mencipatakan kerunyaman tak berkesudahan. Ada seni bersyukur yang sering luput dari diri manusia. Sehingga kenikmatan dunia yang berkecukupan terasa kurang.

Maka, mari kita kembali tadabburi firman Allah yang menekankan supaya manusia tidak terlalu larut dimabuk pencapaian, kegelisahan, cobaan, dan masalah duniawi. Masih ada kampung akhirat menanti. Hingga kita dapat memperoleh kebahagiaan sejati bertemu Sang Ilahi Robbi. Bukankah merupakan kerugian ketika waktu yang diberikan oleh Allah kita gunakan hanya untuk memepermasalahkan urusan dunia?

Dalam setiap aktivitas manusia, tersedia banyak sekali momentum keakhiratan yang bisa dimaksimalkan. Seduhan kopi di pagi hari, dapat dijadikan kesempatan untuk berpikir ukhrawi. Rebahan kita di siang hari, bisa juga diselingi dengan tafakur nikmat ilahi. Bahkan, cengkerama kita bersama teman-teman juga dapat kita selipkan syukur sembari diskusi. Dengan banyak momen yang bisa kita konversikan menjadi kegiatan ukhrawi meskipun kecil, niscaya akan sedikit mengikis rasa cemas kita terhadap dunia yang tak abadi ini.

Bagaimana? Dunia yang penuh rona godaan ini tak melulu hanya membuat hati kita gusar dan gundah jika kita memiliki cara berpikir akhirat. Akhirat sebagai our goal semestinya selalu terpatri dalam mindset kita. Mari menjadi manusia yang berusaha sebaik mungkin mengelola keduniawiaan agar tak merugi hanya karena galau memikirkan pencapaian semu duniawi.

Selamat menikmati hidup dengan mensyukuri hal-hal kecil hingga kebahagiaan mampu membersamai kita meskipun problema hidup senantiasa mengelilingi kita.

 

Hasan Albana

Mahasiswa International University of Africa

Tidak ada komentar