Terhangat

Perang Badar Versi Indonesia

Sumber: biem.co

Oleh: Farrel Izham

    Ramadan tahun ini tidak hanya istimewa karena kondisi bangsa dan dunia yang sedang terkena ‘kutukan’ pandemi covid-19. Ramadan tahun ini terkhusus di Indonesia juga diwarnai dengan berbagai peristiwa kebangsaan. Tanggal 1 Mei merupakan hari Buruh Sedunia, semangat negara untuk selalu mengedepankan kepentingan mereka juga diharapkan tetap terjaga. Sehari setelahnya adalah hari Pendidikan Nasional, legacy besar yang salah satunya diberikan oleh Ki Hadjar Dewantara untuk kemajuan peradaban bangsa. Kemudian pada tanggal 3 Mei yang merupakan hari Kebebasan Pers Sedunia, terima kasih kami sampaikan kepada saluran TV Swasta maupun Nasional bahkan juga media pers lain yang begitu banyak jumlahnya. Peran apik para wartawan dan seluruh kru media pers hingga kapanpun kita tak pernah bisa membalasnya, terima kasih sekali lagi untuk pengorbanan kalian.

    Mencoba mundur mengingat peristiwa yang terjadi tanggal 21 April kemarin yang tiap tahunnya diperingati sebagai hari Kartini. Bukan suatu kebetulan, tahun ini lebih dari 53 sosok Kartini muncul sebagai pahlawan bangsa. Mereka semua mungkin bukanlah tokoh yang terpandang di tingkat nasional, namun kerelaan mereka melepaskan suami-suami, ayah, dan paman mereka menjadi awak KRI Nanggala 402. Istri, anak perempuan, kakak perempuan, dan ibu mereka, semuanya adalah kartini bangsa tahun ini. Terimakasih para ibu kartini sudah menjadi tiang negara kami.

    Lalu, apa kata atau kalimat yang tepat untuk mewakili perasaan bangsa saat ini? Apakah itu sakit? Tertusuk tapi tak berdarah?

    Tetaplah ingat akan sejarah yang menceritakan bahwa Ramadan ini tidak pernah menjadi pantangan bagi para penggerak bangsa dalam menyukseskan cita-cita, kemajuan, dan peradaban Indonesia dari dulu hingga saat ini.  9 Ramadan 1364 kala itu Indonesia merdeka, terlibatnya Ir. Soekarno sebagai salah satu Bapak Proklamator bangsa hingga Latief Hendradiningrat sebagai salah satu pengerek Sang Saka Merah Putih tentu dalam keadaan lambungnya yang kosong saat itu karena sedang berpuasa menjadi saksi nyata.

    Kisah Presiden pertama Republik Indonesia ini, sedikit banyak ada kemiripan dengan kisah Presiden pertama umat Islam, Nabi Muhammad dalam kemerdekaan melawan penjajah sekaligus menunjukkan eksistensi kedaulatan wilayah mereka. Nabi Muhammad kala itu bersama 313 pasukan muslim melawan 1000 pasukan kafir Quraisy dengan peralatan perang tak lengkap, namun Allah melengkapi kebahagiaan pasukan muslim dengan kemenangan. Soekarno pun demikian, dengan rahmat Allah Indonesia bisa merdeka tanpa pemberian dari negara manapun, rakyat Indonesia bisa merdeka sendiri dan itu merupakan sebuah kebanggan.

    Dewasa ini, umat Islam Indonesia semakin cerdas. Ramadan tidaklah lagi dimaknai sebatas perlombaan dengan diri sendiri untuk semakin mencintai Al-Qur’an dengan membacanya saja. Daya kritis umat yang didasari oleh kecintaan pada NKRI terbangun masif. Perlahan nampaknya gelombang besar persatuan umat muslim Indonesia semakin mendekati hilir pantai peradaban besar negaranya. Kesadaran bernegara ini tak boleh membuat kita merasa cukup, masih banyak orang yang perlu kita bangunkan kesadarannya dan tujuan kita belum semuanya terwujud.

    Tantangan paling nyata saat ini menurut penulis adalah bagaimana semua rakyat Indonesia kembali menyatukan kekuatan untuk menghilangkan pandemi dari ibu pertiwi. Sumpah Pemuda tahun-tahun ini untuk menumpas ‘penjajah’ tak kasat mata yang bernama covid-19. Dengan memohon Rahmat Allah semoga bangsa Indonesia segera merdeka dari penjajah tersebut. Amin

    Selanjutnya, semangat satu rasa peduli bangsa perlu semakin dikuatkan untuk bahu-membahu mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai bentuk refleksi memaknai hikmah disyariatkannya ibadah puasa Ramadan. Peristiwa perang Badar di zaman Nabi Muhammad atau ‘perang Badar’ di zaman Ir. Soekarno adalah hasil dari refleksi para sahabat dan rakyat yang memiliki rasa kepedulian tinggi yaitu, ingin merobohkan benteng kesengsaraan umat dan membangun istana kemakmuran. Tentu modal perang mereka tidak semata dengan kekuatan otot, terlepas semuanya adalah kuasa Allah, tetapi mereka tetap menghimpun semua modal keberhasilan yang salah satunya dengan mencerdaskan kehidupan bangsa kala itu.

    Bagaimana bisa umat Islam di Madinah saat itu berani berperang jika kecerdasan mereka tidak tinggi? Kecerdasan mereka sangat tinggi hingga tidak lagi memikirkan dirinya sendiri, mereka siap maju untuk mati syahid. Akal sehat manusia pun tak bisa menggapai nalar mereka, karena kecerdasan mereka dalam melihat dan meletakkan kedudukan akhirat jauh lebih besar daripada dunia kala itu. Hal ini persis dengan kecerdasan yang dimiliki oleh rakyat Indonesia ketika mengumandangkan azan kemerdekaan.

    Kecerdasan yang tinggi tidak mengandalkan akal semata, sejatinya Allah memberikan akal sepaket dengan fitrah dan dipandu dengan Al-Qur’an juga hadis Nabi Muhammad untuk membawa umat Islam yang betul-betul cerdas. Kecerdasan bukanlah pengagungan buta terhadap suatu objek penelitian atau keberhasilan bernalar, kecerdasan yang membuat takut kepada Allah itulah kecerdasan yang hakiki. 

Berangkat dari kecerdasan hakiki, niat baik akan menyulap tubuh kita memiliki energi super untuk memberikan gagasan-gagasan pembangunan bangsa, menjadi promotor-promotor kebaikan skala kecil maupun besar. Bayangkan jika cita-cita pendiri bangsa yaitu, “Mencerdaskan kehidupan bangsa” ini berhasil, apa yang terjadi selanjutnya? Indonesia akan menjadi negara besar yang membawa keberkahan tidak hanya untuk segenap tumpah darah bangsa namun juga seluruh umat manusia di muka bumi ini.

Semoga Allah mudahkan otak kita untuk jernih berpikir, menyumbangkan gagasan-gagasan terbaik untuk bangsa, serta langkah kita dimudahkan oleh-Nya untuk menjadi promotor-promotor kebaikan. Segera, Allah akan jadikan Indonesia sebagai negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur. Amin.

Tidak ada komentar