Terhangat

Demi Si Nakal Iqbal

 

Sumber: ar.pinterest.com

Ustaz Rahman, salah satu guru pondok pesantren di pelosok Lampung. 10 tahun lamanya tempat itu berdiri, dan santrinya telah mencapai ratusan. Kini pondok dalam suasana ujian, santri-santri belajar dibiarkan belajar di luar kelas dengan dibimbing para ustad.

Ustaz Rahman beranjak melangkah ke lapangan tempat semuanya berkumpul. Di tengah perjalanan, salah satu panitia ujian menghentikan langkahnya.

“Ustaz Rahman! Anggota kelas antum ada yang belum membayar SPP.”

“Ya Allah, siapa ustaz?” tanya ustaz Rahman bingung sembari memasukan hand phone ke kantungnya.

“Iqbal, itu anak belum bayar dua bulan. Totalnya 1,4 juta. Kalau sampai jam 12 malam dia masih belum bayar, maka terpaksa dia besok tidak bisa ujian,” ujar ustaz panitia tersebut sambil melotot tajam.

“Haduh Iqbal-Iqbal. Kok bisa besok ujian belum bayar SPP sih tu anak.”

“Pokoknya tolong antum ingetin tu anak ya, jangan sampai besok dia ga ikut ujian,” ucap ustaz panitia ujian itu memperingati untuk terakhir kalinya sebelum pergi.

            Rasa gelisah, takut, dan kesal bercampur dalam hati ustaz Rahman. Sesampainya dia di lapangan yang telah dipenuhi dengan sinar lampu tembak, ia berkeliling mengawasi para santri belajar. Ia berfikir, satu-satunya jalan menolong Iqbal hanya dengan bantuan dari teman-temannya. Tapi apakah mereka mau membantu? Karena faktanya Iqbal selama ini terlalu nakal di kelas, sering menjahili teman, berkelahi, berusaha kabur dari pondok, dan malas-malasan dalam belajar.

            Nilai ujian Iqbal yang kecil di awal tahun, menjadikan ujian semester kedua menjadi sebuah penentuan, karena tidak naik kelas menjadi ancamannya. Meski raut wajah itu seperti tidak ada masalah, tepatnya pasrah. Ustaz Rahman terus memutar otak, mencari cara. Beruntung ada temannya dari bagian tabungan santri. Ia meminta bantuan agar anak-anak lain bisa mengambil uang untuk meminjamkan ke Iqbal. Karena katanya, anak itu baru bisa membayar beberapa hari ke depan. Teman ustaz seangkatannya menyetujui, ia akan membantu pengambilan uang.

            Pukul 21.30 kegiatan pembelajaran di akhiri dengan kumpul bersama setiap kelas. Ustaz Rahman kali ini memimpin doa penutup. Usai berdoa, ustaz Rahman memberikan nasehat kepada para santri kelas 1-E.

Bismillahirahmanirrahim, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” mereka menjawab dengan hikmat.

“Kali ini ustaz mau menyampaikan sesuatu penting. Malam ini teman kalian ada yang terancam tidak bisa masuk ruang ujian besok karena belum membayar SPP selama dua bulan. Kalian tahu siapa?”

“Iqbal ustad,” salah seorang anggota kelas menjawab ringan.

Iqbal yang mendengarnya merunduk malu.

“Iya betul Iqbal. Teman sekelas kalian ini memang nakal, di kelas suka tidur, kalau disuruh menghafal susah, dihukum terus sama ustaz, dan suka jahil lagi. Betul?”

“Betul ustaz,” anak-anak membalas pelan.

“Tapi senakal apa pun dia, Iqbal ini tetap teman kalian. Dia juga berhak untuk ikut ujian besok, maka kali ini dia butuh bantuan kalian. Malam ini dia butuh uang 1,4 juta untuk melunasi SPP selama dua bulan. Katanya dia bisa bayar, tapi beberapa hari ke depan, bukan sekarang. Jadi yang mau bantu Iqbal dengan cara meminjamkan uang atau mau bersedekah, bisa setelah ini catat namanya ke ustaz, dan tulis mau meminjamkan berapa banyak, setelah itu ustaz akan ambil jumlah uang yang dituliskan di bagian administrasi. Paham semuanya?”

            Mereka mengangguk memaklumi keadaan temannya. Ustaz Rahman pun menutup pertemuan. Satu per satu anak menulis nama, hingga terkumpul sepuluh orang. Namun sayang jumlahnya masih jauh dari cukup untuk melunasi biayanya.

            Sebagai wali kelas Iqbal, ustaz Rahman tidak mau menyerah. Ia mencoba meminta tolong kepada para wali kelas 1 lainnya untuk mengajak anggotanya untuk membantu Iqbal. 15 Menit setelah membaca doa bersama, uang pinjaman dan sedekah ke si anak malang semakin banyak, hingga dipukul 11 malam, telah terkumpul penuh.

            Sesuai persetujuan dengan temannya di bagian adiministrasi, ia mengambil uang anak-anak yang berniat membantu Iqbal. SPP Iqbal kini telah lunas, tanda bukti pembayarannya segera ustaz Rahman berikan ke panitia ujian. 30 menit sebelum berganti hari, ia sukses membebaskan satu muridnya dari ancaman tidak ikut ujian. Ia menghela napas penuh syukur, beruntung si anak nakal itu kali ini masih diberi Allah Swt kesempatan untuk berubah.

            Kegiatan ujian tulis berjalan lancar tanpa kendala selama 2 minggu. Beberapa hari setelahnya para santri pulang untuk liburan Panjang. Iqbal mengucapkan terima kasih dengan senyuman tulus kepada ustaz Rahman yang telah bersusah payah membantunya. Ustaz Rahman hanya membalasnya dengan lambaian tangan.

            20 hari setelah santri meninggalkan pondok. Pengumuman kenaikan kelas kini telah terpampang di depan kantor panitia ujian. Tak sabar, ustaz Rahman memeriksa dengan berharap anggotanya bisa naik kelas semua.  Tapi harapannya kini harus gugur, ketika faktanya ada 3 orang anak yang belum diizinkan naik tingkat, dan Iqbal adalah salah satunya.

            Gondok, kesal, dan rasa bingung pasti ada setelah melihat kenyataan Iqbal tidak naik. Padahal sudah diperjuangkan sekuat tenaga oleh semua orang, masih saja gagal. Ya, sudahlah mungkin sudah takdirnya, mungkin itu cara terbaik Allah Swt untuk mendidik Iqbal dalam kehidupan. Belajar menggunakan kesempatan sebaik mungkin.

 

M. Ismail

Mahasiswa International University of Africa    

Tidak ada komentar