Terhangat

Ayam Bakar Puasa Arafah

 

Sumber: pinterest

Bagaikan harta karun yang hanya muncul setahun sekali, Allah Swt hadirkan puasa arafah begitu istimewa kepada seluruh umat manusia. Terlepas dari perselisihan para ulama, Shaleh salah satu mahasiswa Sudan mempercayai puasa itu ganjarannya dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Sayang dia bukan termasuk orang yang kuat berpuasa, puasa senin-kamis saja tak mampu ia tunaikan.

Dua hari sebelum puasa arafah, Shaleh terbangun, terdiam sesaat, memikirkan bagaimana mendapatkan hadiah yang Allah Swt janjikan ketika menuaikan puasa arafah. Sebagai pedagang ayam di sela-sela kuliahnya, ia berinisiatif untuk membuatkan ayam bakar sebanyak mungkin pada hari-H, dan mulai bertekad, yakin bahwasanya Allah Swt akan membantu segalanya, entah bagaimanapun caranya.

Langkah pertama yang ia ambil adalah dengan mengajak para donatur andalannya untuk berpartisipasi. Alhamdulillah dari situ mendapatkan uang yang lebih dari cukup. Kemudian di pagi hari ketika setiap orang mulai berpuasa, ia ditemani dua teman rumahnya membeli bahan-bahan yang dibutuhkan. Jumlahnya tak pernah tebayangkan sebelumnya, mereka menjarah sekarung ayam dengan berkilo-berkilo bumbu tambahan, ditambah lagi beberapa botol kecap manis yang harganya bisa tiga kali lipat lebih mahal dari di Indonesia.

           Aldi dan Acan yang menemaninya ke pasar hari ini, memilih untuk beristirahat penuh sesampainya di rumah. Shaleh tak bisa diam, meski hanya untuk merebahkan kakinya sesaat. Ia khawatir, mungkinkah ayam sekarung ini akan terselesaikan dalam kurun waktu kurang dari 6 jam. Tak mau menyerah dengan keadaan, ia lekas membuat bumbu dan merendam beberapa ayam.   

           Shaleh ragu bisa menyelesaikannya sendiri, meski sudah dibantu dengan teman-teman rumah. Sebelum azan zuhur berkumandang, ia mengundang teman-teman angkatannya di Sudan untuk membantu porses pembuatan ayam bakar. Fadhil dan Ahmad yang pertama kali tiba, mereka segera bertanya akan apa yang bisa dibantu. Shaleh meminta tolong mereka untuk memotong bawang dan menyiapkan air rebusan untuk meng-ungkep ayam. Tak selang beberapa lama, Arum yang biasa menghabiskan banyak waktu untuk bermain moba dan Nasrul yang eksis di media sosial kini datang, serta Firdaus salah satu temannya menyusul. Toha yang selesai menyelesaikan perkerjaannya di luar kini ikut bergabung.

           25 ekor ayam diolah dengan 2 kompor, 2 alat bakar, dan dieksekusi oleh 7 orang. Tampaknya mudah, tapi nyatanya tidak. Shaleh cemas, harus perpindah-pindah tempat untuk memeriksa teman-temannya. Fadhil dijelaskan bagaimana cara membuat sambal, Ahmad dijelaskan bagaimana cara memotong dan menusuk ayam dengan lidi agar mudah dibakar, Nasrul dijelaskan bagaimana cara membakar dan mengoleskan takaran bumbunya. Beruntung Firdaus sigap mencairkan ayam yang beku lalu merebusnya, dan Toha tak usah diragukan lagi apa yang ia kerjakan, karena sudah 2 tahun ia terjun di dunia bisnis kuliner.

           Matahari kini perlahan merunduk meciptakan senja, sedangkan ayam baru 8 ekor yang matang. Otak Shaleh semakin kacau, beberapa mahasiswa di asrama mulai menanyakan kepastian sajian buka puasa yang ia janjikan. Pemuda itu mencoba menyakinkan mereka, meski diguncang dengan perasaan ragu.

           Gerak cepat, karena kini jam menunjukkan pukul 16.30 sore hari. 10 ekor ayam masih tersisa, Acan yang siang tadi beristarahat kini kembali membantu mengikatkan sambal dan air kaldu di kantong plastik. Fadhil dan Ahmad bergegas menyusun pesanan dengan sterofoam, Nasrul semakin cepat membolak-balikkan ayam bakar, sedangkan Toha harus pergi mengantarkan Firdaus pulang yang menjinjing jatah ayamnya.

           Setengah jam lagi sebelum azan magrib berkumandang. Shaleh begitu takut tidak bisa mengirimkan pesanan tepat waktu, ia tak berhenti berzikir memohon pertolongan pada-Nya. Nasrul dan Arum pamit kembali ke kediamannya membawa dua ekor ayam bakar, Fadhil dan Ahmad menyusul kepergiannya sembari membawa 10 kotak pesanan ke asrama. Masih tersisa 10 lagi untuk para mahasiswi. Beruntung sebelum matahari termakan oleh gelap malam, Toha datang menjemput Shaleh lalu membawanya pergi ke asrama putri. Mereka tiba tepat waktu, sebelum para mahasiswi itu dilarang keluar gerbang asrama. Senyuman hangat terpancar di antara mereka.

           Shaleh menatap langit seraya mengehela nafas, ia tak menyangka semuanya akan terjadi. Berhasil memberikan puluhan ayam bakar untuk berbuka puasa, meski siang tadi ia sempat merasa putus asa. Tapi kali ini ia amat yakin, bahwasanya ia tidak pernah kecewa selama menitipkan tekadnya kepada Allah yang Maha Kuasa. Sebab ia merasa banyak hal besar dilakukkan terasa hampa tanpa berharap pada-Nya, sebaliknya kegiatan-kegiatan sederhana terasa begitu memuaskan dengan mengharap penuh pada-Nya. Sungguh tak pernah kecewa, sekalipun tak pernah.

 

M. Ismail

Mahasiswa International University of Africa

Tidak ada komentar