Terhangat

Kiat Sukses Menuntut Ilmu Para Ulama

Sumber: mujahiddakwah.com


Oleh: April Setiawan*

Sejak 2019 lalu kuantitas mahasiswa baru yang datang ke Sudan meningkat sangat signifikan. Tercatat lebih dari 285 mahasiswa baru angkatan 2019 yang terdaftar di PPI Sudan. Hal itu disambut baik oleh beberapa organisasi masyarakat cabang di Sudan yang bergerak dalam bidang dakwah salah satunya, PCI PERSIS Sudan (Pimpinan Cabang Istimewa Persatuan Islam di Sudan). 

Demi meningkatkan kualitas keilmuan para mahasiswa baru di Sudan maka PCI PERSIS Sudan mengadakan kegiatan daurah (belajar intensif). Kegiatan daurah ini diperuntukkan kepada anggota PCI PERSIS itu sendiri dan juga partisipannya. Rumah daurah ini diberi nama Markas Sibawaeh, yang mana nantinya rumah daurah ini akan fokus pada pengembangan dan penguasaan bahasa Arab. Kegiatan daurah direncanakan selama dua bulan dan dimulai sejak awal Maret 2021. Materi utama daurah ini adalah ilmu alat (bahasa Arab), adapun sebagai tambahannya; ilmu akidah, mawaris, dan kajian tematik.

Pada Jumat, 13 Maret 2021 Markas Sibawaeh¹ mengundang Ustaz Rahmatullah Fauzul ‘Azim untuk mengisi kajian tematik. Kajian yang dibawakan oleh salah satu mahasiswa IUA (International University of Africa) jurusan Tafsir Quran itu yang mengkaji kitab “Tadarruj Fi Thalabil Ilmi, Tahapan-Tahapan dalam Menuntut Ilmu².” Yang mana kitab ini berisikan kiat sukses para ulama terdahulu dalam menuntut ilmu. Kajian kitab ini sangatlah pas disampaikan oleh beliau mengingat beliau baru menyelesaikan kuliah strata satunya dan akan meninggalkan Sudan (safar nihai). 

“Kita belajar ilmu agama itu untuk mendapatkan rida Allah Swt,” tegas beliau mengawali kajian tematik tersebut. Beliau juga berpesan agar kita selalu menjaga tiga hal yaitu; menjaga hubungan kita dengan Allah, hubungan kita dengan para masyaikh (guru-guru), dan hubungan kita kepada sesama manusia.

“Saya mau kalian lebih rapi lagi dalam menuntut ilmu agama,” lanjutnya yang kemudian membacakan dan menyampaikan secara ringkas isi kitab Tadarruj Fii Tholibil Ilmi . Terjawablah sudah rahasia keberhasilan ulama terdahulu dalam menuntut ilmu yaitu; rapi dan bertahap dalam menuntut ilmu.

Setidaknya ada tujuh tahapan dalam mengawali menuntut ilmu yang dapat diterapkan dari isi kitab Tadarruj Fii Tholibil Ilmi. Pertama, mengokohkan akidah. Kedua, mempelajari adab. Ketiga, menguasai ilmu alat. Keempat, mengetahui jalan menuntut ilmu syar'i. Kelima, bertahap dalam menuntut ilmu. Keenam, menghafal. Ketujuh, menguasai dasar-dasar dari setiap cabang ilmu.

Mengokohkan Akidah 

Mengokohkan akidah merupakan tahap awal dalam menuntut ilmu. Benar adanya perkara iman sebelum ilmu, karena jika sudah kokoh keimanan seseorang, dia tidak akan mudah terbawa arus yang dapat melunturkannya dalam menuntut ilmu. Keimanan yang kokoh, diibaratkan seperti kokohnya pohon yang akarnya menghunjam ke tanah dan cabang-cabangnya menjulang ke langit. Akar pohon yang kuat takkan mudah tumbang oleh terpaan badai, begitupun para penuntut ilmu pasti akan diterpa berbagai cobaan, yang mana iman dapat menjadi akar yang kokoh untuk melewati cobaan yang datang. 

