Terhangat

The Informers Eps. 6 Learning by Doing

 

Sumber: quipper.com

Ku angkat kaki ke belakang satu-persatu, mengambil sandal, dan masuk ke kamar setelah pulang dari salat Subuh. Hawa dingin menyengat di luar lenyap setelah mendekati lemari. Belum sempat kutaruh sajadah, Anam meminta tolong.

“Il, ente sama Wildan tolong siapin sound di depan BPPM[1] untuk latihan hymne pondok.”

Aku terkejut mendengarnya, padahal baru saja sampai di kamar.

“Oh ya, Nam, yaudah nanti ana kesana.” Ku ambil lagi alas kakiku di depan kotak bajuku.

“Okedeh, Il. Syukron-syukron.  Anam mengangguk, merasa semuanya aman-aman saja.

“Ayo, Dan, ke sana!”

“Iya il, tunggu ana.” Dia buru-buru mengenakan jas, menyusulku.

Kami berdua berjalan menuju gudang, mempersiapkan alat-alat yang akan dibawa ke tempat.  Wildan membuka pintu, lalu menyerbu barang-barang yang diperlukan. Satu buah stander mic,  stander sound, sound huper, kabel cannon[2], dan kabel PA [3] untuk keyboard yang akan dimainkan nanti. Kedua tanganku penuh memikul beberapa perangkat, sedangkan si Anak Saburai berotot itu memopong sound huper di punggungnya.

            Santri-santri satu pondok menunggu kami di depan aula, Ustaz Rofi dan seorang musikus juga sudah siap di teras depan. Kami dengan cekatan mennyiapkan segalanya, mendirikan sound huper, memposisikan stander mik, dan mencolokkan kabel-kabel di tempatnya.

“CEK-CEK, Shoutu tajriba wahid, isnani, tsalasah.”[4] Wildan mencoba suara di mik ustaz.

Ustaz Rofi meliriknya penuh perhatian.

Kaifa, Akhi?” sapanya.

Kholas, Ustaz.”[5] Ia menyodorkan miknya ke ustad itu.

Urusan sound huper dan mik sudah aman, tahu-tahu muncul masalah yang lainya. Keyboard tidak keluar suaranya dari sound huper. Santri musikusnya bingung, Ustaz riayahnya terheran-heran, ratusan anak curiga kenapa belum mulai-mulai latihannya. Dan aku kalang kabut mencoba berbagai cara berkali-kali tapi tetap saja tidak bisa.

“Dan, ini gimana ya kok  ga bisa?” Bisikku senyap penuh ketakutan.

“Haduh ana juga pusing, Il, padahal biasanya bisa kalau gitu.” Balasnya dengan menahan rasa panik.

“Ini caranya bener, kan?”

“Iya bener, Il, kabel PA_nya dimasukin ke alat musik sama huper-nya. Tapi kok ga bias, ya?”

“Ga tau, Dan. Atau jangan-jangan kabelnya rusak?”

“Bisa jadi, Il, gimana kalau ente ke gudang ambil kabelnya. ana jaga disini.”

“Yaudah kalau gitu, tunggu sebentar ya, ana coba cari kabel yang lain.” 

Bergegasku berjalan secepat kilat ke ruangan penyimpanan perabotan, Dengan was-was ku buka pintu kayu jati itu, kutemukan Husein sedang berdiri menaruh barang. Tanpa basa-basi lagi, meminta tolong darinya sebagai salah satu tekhnisi andalan di Qismul I’lam. Dia belajar dengan cepat permasalan-permasalahan sound system di lapangan dengan terus mencoba dan banyak bertanya kepada para pendahulu. Namun dengan segala keahlianya, ia tetap terlihat sejuk tampil dengan rendah hati setiap harinya.

“Sen, ini gimana, ya? Tadi udah ana coba Qoah pake kabel PA yang ini tapi ga bisa-bisa. Apa rusak atau rusak atau gimana sen?”

“Perasaan itu kabelnya bisa tau, Il kemarin, Yaudah deh ana ke sana.”

Husen mengambil beberapa kabel yang lainya, dan kami melangkah kencang menemui Wildan. Belum genap satu menit, kami sudah sampai. Si Anak Tekhnisi Sound itu lekas beraksi dengan gesit, memeriksa masalah dan menyelesaikanya satu-persatu dengan sempurna. Aku hanya bisa terdiam kagum. Ustaz Rofi berterima kasih kepada kami, lalu memulai latihannya.

 Kami pun bersama-sama kembali ke kamar, di tengah perjalanan aku banyak bertanya kepada Husein. Apa sebenarnya masalahnya, bagaimana mengatasinya, lalu dia menjawabnya dengan sederhana. Kejadian tadi membuatku sadar, betapa sempit ilmu yang kupunya. Aku masih perlu banyak belajar di CID, skill menggulung kabel dan menggakat sound saja tidak cukup karena masih banyak sekali masalah-masalah yang lainnya.

Atmosfer pendidikan di pondok, selalu terhirup sejuk dalam jiwa. Bukan hanya dengan suri tauladan sang kiai, ustaz-ustaz, dan kakak kelas. Tapi juga dari penugasan-penugasan yang diberikan. Hal yang memaksa kami untuk berfikir mencari solusi, dan menyelesaikanya sebaik mungkin. Dengan semerbak harum keikhlasan di pondok membuat dinamika santri mengalir dengan tenang. Ustaz ikhlas memberikan tugas, santri pun ikhlas menerima tugas, bersama-sama kami membantu pondok dengan semata-mata mengaharap rahmat Allah SWT.

