Terhangat

The Informers Eps. 5 Peringatan di Balik Kerja Keras

Sumber: nasionaltempo.co

Oleh : M. Ismail

Sebuah pelanggaran berat bagi seorang  santri jika membawa telepon genggam, hukumannya bisa dibotak atau bahkan dipindah kampus cabang. Tapi tidak untuk bagian-bagian tertentu, yang memiliki telepon di kamarnya atau tempat lainya. Bukan gawai kecil yang bisa dibawa kemana-mana melainkan telepon kabel yang bergantung di tembok ruangan. CID memiliki dua telepon kabel, pertama di kamar dan kedua di masjid. 

Bagi kami memiliki telepon bukanlah hal yang spesial, tapi tantangan tambahan atau bisa dibilang tugas dadakan. Contohnya saja saat siaran setelah salat Magrib, ketika kami sudah siap berdiri menyiarkan salam, syi'ir, doa, dan berita-berita panggilan. Tiba-tiba saja. “KRIINGGG-KRINGG-KRINGG,” telepon di samping pintu Imam berbunyi. Kami yang mendengarnya gugup, lalu bersegera mengambil ganggang telepon dengan perlahan. Dia yang mendengarkan panggilan telepon kabel tersebut menulis pengumuman di secarik kertas dan langsung memberikannya ke penyiar hari itu. Jika belum terbiasa menjadi penyiar, rasanya pasti was-was, tapi coba menahannya dengan lebih tenang. Asalkan pengumumannya tidak terlalu terlambat disampaikan lewat telepon, kami bisa dengan aman mengatasinya. 

Sampai suatu malam ada sebuah tragedi, kala itu Nova menjadi Mudzi’¹.  Mula-mula siaranmya berjalan dengan lancar, tanpa hambatan. Dan tatkala anak berambut sasak itu ingin menutup salamnya, “KRIING-KRIING-KRIIIING.” Nova panik mendengar deringannya. Nafi yang menganggkatnya dengan cepat, menyimak pengumuman dari Ustaz pengasuhan yang ingin mengumpulkan santri kelas  3 intensive dan 4 di masjid lantai 1.  Dia pun bergegas membuka pintu. Nova menoleh cepat dengan cemas karena telah menyelesaikan siarannya. 

“Kaifa²,  Fi?” Spontan dia bertanya. 

“Ini, Ba,  ada I’lan³  dari Ustad Riayah!” Nafi memberikan secarik kertasnya. 

“Duh, kok baru ngasih sekarang sih. Udah turun semua santrinya,” Dia mengambil kertasnya.

“Udah gapapa umumin aja, Va, dari pada engga sama sekali.” Zain menasehatinya. 

“Iya, ya ini ana umumin.” 

Bagaimanapun juga kondisinya tetap Nova umumkan. Dan kami berkumpul bersama di samping blue house untuk evaluasi seperti biasanya.  Belum lama teman-teman CID duduk, datang salah satu kelas 6 menghampiri kami. 

“Assalamualaikum, Al-akh, tadi ustaz riayah di lantai satu nyuruh ana manggil salah satu dari antum.” 

“Walaikumussalam, oh ya, Al-akh, Syukron, ayo ana sekarang kesana,” Anam pun beranjak pergi. 

Kawan-kawan Qismul I’lam semakin merasa khawatir mengenai pengumuman yang terlambat tadi. Kami tidak bisa menyalahkan keadaan, apalagi ustaz pengasuhan. Hal yang dapat kami lakukan hanya bertanggung jawab penuh atas apapun yang terjadi nanti. 

Beberapa menit kemudian, Anam menjumpai kami dengan gelisah, mengabari kami apa yang di minta ustaz di lantai satu. 

“Kaifa, Nam?,” Revo cemas. 

“Gini, Vo, tadi ustaznya udah nunggu di lantai satu, tapi ga ada sama sekali anak-anak kelas 3 intensive sama 4. Katanya ‘Ustaz kasih waktu tiga menit, gimana caranya CID panggil santri-santrinya, kalau engga CID semuanya dibotak. Jadi ya udah yuk sekarang nyebar!” Anam lekas berbalik badan. 

“Ayo pee bi sur’ah!" Zain menggebu-gebu berlari menuruni tangga.

“Ana ke gedung Saudi!” Seruku. 

“Dan sama Ana ke yakhzoh kingdom."  Kata Farhat. 

Kami berhamburan ke rayon-rayon, menelusuri setiap bilik kamar, sembari berseru “AYO KELAS TIGA INTENSIVE DAN KELAS EMPAT KUMPUL DI MASJID LANTAI SATU SEKARANG!” Mereka pun bergegas turun dari asrama, mengenakan sandal dan berkumpul di masjid. Teman-teman CID gelagapan, untungnya kami bisa mengatasinya dengan cepat. Dengan Baju koko yang sudah dibanjiri keringat, nafas yang ngos-ngosan, dan langkah yang terseok-seok kami kembali ke Masjid Jami’. 

