Terhangat

Pengalaman Menjadi Buruh Pabrik di Jerman

Sumber: Dokumen Pribadi

Penulis: Naufal Dhiya*

Cerita ini dimulai pada saat saya dan 3 teman saya mulai memutuskan bekerja di salah satu pabrik di Jerman, tepatnya di kota Aachen, untuk mengisi libur perkuliahan di musim dingin. Pekerjaan ini hanya bersifat sementara sekitar hampir 2 bulan, karena setelah itu kami masih harus kembali ke kota masing-masing untuk melanjutkan perkuliahan. Melalui agen, kami ditempatkan di perusahaan pabrik cokelat terkenal di Jerman bernama Lindt. Seperti pada orang umumnya, ketika pertama kali memasuki dunia kerja, saya pun berdoa dan berharap agar mendapatkan lingkungan yang ramah, bos yang baik, dan teman yang dapat diandalkan. 

Sebagai buruh pabrik, dalam waktu satu minggu saya bekerja selama 5 hari dengan tiap harinya 8 jam kerja (sudah termasuk waktu istirahat 1 jam). Waktu kerja dibagi menjadi tiga bagian; pagi (06:00-14:00), siang (14:00-22:00), dan malam (22:00-06:00) dengan sistem waktu bekerja yang tiap minggunya selalu berubah, hal ini mengharuskan saya untuk selalu siap dipanggil kapan pun oleh atasan. Salah satu hal yang menjengkelkan adalah ketika saya harus bekerja di malam hari, karena saya harus menahan rasa kantuk dan melewati dinginnya malam. Tetapi pihak direksi sudah memikirkannya, maka dari itu setiap pekerja yang bekerja pada malam hari akan mendapatkan kopi atau minuman hangat lain secara gratis dan tentunya gaji tiap jam yang didapat lebih banyak dibanding dengan bekerja di pagi ataupun siang hari. 

Ketepatan waktu sudah menjadi budaya kental di Jerman. Sistem absensi di pabrik pun semuanya sudah menggunakan mesin. Setiap orang akan dipotong gajinya jika mereka terlambat masuk atau terlalu cepat keluar pabrik dari jam kerja yang sudah ditentukan. Faktor kebersihan pun sangat dijunjung tinggi di pabrik di mana saya bekerja contohnya, pengaturan material antara cokelat cacat dengan cokelat yang masih bisa dipakai, mesin dan ruang kerja yang wajib dibersihkan seusai waktu bekerja, dan satu setel pakaian yang setiap 3 hari sekali harus diganti, bahkan untuk orang yang berjanggut lebat pun harus memakai penutup khusus yang sudah disediakan.

Keselamatan pekerja juga tak luput dari perhatian pihak direksi, seperti pemakain sepatu khusus di lingkungan pabrik, serta penggunaan wajib sarung tangan dan helm khusus jika sedang bekerja dengan mesin otomatis. Lebihnya lagi, akan diadakan rutin seminar "Safe & Safety" sekali dalam satu tahun dan untuk para pekerja tetap agar mereka tidak lupa akan SOP yang sudah ada atau jika ada penambahan peraturan baru dari pihak pabrik. 

Perlu waktu untuk bisa beradaptasi dengan sistem kerja di Jerman yang tepat, teratur, dan rapih ini, karena setiap beberapa saat akan ada seseorang yang berkeliling untuk mengawasi dan melihat kinerja dari tiap departemen. Tiap harinya saya bekerja tanpa tahu di departemen mana saya ditempatkan dan keputusan itu dipegang oleh penanggung jawab wilayah, yang artinya mungkin saja hari ini saya bekerja di departemen cokelat batang, tetapi besok saya ditempatkan di departemen cokelat spesial valentine. Pembagian ini tidak bisa dilakukan tanpa prinsip kerja yang teratur dan komunikasi yang baik antara penanggung jawab wilayah dan pemimpin departemen. Cara pembagian pun dilakukan hanya melalui telepon, yang mana penanggung jawab wilayah akan menelepon setiap pemimpin departemen untuk menanyakan berapa pekerja yang dibutuhkan pada hari itu. Sistem penempatan kerja seperti itu, mengharuskan saya untuk bertemu dengan orang-orang baru tiap harinya. 

Setelah menyelesaikan absensi, para pekerja dikumpulkan di satu tempat sebagai titik awal, kemudian penanggung jawab wilayah akan mulai mengumumkan pembagian tempat kerja, setelah mendapatkan informasi tersebut kami mulai berjalan menuju departemen masing-masing sesuai dengan apa yang diminta. Pada waktu inilah saya selalu berharap cemas, apakah hari ini akan terasa berat atau tidak. Jika saya beruntung saya akan mendapatkan pemimpin departemen yang baik dan ramah, hal ini begitu berpengaruh terhadap suasana kerja dan mental para pekerja. Jika tidak, maka bisa dipastikan pekerjaan ini akan terasa berat dan melelahkan.

Setelah sampai di departemen kerja, kami masih belum bisa memulai pekerjaan, karena masih ada satu kali pembagian lagi yang dilakukan oleh pemimpin departemen. Pemimpin departemen akan menentukan siapa saja yang bertugas untuk menyeleksi cokelat yang masuk, memasukkan cokelat ke dalam plastik, dan melakukan proses pengemasan, setelah itu barulah kami mulai bekerja. Setengah jam sebelum selesai biasanya pemimpin departemen akan menghentikan semua kegiatan produksi, itu dimaksudkan agar kami punya waktu untuk membersihkan tempat kerja seperti, membersihkan mesin otomatis, membuang sampah ke pembuangan pusat, dan merapikan kardus dan cokelat yang belum sempat dipakai.

Lelah, pegal, dan bosan dengan pekerjaan yang berulang-ulang akan menjadi musuh utama bekerja di pabrik. Namun itu semua meninggalkan kesan luar biasa bagi saya, banyak nilai-nilai kehidupan yang tidak didapatkan selama ini justru saya dapatkan melalui mereka. Mengamati, berbincang dengan teman-teman buruh dan bercerita tentang kultur budaya negara masing-masing telah membuka mata saya. Mengubah cara pandang, mengubah cara berpikir, dan mendewasakan diri. Akhirnya, semoga dengan adanya cerita ini dapat bermanfaat dan menginspirasi teman-teman pembaca yang ingin bekerja di Jerman.


*Mahasiswa S1 Otto von Guericke Universit├Ąt

Tidak ada komentar