Terhangat

Belajar Meraih Impian Besar dari Anime “One Piece”

 

Sumber: : IG @onepiecearmy

Berdiskusi tentang shonen (sebutan untuk ragam anime khusus bagi remaja lelaki) memang tidak ada habisnya, tontonan yang tadinya sebagai hiburan masa kecil dan remaja ini seringkali bisa menginspirasi penontonnya untuk melakukan hal-hal yang luar biasa dalam hidup. Salah satu unsur paling umum di shonen adalah mengenai cara mewujudkan mimpi, mulai dari Deku yang ingin menjadi “Number One Hero” hingga Naruto yang ingin menjadi “Hokage”. Shonen lain yang tak kalah populer adalah One Piece, shonen yang ada sebelum saya lahir dan hingga sekarang masih menjadi salah satu shonen yang paling ditunggu-tunggu oleh para penikmatnya. Selain karena ceritanya yang seru, perjuangan tokoh utamanya cukup menarik karena sangat relevan dengan konsep meraih mimpi yang disebut “infinite mindset”. Bagi teman-teman yang mungkin tidak cukup familiar dengan maha karya One Piece, ada baiknya sedikit menyimak cerita singkat One Piece yang akan dipaparkan untuk bisa sampai pada kesimpulan.

Cerita One Piece terjadi di sebuah dunia di mana lautan dikuasai oleh para bajak laut, cerita bermula ketika seseorang bernama Gol D. Roger yang dikenal sebagai “Raja Bajak Laut” dihukum mati oleh pemerintah dunia. Sesaat sebelum meninggal, dia berkata, “Harta karunku? Aku akan memberikannya, tapi … Carilah! Aku telah mengumpulkan semua yang ada di dunia ini dan menyembunyikannya di tempat itu.” Kata-kata terakhir Gol D. Roger ini kemudian menginspirasi semua bajak laut untuk mengarungi lautan mencari harta tersebut. Dan harta inilah yang disebut sebagai “One Piece”.

Bertahun-tahun kemudian kisah Roger ini menginspirasi seorang anak desa yang mempunyai tubuh karet akibat memakan buah setan “Gomu-Gomu no Mi” bernama Monkey D. Luffy. Ia bermimpi untuk menemukan One Piece dan menjadi raja bajak laut. Untuk mewujudkan mimpinya, Luffy berlayar meninggalkan desa, dan seiring berjalannya waktu ia bertemu dengan orang-orang dengan berbagai keahlian yang kemudian merekrut mereka sebagai kru. Armada Luffy kemudian dikenal sebagai “Straw Hat Pirates” alias bajak laut topi jerami.

Luffy memulai segalanya dari nol dan mulai berlayar sendiri dengan menaiki rakit. Seiring berjalannya waktu, Luffy telah mengumpulkan teman-teman kuat, baik mereka yang bergabung dalam kru bajak laut topi jerami, yaitu bajak laut yang bersumpah setia. Sampai banyak sekali orang berpengaruh yang mendukung petualangannya. Tentu saja ia menjadi musuh bagi banyak orang; baik bajak laut lain, mulai dari level rendah hingga level mereka yang dijuluki sebagai “4 Yonko” alias para penguasa laut; mulai dari tentara mariner level bawah, hingga para jendral besar.

Sesuatu yang menarik dari anime ini, kenapa Luffy bisa sampai sebesar itu? Ia memulai dari bukan siapa-siapa, menaiki sebuah rakit, yang kemudian bisa menjadi komandan kru bajak laut besar. Bahkan, sekarang banyak yang menyebut Luffy sebagai Yonko ke-5. Bagaimana caranya seorang anak desa bisa sampai seberpengaruh itu? Padahal dalam kesehariannya Luffy digambarkan sebagai sosok yang polos, terkesan bodoh, dan selalu bertingkah konyol. Jawabannya adalah terlepas dari segala sikapnya itu, Luffy adalah sosok pemimpin yang keren parah. Luffy sebagai kapten memenuhi semua checklist sebagai seorang pemimpin visioner yang mempunyai infinite mindset. Dan itu adalah kunci kesuksesannya.

Apa itu infinite mindset? Dan apa itu finite mindset? Dalam buku “The Infinite Game” karya Simon Sinek, buku yang membahas tentang pola pikir yang harus dimiliki dalam menjalani hidup. Simon menjelaskan, bahwa pada dasarnya ada dua tipe permainan; permainan terbatas atau disebut dengan finite game, dan permainan tanpa ujung atau disebut dengan infinite game. Permainan terbatas meliputi; catur, sepak bola, takraw. Kita tahu siapa pemainnya, bagaimana aturan permainannya, serta awal dan akhirnya. Pada permainan terbatas seperti itu, yang menang dan kalah dapat dengan mudah diketahui. Namun, beda halnya dengan permainan tanpa ujung (belum tahu akan bagaimana akhirnya), ini seperti karir, bisnis, atau kehidupan itu sendiri. Aturan dari permainan tanpa ujung tidak secara eksplisit diberitahu, tidak disebut siapa pemenang dan siapa yang kalah, yang ada hanya siapa yang berada di depan dan di belakang. Lalu, mungkin kita bertanya, bagaimana bisa memenangkan permainan tanpa ujung? Dalam bermain di permainan tanpa ujung, kita juga harus punya mindset yang berbeda, Simon menyebutnya infinite mindset atau pola pikir tanpa batas.

