Terhangat

Diskusi Kayangan

 

Sumber: dokumentasi penulis

Negeri kayangan begitu damai menentramkan. Ia menjadi saksi gemerlap bumi yang fana. Di suatu pelataran istana, terlihat Bagong sedang berbincang dengan Semar. Dua makhluk yang begitu disegani di antara penduduk kayangan itu, duduk di atas awan kecil sembari menikmati hidangan yang disajikan para bidadari. Ratu Shinta memang memerintahkan anak buahnya, para bidadari untuk selalu merawat dua diantara empat ponokawan itu.

“Mar, aku sedang dirundung kebingungan tak berujung,” keluh Bagong kepada Semar tiba-tiba. “Bingung apa toh Gong? Begitu menyenangkannya kehidupan langit ini lo. Tidak ada lagi perang Paregreg atau Giyanti.” Semar menanggapi dengan santai, sembari mengangkat satu kakinya dan menyantap hidangan di depannya. “Sampean ini harusnya tanya tentang apa yang aku pikirkan hingga membuat otak kecilku kebingungan,” ucap Bagong dengan nada agak kesal karena keluhannya tak ditanggapi serius. “Ya sudah, memangnya apa yang membuatmu bingung Gong?” Kali ini Semar mulai duduk bersila dan berhenti menyantap hidangan, lalu menatap Bagong dengan serius. Kewibawaannya pun muncul.

“Jadi begini lo, aku melihat apa yang terjadi di bumi ini memang tak separah dahulu ketika ada peperangan seperti pada akhir masa Majapahit. Mungkin peperangan itu sudah purna. Tapi apa yang aku amati, terutama bumi nusantara itu sedang mengalami ketidakjelasan arah. Gengsi mereka seperti menjadi pakaian yang wajib untuk dipakai. Uang itu benar-benar menjadi berhala yang menyesatkan. Jabatan seolah menjadi tujuan mutakhir untuk menikmati hidup. Bahkan, agama Muhammad yang dibawakan para wali mulai terasa tabu. Pertengkaran antar sesama mereka juga tak kunjung usai. Memang bukan perang, tetapi kebencian di antara satu sama lain selalu terlihat. Bahkan, manusia-manusia itu tak tahu alasan mereka untuk saling membenci.” Panjang lebar Bagong mengungkapkan keluh kesahnya tentang negeri Nusantara.

Semar sedari tadi memang serius mendengarkan apa yang dikatakan Bagong. Ia menghembuskan nafasnya sejenak, tersenyum pendek kepada Bagong, lalu berkata, “Yah, begitulah keadaanya. Kau pikir aku tidak menyadarinya? Mereka mudah membenci, mudah terhasut, mudah menyalahkan, sementara mereka memiliki kebenarannya masing-masing.” Singkat saja Semar menanggapi.

“Jadi bagaimana mereka seharusnya bersikap?” Tanya Bagong.

“Seharusnya mereka mau menanggalkan ego mereka dan saling duduk bersama. Antara tokoh-toko nya, pemimpin-pemimpinnya, ulama-ulamanya. Sementara sekarang ini, mereka hanya bertengkar tanpa mau berbicara bersama. Mereka seperti berperang di dunia lain?” Jawab Semar.

Hah, dunia lain? Dunia media sosial yang sampean maksud?” Bagong mencoba menebak.

Nah itu!” Semar membenarkan.

Hari itu, kayangan tetap pada kedamaiannya. Di antara awan dan langit yang mengelilingi, tempat itu seakan menjadi serpihan surga yang selalu mengamati apa yang terjadi di bumi.

 

 

Hasan Al-Banna

Mahasiswa International University of Africa

 

Tidak ada komentar