Terhangat

Korelasi Pelajaran Kisah Nabi Musa bagi Mahasiswa IUA



Sumber: Dokumentasi penulis

Oleh: Asep Sunandar*

Baru saja kegelisahanku terobati ketika melihat berita kampus akan dibuka pada 23 Mei 2021. Tiba-tiba muncul posting-an foto laman Facebook di grup WhatsApp berupa pemberitaan bahwa Komite Tinggi Republik Sudan untuk Keadaan Darurat Kesehatan menyatakan akan memperpanjang libur universitas dan sekolah-sekolah selama satu bulan ke depan, dikarenakan meningkatnya kasus covid-19 selama dua pekan terakhir.

Bukan hanya kegiatan belajar mengajar saja yang diberhentikan, kegitan ibadah baik di masjid atau gereja pun diberhentikan sementara. Kebijakan pemerintah Sudan akan hal ini, langsung mendapat berbagai respon dari para netizen, khususnya para mahasiswa dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Kebanyakan dari mereka menyuarakan rasa kekecewaan atas diberlakukannya kebijakan tersebut, tetapi dikemas dalam sebuah lelucon yang menghibur.

Seperti yang dilakukan oleh salah satu mahasiswa Indonesia dengan memasang capture berita tersebut, lalu dibumbui caption yang bemacam-macam contohnya; “Mahasiswa Indonesia di Sudan itu bukan yang bisa ditunggu kepastiannya tapi layak untuk diajak berjuang bersama.” Ada juga caption yang cukup viral, yang kurang lebih narasinya seperti ini, “KBRI gak bakal ngadain nikah masal apa? Kasian nih yang udah umur 23 tapi masih semester dua." Begitulah sedikit gambaran respon mahasiswa Indonesia terkait berita tersebut.

Emang sih nyesek banget. nyeseknya tuh bisa diibaratkan seperti si doi yang ngajak nikah tahun depan, ehh tahu-tahu nikahnya sama orang lain. Ciaahhh! Kok jadi curhat sih, udah ya curhatnya. Yuk kita lanjut ke topik.

Perihal perpanjangan libur perkuliahan di beberapa kampus Sudan, memang sudah menjadi hal biasa yang dihadapi. Penyebab akan hal itu terjadi, juga beragam seperti; Perkuliahan diliburkan karena pemerintahan Sudan sedang dalam masa revolusi, atau dikarenakan bencana alam, dan untuk kali ini sudah dua kali perkuliahan diliburkan karena covid-19.

Sebenarnya kita selaku mahasiswa asing yang sedang belajar di Sudan, merasa “fine” saja jikalau kampus atau pemerintah setempat menutup atau meliburkan kegiatan belajar mengajar. Tetapi, yang menjadi hal menggemaskannya adalah pihak kampus tidak mengambil inisiatif lain untuk dijadikan solusi atas hal tersebut. So, ketika masa libur tersebut datang, kita benar-benar free dari tugas atau kegiatan kampus. Mahasiswa jadi merasa dilepas begitu saja, seolah kampus mengatakan, “ You are free now and do what you want to do."

Hal ini lah yang membuat resah para mahasiswa. Bagaimana tidak? Masa belajar yang harusnya ditempuh delapan semester, bisa jadi sembilan sampai sepuluh semester atau lebih. Buang umur gak tuh? Ekspektasi yang dulunya lulus jenjang kuliah Strata 1 (S1) bisa selesai tahun sekian, lalu lanjut mewujudkan impian yang lain, harus terhambat oleh kebijakan seperti ini. Dan yang tersisa sekarang hanya harap bercampur keluh.

Baik, mari kita terima kenyataan ini dengan lapang dada, lalu cobalah untuk sedikit merenung dan berusaha melihat hal baik dari sebuah kenyataan pahit ini, dan menemukan hikmah di dalamnya. Ada sebuah kisah menarik tentang Nabi Musa dengan gurunya, Khidir. Di mana ketika Nabi Musa ingin berguru kepadanya, Khidir berkata bahwa dia tidak akan bisa bersabar menjadi muridnya. Akan tetapi tekad Nabi Musa sudah bulat, dia akan tetap berguru pada Khidir apa pun yang akan terjad.

Berkata Musa pada Khidir meyakinkannya, "Insha Allah, kau akan dapati aku sabar dan aku tidak akan menentang apa pun keputusanmu.” Maka Khidir pun memberi syarat agar tidak bertanya apa pun sebelum dia menerangkannya pada Musa.

Baru awal perjalanan, Nabi Musa dikejutkan dengan apa yang dilakukan Khidir, dia melubangi sebuah perahu yang terdapat banyak penumpang di dalamnya. Nabi Musa pun tidak bisa menahan rasa kemanusiaannya, dia pun protes kepada Khidir, “Mengapa kau melubangi perahu itu? Apa engkau hendak menenggelamkan penumpangnya? Sungguh engkau telah melakukan kesalahan yang besar.”

