Terhangat

Last Song Syndrome, Fenomena Mingguan Semua Orang


Sumber: Id.theasianparent.com

Oleh: Nailul Rohmatul Muwafaqoh*

Sebagian orang mungkin pernah mengalami suatu kejadian di mana ada sebuah lagu yang terus terngiang di telinga. Keadaan seperti ini bisa terjadi pada siapa saja. Tiba-tiba tanpa ada alasan, dia akan mulai menyanyikan lagu yang terlintas di kepala. Bisa saja dia tidak menyukai lagu itu, dan kerap kali merasa jengkel karenanya, namun jika dalam kondisi sindrom lagu akhir, maka lagu itu akan terus-terusan terngiang di kepala. Beberapa menit, jam, bahkan bisa sampai berhari-hari.

Selain Last Song Syndrome atau Sindrom Lagu Akhir, istilah lain menyebutnya dengan Earworm, Brainworm, Sticky Music, Stuck Song Syndrome, atau yang lebih dikenal di dunia medis dinamai Involuntary Musical Imagery (IMI) atau Musical Obsession.

Lagu tertentu akan begitu melekat terbawa dalam keseharian, seakan ada lagu yang mengundang cacing di telinga. Saat berkendara, memasak, atau bahkan tengah menyelesaikan tugas, lagu tersebut akan terus terngiang.

Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena cacing di telinga kita bukan sebenar-benarnya makhluk hidup. Cacing telinga atau dalam bahasa Inggris disebut Earworm adalah lagu atau nada yang terus terngiang di benak kita. 

Istilah Earworm sendiri dalam bahasa Jerman berasal dari kata “Ohrwurm” yang berarti fenomena ketika sepotong musik yang terngiang dalam benak kita dan tidak bisa hilang dengan sendirinya seperti kaset rusak. Jadi bisa diartikan, Earworm adalah fenomena terperangkapnya irama potongan musik yang dimainkan secara berulang oleh otak, walaupun musik tersebut sudah tidak diputar atau dimainkan.

James J Kellaris, seorang PhD dari University of Cincinnati, melakukan penelitian terhadap 559 pelajar di Amerika dan menemukan 10 daftar lagu yang paling banyak menyebabkan Earworm, di antaranya ada lagu “Who Let the Dog out” dari Baha Men dan “We Will Rock You” yang dibawakan oleh Queen. Pelajar tersebut juga menyatakan bahwa lagu yang menyebabkan Earworm 15% berasal dari jingle iklan atau pesan yang terdapat dalam iklan dan 11% adalah lagu instrumental. Hal ini sesuai dengan faktor yang dapat menyebabkan Earworm, yaitu dengan lirik yang berulang, nada yang catchy, dan ritme yang tidak biasa.

Namun, bisa juga, tidak harus lagu dengan lirik yang berulang, nada yang cathcy, dan ritme yang tidak biasa akan menyebabkan Earworm. Lagu yang didengar berkali-kali dengan sengaja atau hanya mendengar selintas saja maka bisa juga menyebabkan Earworm. Bahkan tidak hanya terus-terusan terngiang, Earworm bisa jadi berupa nyanyian atau celetukan potongan lagu secara tiba-tiba. Misal, tiba-tiba menyanyikan lagu “Iwak Peyek” atau tiba-tiba nyeletuk “Tarik, Sis... Semongko!”

Lagu yang terus terngiang dan terus melekat dalam keseharian terkadang bisa jadi menimbulkan ketidaknyamanan, tidak bisa berkonsentrasi, dan dapat mengganggu proses kegiatan. Jika sudah demikian, ada beberapa cara yang efektif untuk menghilangkannya, antara lain sebagai berikut;

  1. Memakan Permen Karet

    Menurut penelitian dari Philip Beaman dan kolega, memakan permen karet dapat merangsang lidah, gigi, dan organ yang memicu keluarnya kata-kata untuk mengurangi kerja otak dalam membentuk memori musik dan suara. Beaman juga mengatakan, permen karet mirip dengan subjek yang dapat berbicara di dalam kepala. Penelitian terakhir melaporkan, permen karet terbukti dapat mengganggu memori jangka pendek dan gambar-gambar pendengaran (auditory images).

  2. Mengeluarkan Suara

    Victoria Williamson dari University of Sheffield, Inggris, menyatakan bahwa membuat otak “sibuk” dapat mengurangi efek dari Earworm. Pekerjaan seperti membaca puisi, mengobrol, berzikir, atau menyanyikan lagu yang benar-benar berbeda dari yang terngiang di pikiran, dapat secara efektif megurangi Earworm.

  3. Memfokuskan Diri pada Hal Lain

    Mencoba mengingat jadwal, mengerjakan tugas, membaca buku, berdiskusi, atau pekerjaan berpikir lainnya bisa menjadi cara ampuh untuk mengurangi Earworm. Menurut Ira Hyman, Profesor Psikologi di Western Washington University menyatakan, kunci utama dari cara ini adalah tidak mencobanya terlalu keras dan terlalu santai.

  4. Mendengarkan Sebuah Lagu dari Awal hingga Akhir

    Dalam fenomena Earworm yang biasanya terus terngiang adalah sepenggal bagian dari lagu, maka cobalah untuk mendengarkan lagu secara utuh, dari awal hingga benar-benar tuntas.

  5. Mendengarkan Murattal

    Earworm merupakan fenomena terjebaknya potongan musik yang diputar berulang kali di otak, maka opsi yang paling mutakhir adalah dengan mendengarkan murattal secara berulang. Agar yang terjebak dalam otak adalah potongan ayat dari murattal yang didengarkan, tidak lagi lagu-lagu yang bisa menyebabkan konsentrasi berkurang. Jika demikian yang terjadi, apakah bisa menjadi Last Murattal Syndrome? Bisa jadi juga, sih. Hihi..

Demikianlah cara yang dianggap ampuh untuk menangani Earworm. Tidak perlu khawatir, fenomena tersebut tidaklah berbahaya. Berdasarkan penelitian psikologi musik, ditemukan setidaknya 93% individu mengalami Earworm setidaknya satu kali dalam seminggu bahkan lebih. Menurut Kellaris pada Consumer Psychology Conference, 97%-99% orang di dunia mengalami Earworm. Jadi tentunya hal seperti ini sangatlah normal terjadi pada semua orang. Namun jika mendengar lagu walaupun sebenarnya tidak ada yang memasang lagu tersebut, maka sangat dianjurkan untuk menghubungi psikologi. Karena ada fenomena yang disebut sebagai Endomusia, yang merupakan suatu obsesi yang menyebabkan orang mendengar musik yang sebenarnya tidak diputar.

Tidak memiliki kegiatan, terlalu banyak melamun sangat berpotensi besar dapat menyebabkan Earworm.

*Mahasiswa International University of Africa

Tidak ada komentar