Terhangat

B. Bharatiensis Spesies Makhluk Baru di Antartika

 

Sumber: BBC.Com

"Antartica is getting greenified. Many temperate species of plants that previously could not survive in this frozen continent are now seen everywhere because of the warming up of the continent," said Prof Bast.

           

Benua Antartika merupakan satu-satunya benua yang tidak dimiliki oleh negara mana pun. Benua yang tidak memiliki penduduk tetap. Benua paling dingin. Musim panasnya saja hanya mencapai 20 derajat celsius. Dan jika suhu di musim dingin mampu mencapai -73 derajat celsius. Dicatat oleh stasiun vostok milik Rusia, benua Antartika pernah mengalami suhu paling terendah pada 21 Juli 1983 yaitu mencapai -89,2 derajat celsius. Kebalikannya  dengan benua Afrika yang menjadi benua dengan suhu paling tinggi di dunia.

Karena suhu yang sangat rendah di Benua Antartikalah, sangat sulit bagi tanaman untuk tumbuh di sana. Namun ternyata ada sekitar 1.150 jenis jamur yang telah teridentifikasi. Hal ini menunjukan keanehan yang kini terjadi di benua Antartika. Salah satu faktornya adalah meningkatnya suhu yang disebabkan oleh pemanasan global. Pemanasan global inilah yang memicu cairnya es yang menyebabkan air laut meninggi disamping efeknya dalam perubahan iklim.

Selain meningginya air laut, Antartika yang mulai menghangat menyebabkan tanaman beriklim mulai tumbuh dan akhirnya membuat Antartika menghijau. Seorang peneliti ekspedisi enam bulan ke Benua Antartika dari India. Yaitu Dr. Felix Bast mengatakan, “Antartika semakin menghijau. Banyak spesies tumbuhan beriklim sedang yang sebelumnya tidak dapat bertahan hidup di benua beku ini sekarang terlihat di mana-mana karena pemanasan benua," jelas Profesor Bast.

 Profesor Raghvendra, seorang ahli biologi terkemuka serta wakil rektor Universitas Pusat Punjab menambahi, "Temuan bahwa Antartika sedang menghijau sangat mengganggu." "Kami tidak tahu apa yang ada di bawah lapisan es yang tebal. Mungkin ada mikroba patogen yang bisa muncul ketika es mencair karena pemanasan global."

Salah satu bukti Antartika mulai menghijau adalah dengan ditemukannya spesies lumut baru di Antartika Selatan. Ilmuwan India dari Central University of Punjab telah melakukan penelitian ini selama lima tahun lamanya. Pertama kali ditemukan pada tahun 2017. Dan melakukan penelitian DNA dengan tanaman lainya. Hingga bisa dipastikan kalau itu jenis lumut baru.

            Lumut ini diberi nama Byrum Bharatiensis. Berasal dari kata Bhara yang menunjukan nama stasiun penelitian India di Benua Antartika. Nama statsiun itu sendiri adalahn dewi Hindu Bharati atau lebih dikenal dengan Saraswati. Hasil penemuan B. Brahatiensis ini telah diterima oleh Journal of Asia Pacific Biodivensity.

            Dilansir pada indian express.com, Dr. Felix Bast selaku kepala departemen botani di Universitas Pusat Punjab mengatakan, Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Januari, yaitu saat musim panas di Antartika. Lumut sepanjang 1,5 hingga 3 cm terlihat tumbuh di beberapa tempat di dekat stasiun Bharati. Spora lumut ini tetap tidak aktif dan bertahan di musim dingin yang parah.

            Yang menjadi pertanyaan besar adalah bagaimana lumut ini bisa bertahan dengan suhu terendah dan sinar matahri yang sangat sedikit? Ternyata tumbuhan yang bisa hidup di Benua Antartika kebanyakan tumbuh di sekitar tempat berkembang biaknya penguin. Di mana kotoran penguin itu sendiri mengandung nitrogen.

            "Pada dasarnya, tanaman di sini bertahan hidup di kotoran penguin. Ini membantu karena kotoran itu tidak membusuk di iklim seperti ini," kata Prof Bast.           

             Sementara dengan sinar matahari, peneliti sendiri masih belum sepenuhnya mengerti tentang hal ini. Mereka baru mengatakan beberapa kemungkinan yang terjadi pada lumut itu. Yaitu, “mengering sampai tahap tidak aktif, hampir menjadi benih” dan berkecambah ketika musim panas tiba. Dan lumut yang mengering menyerap air salju yang mencair. Sehingga ia bisa terus tumbuh.

             Penemuan spesies lumut ini merupakan penemuan pertama spesies tumbuhan bagi India dalam empat dekade sejak dibangunnya stasiun penelitian tersebut. Sekaligus menjadi bukti tentang kondisi baru benua Antartika yang mulai menghangat karena adanya perubahan iklim yang tidak stabil di dunia.

 

Kuni Abida Kamila

Mahasiswa International University of Africa  

Tidak ada komentar