Kembali lagi ke One Piece, apakah petualangan mencari One Piece termasuk dalam kategori finite atau yang infinite? Apakah jelas aturan dalam pencarian One Piece? Sudah pasti tidak jelas. Dan bahkan sampai sekarang tidak ada yang tahu One Piece itu apa, dan ada di mana. Mencari One Piece adalah sebuah infinite game, dan buat sukses di sebuah infinite game, masing-masing dari kita perlu mempunyai kapten yang mempunyai infinite mindset sekuat mungkin, dan Luffy digambarkan sebagai sosok tersebut.

Ciri orang-orang yang mempunyai infinite mindset:

1. Orang dengan Infinite mindset bermain untuk berkembang. Tujuan mereka melakukan sesuatu adalah untuk berkembang, mereka selalu berpikir bagaimana caranya dari hal yang sedang dilakukan dapat membantunya untuk terus naik level.

Luffy tidak terpaku dengan harta One Piece saja, ia tidak keberatan untuk berhenti dan fokus latihan untuk menjadi semakin kuat. Ia rela membubarkan krunya selama dua tahun setelah kalah di Impel Down. Ia memberi tahu semua krunya untuk mengembangkan diri agar menjadi semakin kuat. Biar apa? Biar dalam perjalanan berikutnya mereka siap menghadapi apapun dan tidak gampang tumbang.

2. Orang dengan infinite mindset bermain untuk berkontribusi dan bekerja sama. Orang dengan infinite mindset bermain bukan untuk mengalahkan yang lain. Orang dengan infinite mindset bukan fokus bagaimana caranya agar orang lain kalah, tetapi bagaimana caranya bisa bermain bersama dengan asyik.

Melihat Luffy, apakah pernah sembarangan memukul orang hanya karena orang itu tidak sepaham dengan dia, atau karena orang itu adalah saingannya? Jelas tidak. Luffy diketahui sering kali bertarung di lautan, tetapi ia hanya mau bertarung melawan orang-orang yang menurutnya mengganggu kebebasan orang lain. Karena, bagi Luffy kebebasan adalah prinsip utama.

3. Orang dengan infinite mindset bergerak untuk sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Orang dengan infinite mindset, hidup dan bekerja untuk mewujudkan sebuah tujuan besar yang sudah ditetapkan. Dengan kepercayaan ini, bahwa ada sesuatu yang lebih besar dibanding diri sendiri. Mau sesulit apapun lingkungan, akan susah untuk membuatnya goyah.

Luffy berpetualang bukan hanya untuk kemakmuran diri sendiri, tetapi untuk kebebasan. Luffy berpetualang untuk membela orang-orang lemah dari tangan para penjajah. Ada adegan luar biasa yang menggambarkan ini semua, yaitu adegan ketika Silvers Reyleigh menawarkan kepada Luffy untuk diberi tahu One Piece itu harta yang seperti apa, dan ditawarkan pula sebuah kompas yang bisa langsung menunjukkan jalan ke One Piece. Namun, pada akhirnya Luffy menolak untuk mengetahui tawaran tersebut. Kenapa? Karena ketika ia mengetahui One Piece dan bagaimana caranya ke sana, itu bukan lagi infinite game tetapi menjadi finite game, karena semuanya sudah menjadi jelas. Dan buat Luffy hal itu sangat tidak asyik, bahkan Luffy berkata bahwa lebih memilih mati saja daripada harus mengetahui hal tersebut.

Hidup ini adalah infinite game dan bukan finite game. Apakah kita sudah mengetahui besok kita akan mendapatkan rezeki sekian dan sekian? Apakah kita sudah mengetahui kapan nyawa akan dicabut oleh malaikat Izrail? Pasti tidak. Kalau kita mempunyai mindset finite pada game yang infinite, pasti susah.

Layaknya bajak laut topi jerami, kita belajar bahwa dalam hidup ini memerlukan kapten yang kuat, pastinya kita sendiri. “You are the captain of your own life.”

Hidup ini adalah petualangan panjang yang kita lalui sendirian, tentu saja kita punya banyak teman. Luffy juga punya banyak teman, ada krunya, bajak laut lain, tetapi yang menentukan ke mana kapalnya berlayar adalah dirinya sendiri. Dan itulah sosok kapten yang kita butuhkan dalam hidup. Jadi, apakah kita sudah siap untuk menjadi kapten dari hidup kita sendiri? Jelas ini tidak segampang membalikkan telapak tangan karena kita perlu mengenali diri sendiri; apa saja kekuatan dan kekurangan kita, serta bagaimana cara mengatasinya.



Suprianto

Mahasiswa University of The Holy Quran and Islamic Science

 

Tidak ada komentar