* * * * * * * * *

            Perutku sangat kenyang kali ini, pentol dengan tumpahan saos kacang dari dapur berhasil memuaskanku malam ini. Ku sempatkan mampir ke kamar sebelum beranjak Shalat Isya di Masjid. Di meja tamu tergeletak majalah Audio Enginerring, aku penasaran lalu membacanya perlahan. Zain tiba-tiba masuk kamar mendekatiku, heran dengan apa yang kubaca.

“Zain, bagus ya bukunya? Kayanya mahal-mahal banget ya alat-alat sound system?”

“Iyalah il, mahal. Ente tau ga alat-alat di gudang tuh harganya jutaan, bahkan sampai puluhan juta ada.”

“Wah, mahal banget pee.

“Makanya harus di jaga il. Jangan asal taruh sound sama kabel sembarangan abis kerja.

“Oh iya pe, ana kadang-kadang suka asal taruh Sound, lagian cape banget.”

“Jangan gitu il besok-besok.” Zain menepuk bahuku.

“Iya Zain, afwan.” Ku tutup majalahnya dan menaruh sajadah ke pundak.

“Eh ente tau ga ente il, harga belajar sound system diluar berapa harganya?”

“Ga tau pee, emanyanya berapa?”

“Dulu tuh il, Ustad Riza sebelum bimbing CID, pernah kuliah tentang Sound Engenerring beberapa lama, tapi karena terlalu banyak teori yang diajarkan daripada prakterknya akhirnya beliau berhenti. Katanya sih sekali biayanya habis sampai puluhan juta il.”

“Wah, ngolin jiddan pee haqiqotan[6].

“Iya il makanya ente bersyukur, bisa belajar langsung di CID, gratis.”

Soheh pee...  Yaudah yuk ke masjid, sebentar lagi Adzan.”

            Kami berdua lekas meninggalkan ruang tamu, dan pergi. Rasanya tak heran lagi, mengapa teman-teman merasa begitu beruntung bisa berkesempatan menjadi Bagian Penerangan. Karena ini pelajaran mahal harganya, tidak setiap orang dapat merasakanya, dari ratusan kelas enam hanya kami yang terpilih. Bukan karena kepandaian yang kami miliki, namun karena Allah azza wa jalla telah menentukan tempat terbaik untuk kami.

            Rasa beruntung itu hinggap dalam jiwa-jiwa kami, lalu menjadi semangat dalam menyelesaikan berbagai perkerjaan tanpa mengharap apapun. Contohnya saja Raka, selalu tanggap menempelkan koran setiap harinya, ke etalase-etalase CID yang menyebar  di sekitar pondok. Tidak pernah ada jadwal penempelan koran, cukup menggunakan ketanggapan teman-teman. Nafi, Aidil, aku dan yang lainya juga suka membantu menaruhnya. Namun sebelum koran disebar ke seluruh pondok kami periksa dulu seluruh isinya, jika ada gambar yang tidak pantas lekas kami coret-coret dengan pulpen. Datangnya tukang koran kedepan kamar setiap harinya juga menjadi keutungan tersendiri bagi teman-teman, karena bisa menitip buku-buku majalah ataupun koran yang lain selain merek yang biasa dipakai pondok. Itulah yang sesekali kami namakan, kesejahteraan bagian.

            Kawan-kawan Qismul I’lam tidak saja mengontrol suara ketika acara, saat di masjid, ataupun dari studio. Kami juga mengontrol seluruh Pengeras Suara yang ada di pondok, membuat instalasi dari tempat ke tempat. Ada yang di dalam Aula ataupun terikat rapih di asrama-asrama. Sesekali kami seperti bagian Diesel mengerti bagaimana mengurus arus listrik, tak jarang harus menggunakan tangga ataupun memanjat ke tempat yang tingi. Seperti membuat Instalasi suara di Gedung Saudi, Husein dan Aidil tanpa ragu memanjat tembok-tembok yang menjelang tinggi untuk memasang Sound diantara tiang-tiang. Apapun kami upayakan agar santri-santri dapat mendapatkan informasi dengan jelas dan menikmati lagu-lagu terbaik.

 Diantara ribuan jiwa di pondok, ada saja yang tidak suka kami menaruh sound di dekatnya karena merasa terganggu. Bagian Diesel salah satunya, tepat diatas kamarnya ada sebuah kotak pengeras suara kecil. Mereka merasa terusik setiap pagi dengan nyanyian-nyanyian yang keluar di atas kamarnya. Salah satu dari Qismul Makinah [7]pernah memutuskan kabel instalasinya, karena kesalnya. Namun dengan cepat kami menyadarinya, dan segera memperbaiki. Kejadian itu terulang-ulang berkali-kali, sampai akhirnya selesai dengan saling memahami satu sama lainya.

            Sebulan sudah diamanahi menjadi Panitia Bulan Syawal. Kabarnya beberapa hari lagi akan ada pemilihan anggota resmi dari OPPM[8]. Hari-hariku semakin menengangkan, karena khawatir akankah aku tetap menjadi CID atau keluar karena teman-teman yang lainya terlihat lebih pantas. Apapun nanti keputusanya, itulah yang terbaik yang Allah berikan maka akan ku trima dengan sepenuh hati. Takdirku tidak akan menjadi milik orang lain begitu pula sebaliknya.   

 

 

M. Ismail 

Mahasiswa International University of Africa



[1] Balai Pertemuan Pondok Modern

[2] Kabel yang diujungnya terdapat colokan female tiga bolongan mendalam dan male dengan tiga besi tusukan

[3] Kabel yang ujungnya satu tusukan besi memanjang.

[4] Suara dicoba, 1,2,3.

[5] Udah ustad

[6] Mahal banget sumpah.

[7] Bagian diesel

[8] Organisasi Pelajar Pondok Modern

Tidak ada komentar