Ustaz pengasuhan yang dari tadi menunggu di lantai satu dengan sabar, sekarang telah berhadapan dengan santri-santri yang ia harapkan. Sulthan memberikan, satu mik kepadanya untuk bicara sembari menemaninya di dekat sound huper. 

“Bismillahirahmanirrahim, Assamualaikumwarahmatullahi wabarakaatuh.” 

“Walaikumsalam warahmatullahi wabarakaatuh...” Santri-santri ramai menjawab. 

“Sebenarnya Ustaz mau menyampaikan sesuatu malam ini mengenai acara kelas 3 internsive dan 4 kedepannya, tapi karena Ustaz lihat sepertinya waktunya tidak cukup. Dan sudah saatnya makan malam, jadi perkumpulan malam ini Ustaz batalkan.”

Astaghfirullah.. ga jadi pee ngumpulnya, Ya Allah.. buat apa susah-susah manggil dari tadi kalau gitu’ gumamku sembari berbisik pembicaraan ustaz dari samping masjid. 

“Yasudah, kalau begitu kita tutup saja. Nakhtatim bil Hamdallah... ” Seru ustaz riayah tadi. 

“Alhamdulillahirabbil Alaamiiin..” 

Perkumpulan sesaat itu pun usai, hanya meninggalkan rasa kecewa yang tak terbalas. Bagaimanapun juga semuanya sudah terjadi, kami hanya bisa menerima apa adanya, bersyukur kali ini tidak jadi dibotak. Kawan-kawan Qismul I’lam pun berjalan bersama meninggalkan masjid dengan rasa lega. 

“Beli roti bakar di samping Qo’ah yuk, Dil?” Kataku. 

“Ayo, Il” 

“Ana ikutan juga, dong, “ Najieb merayu dari belakang.

“Ayolah semuanya yang mau Roti bakar, nanti makan bareng di gudang.”

“MANTAAP!” teman-teman CID berseru. 

Masalah karena telepon kabel bukan hanya di masjid, akan tetapi di ruang tamu juga pernah. Kala itu aku untuk pertama kalinya mengumumkan untuk siswa-siswa kelas enam kumpul dari studio CID. Rasanya ragu-ragu karena takut ada yang salah, apalagi aku bukan termasuk orang yang ahli dalam Ilmu Nahwu ataupun Sharf. Tapi tetap saja aku umumkan, dari tidak pernah mencoba karena takut salah. Aku membaca dengan tenang dan penuh hati-hati, lalu ku taruh miknya di atas rak DVD. Beberapa menit setelah itu terasa damai karena telah menyelesaikannya, aku puas. 

Belum sempat ku badanku keluar dari ruang tamu, tiba-tiba “KRIIING-KRIIING, KRIIING-KRIIIING” telepon kabelnya berdering. Teman-teman kocar-kacir tidak karuan, pura-pura tidak peduli. 

“Ana la asma, ana la asma”   Panji dan Raka bersorak-sorak. 

“Ana la asma, ana la asma” Najieb, Farhat, dan aku mengikutinya sembari berjalan berhamburan.

 “Ana la asma, ana la asma”   Wildan, Aidil, dan Alvin juga sama. 

Nafi akhirnya dengan tenang mengangkat telponnya. 

“Assalamualaikum, Ustaz”

“Walaikumussalam, tadi yang menggumumkan siapa, ya? Tolong menghadap ke saya” 

“oh iya ya, Ustaz, siap nanti ana sampaikan.” 

“Syukron, Akhi wassalamaualaikum.”

Nafi pun menutup teleponnya, memandang padaku dengan tatapan halus. 

“Il, ente dicariin Ustaz Rofi di riayah, tuh, katanya tadi ada yang salah.” 

“Wah sohean,  Fi?”

“Shoheh~” 

“Udah, Il, dateng aja, paling cuman dinasehatin doang,” Aidil menyakinkan. 

“Ya udah deh  ana dateng kesana.” 

Aku beranjak pergi dari kamar ke lantai satu gedung Tunisia, Kantor Pengasuhan. Benar saja Ustaz Rofi memperingati berbagai hal tentang bahasa-bahasa yang salah ku pakai, intonasinya juga harus bisa lebih santai. Ia memberi pesan bahwasanya CID adalah muka bahasa yang ada di pondok. Maka dari itu sebagai pemberi contoh harus memberikan yang terbaik, bukan hanya asal-asalan saja. 

* * * * * * * * *

Berbulan-bulan bersama kawan-kawan CID, melewati bulan sabit dan purnama beriringan berganti. Ustaz senior yang menginjakkan kakinya di ruang tamu Qismul I’lam bukanya hanya Ustaz Abadi dan Ustaz Riza. Ada yang lebih hebat dari mereka, yaitu Ustaz Sulis. Beliau salah satu dari tiga direktur pendidikan pondok, pernah menimba ilmu di Negeri Piramid selama 10 tahun. Jadi kemahiran bahasanya tidak bisa diragukan lagi, bahkan seluruh santri mengakuinya. Setiap beliau berbicara di podium dengan berbahasa Arab, kalimatnya sederhana, mudah dipahami, mengalir tenang tanpa ada kesalahan. 