Nabi Khidir tidaklah marah atas protes tersebut, dia hanya berkata sembari mengingatkan Musa tentang kesepakatan antara dia dengan dirinya, yaitu agar tidak bertanya sebelum Khidir menjelaskannya nanti. Menyadari hal itu Nabi Musa pun meminta maaf atas kehilafannya dan berjanji tidak akan mengulainya lagi. Mereka pun melanjutkan perjalanan, ketika sudah di tengah perjalanan, lagi-lagi Nabi Musa dikejutkan oleh keputusan Khidir yang sangat ekstrim, dia tiba-tiba membunuh seorang anak yang tidak berdosa. Jiwa kemanusian Nabi Musa pun kembali terusik, dia lalu protes untuk kedua kalinya dan menanyakan sebab Khidir membunuh anak kecil tak berdosa itu. Untuk yang kedua kalinya Khidir mengingatkan tentang syarat yang harus dipatuhi Nabi Musa agar tidak bertanya sebelum dia menjelaskannya. Sekali lagi dia bertanya dan protes, maka Nabi Musa harus pergi meninggalkan Khidir.

Di penghujung perjalanan, kesabaran Nabi Musa seolah-olah benar-benar habis, dia lupa terhadap syarat yang harus dia patuhi. Ketika dia melihat Khidir memperbaiki sebuah dinding rumah yang akan roboh, tetapi tidak meminta imbalan kepada yang empunya rumah. Di sana Nabi Musa bertanya heran, “Mengapa engkau tidak meminta imbalan, bukankah engkau sudah memperbaiki dinding yang hendak roboh itu?” Oleh karena sudah kali ketiga Nabi Musa melanggar syarat agar bisa sabar dan tidak banyak bertanya, perjalanan menuntut ilmu Nabi Musa kepada Khidir pun harus berakhir. Nabi musa harus pergi meninggalkanya. Tetapi sebelum mereka berdua berpisah, Khidir menjelaskan semua perkara yang membuat Nabi Musa tidak bisa sabar dan selalu bertanya. Baru lah dari sana Nabi Musa sadar, bahwa apa yang dilakukan Khidir bukan atas kehendaknya sendiri, melainkan sebuah perintah dari Allah Yang Maha Mengetahui hal yang tidak manusia ketahui, Dia yang selalu menyelipkan hikmah pada perkara yang kita sangka semuanya adalah keburukan dan kejahatan.

Bercermin dari kisah Nabi Musa dan Khidir, mari kita melihat keadaan kita di Sudan sekarang ini. Ibarat Khidir yang merupakan guru bagi Musa, kampus-kampus di Sudan selalau menyajikan keputusan dan kebijakan yang memancing emosi, menguji mental dan kesabaran mahasiswa. Kita selalu dibuat bingung dan bertanya-tanya, “Mengapa kok kampus begini, sekarang A besok sudah B.” Emosi begitu menyelimuti, energi-energi kesabaran terkuras habis untuk menerima kebijakan kampus yang membingungkan. Jika bukan karena niat yang sekuat baja dan amanat orang tua, keluarga, serta masyarakat, mungkin kita sudah hengkang dari Sudan mencari kampus yang lebih jelas dan kondusif untuk belajar.

Tetapi, mari kita tanamkan sejuta kesabaran, lautan keikhlasan, dan rasa syukur yang tak terukur. Sabar menerima keputusan yang membingungkan, ikhlas menjalaninya dan bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk belajar. Betapa banyak manusia yang mengidamkan posisi kita sekarang ini. Lalu tanamkan keyakinan, bahwa Tuhan Yang Maha Tahu sudah menyiapkan di penghujung perjalan ini hikmah-hikmah yang akan membuat kita nantinya terseyum bahagia tidak terkira. Hikmah yang akan menghilangkan segala pertanyaan dan penyesalan yang mungkin kita rasakan saat ini.

Sekarang mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing. Apa yang hendak kita lakukan untuk mengisi kekosongan ini? Apakah kita akan mengisinya dengan mengikuti kajian sebagai pengganti belajar di kampus? Atau menyibukkan diri bekhidmah untuk umat dengan organisasi? Atau mungkin berbisnis mencari penghidupan sendiri, agar orang tua tidak terbebani? Atau kau akan menghabiskannya hanya dengan MMT (makan, main, dan tidur)? Semua adalah pilihan, maka bijaklah dalam memilih, agar waktumu lebih bernilai, agar ceritamu di sini bukan hanya sekedar tidur dan makan.

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

*Mahasiswa International University of Africa

Tidak ada komentar