Datanglah suatu sore di mana Ustaz Sulis bertamu ke kamar kami. Beliau duduk di kursi kayu coklat memanjang, Raut wajahnya amat serius terpampang. Aidil, Zain, Nafi, Anam, dan lainya sudah duduk tenang di dalam dengannya. Sedangkan Panji, Fahat, Tri, dan beberapa dari kami memilih kabur menghindarinya. Ustaz Sulis hendak memperbaiki diksi-diksi yang biasa dipakai CID. 

“Bismillahirrahmanirrahman,, Asslamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh.” 

“Walaikumussalam..warahmatullahi.. wabarakaatuh.” 

“Ustaz selama ini agak geram mendengar pengumuman-pengumuman dari Qismul I’lam. Sebenarnya betul secara bahasa, Nahwu atau Sharfnya tidak ada yang salah. Hanya pemilihan kata-katanya kurang tepat.” Ustaz Sulis mulai mengambil spidol dan mendekati papan tulis putih.

Aidil dan Zain sebagai ketua pengembang bahasa dengan tanggap  sudah menyiapkan pulpen dan buku tulis kecilnya. 

“Pertama biasanya kalian menggunakan kalimat, Yu’lanu ala kaafati assanah assadisah. Siapa yang menyalahkannya? Tidak ada. Tapi kita bukan memakai yang seperti itu, kita menggunakan kalimat, Nuwajjihu inaaayata¹⁰  kaafati assanah assadisah. Keduanya maksudnya sama tapi kata yang kedua lebih cocok dari pada yang pertama. Fahimtum jami’an?”

“Fahimna ustad.”

“Toyyib, Kalimat yang kedua yaitu, Adda’wah, adda’wah ila Maktabi Riayatut-t-Thalabah Al’an¹¹.  Diganti lebih baik seperti ini. Ar-Rajaa’ Khuduru Thalib¹²  ila Maktabi Riayatut-t-Thalabah Al’an, itu lebih cocok dari pada yang pertama. Fahimtum Jami’an?”

“Fahimna..” 

“Ada lagi satu kalimat sederhana, tapi penting juga. Kalian biasanya memakai kalimat, wa ubalighghukum marrotan tsalisatan¹³. Bukan marrotan thalisatan  pakainya, akan tetapi menggunakan lilmarrotis-Tsalisati. Fahimtum?”

“Fahimna, Ustaz”

“Afwan, Ustaz, ana mau bertanya, apakah selama ini kita menggunakan kalimat yang salah?” Heran Zain.

“Tidak salah, benar secara Qoidah bahasa. Hanya saja kurang tepat dan layak untuk diumumkan dengan kata-kata seperti itu, maka ustaz sampaikan kepada kalian kalimat yang lebih baik.”

Zain, Aidil, dan yang lainya mengangguk kecil.

“Kambing Hitam, Apa Bahasa Arabnya?”

“Ghonam Aswad~” Sahut Aidil menjawab.

“Khoto’, Anta Mukhti¹⁴ !" 

“Afwan yang benarnya apa ustad?”

“Kambing Hitam itu kata kiasan, yang benar itu Bahasa Arabnya adalah Kabsul Fidaaa. Memang secara makna seharusnya Ghonam Aswad, tapi maksudnya di sini bukan Kambing hitam, akan tetapi mengkambing hitamkan. Nah ini sama seperti yang ustaz sampaikan sebelumnya. Fahimtum Jami’an.” 

“Fahimna, Ustaz.” 

“Jadi kalian dalam menentukan teks tidak cukup hanya mencocokkan artinya saja, tapi bagaimana menggunakan kata yang pas. Yasudah kalau begitu cukup dari Ustaz, Nakhtatim bil hamdalah!”

“Alhamdulillahhirabbil alamin.”

Kami bergantian menyalimi Ustaz Sulis, merasa banyak dicerahkan olehnya. Saat itu kami menyadari bahwasanya memang tidak ada gading yang tidak retak. Sepandai apapun teman-teman CID dalam memberikan contoh berbahasa yang benar, masih ada saja kecacatan yang kami punya. Maka dari itu kami terus dibimbing oleh ustaz-ustaz, terus belajar, dan mempersiapkan hari esok untuk lebih baik. Intinya tetap menjadi gelas yang kosong, bukan merasa penuh tapi wadahnya kecil. 

Bersambung ...

                                                                                  

1. Penyiar

2. Gimana

3. Pengumuman

4. Cepetan

5. Sebutan salah satu zona asrama santri kelas 3 intensive dan kelas 4

6. Tutup dengan hamdallah

7. Aku gak denger, aku gak denger

8. Beneran

9. Diumumkan pada santri kelas 6

10. Dimohon perhatiannya

11. Panggilan, panggilan ke kantor pengasuh sekarang

12. Diharap kehadirannya

13. Dan kami sampaikan untuk kali ketiga

14. Salah, kamu salah

Tidak ada komentar