Mempelajari Adab

Langkah selanjutnya adalah mempelajari adab, karena adab harus terus membersamai kita dalam perjalanan menuntut ilmu dan juga adab bukan hanya sebatas teori tanpa praktik. 

Menguasai Ilmu Alat

Setelah belajar aqidah dan adab, langkah selanjutnya adalah dengan menguasai ilmu alat. Ilmu alat yang dimaksud di sini ialah bahasa Arab. Kitab-kitab yang yang akan kita pelajari harus dengan penguasaan bahasa Arab yang baik. Maka di awal menuntut ilmu syar'i kita harus menguasai ilmu alat seperti; nahwu, sharaf, imlak, ma'anil kalimat, dan balaghah. 

Mengetahui Jalan Menuntut Ilmu

Kita harus tahu ilmu-ilmu apa saja yang harus kita pelajari dalam menuntut ilmu syar'i, di antaranya adalah ilmu; Akidah, Bahasa Arab, Fikih, Hadis, Qur’an, dan Sirah Nabawiyyah, Adab, dan ilmu penting lainnya. Inilah ilmu-ilmu yang harus kita kuasai dasar-dasarnya, baru setelahnya kita ambil secara mendalam salah satu cabang ilmu saja. 

Kuatkan Hafalan

Kita harus kuatkan keilmuan yang sudah dimiliki dengan hafalan. Kita tahu bahwa ilmu itu di dalam dada, bukan di atas kertas. Sebagai pemula dalam menuntut ilmu, alangkah baiknya harus memulai menghafal. Kemudian hal yang pertama kali dihafal tentunya Al-qur’an, lalu dilanjut dengan matan-matan mukhtasar yang rincinya akan dijelaskan setelah ini di bagian tujuh.

Menguasai Dasar-Dasar dari Setiap Cabang Ilmu

Menguasai dasar-dasar dari setiap cabang ilmu syar’i ini menjadi tahap selanjutnya. Berikut  rincian dasar-dasar ilmu syar’i untuk pemula yang dapat dipelajari, yang penulis kutip dari Syeikh Fahd Al-Bahri dalam tabel yang pernah beliau buat untuk peserta Rumah Daurah Khandak:

1. Ilmu akidah, terbagi dua yaitu; akidah dan tauhid. Kitab Lamiyatu Syaikhul Islam dan Usul Tsalatsah dengan kajiannya yakni; syarah Laamiyah dan syarah Usul Tsalatsah menjadi list wajib bacaan bagi para penuntut ilmu syar’i cabang akidah ini.

2. Bahasa Arab yang meliputi nahwu dan sharaf. Menghafalkan matan Ajrumiyyah atau nahzam Ibnu Ubba Assyanqity dan menghafal wazan af'al dengan Kajiannya Tuhfah Tsaniyah dan Matnul Bina dapat menjadi list wajib bacaan bagi para penuntut ilmu syar’i cabang Bahasa Arab.

3. Ilmu fikih yang meliputi fikih syafi'i, qowa'idul fikih, dan usul fikih. Safinatun Najah, Laqowa'idu Lissa'diy, dan nazham Waraqat dapat menjadi referensi matan yang wajib dihafal dengan kajian syarah Safinatun Najah, syarah Qowa'id As-Sa'diy, dan syarah matan Waraqot Al-Fauzan.

4. Ilmu hadis yang meliputi riwayah dan dirayah. Menghafal Arba'in Ma'a Ziyadatu Ibn Rajab dan Al-Baiquniyyah dengan kajiannya syarah Arba'iin dan syarah Baiquniyyah menjadi list wajib hafalan bagi para penuntut ilmu syar’i cabang hadis.

5. Ilmu Qur’an yang meliputi tajwid dan ulumul qur’an. Penuntut ilmu yang fokus pada cabang ini dapat menghafal matan tuhfatul athfal dengan kajiannya syarah Tuhfatul Athfal dan usul at-tafsir libni 'utsaimin.

6. Sirah nabawiyyah, penuntut ilmu yang fokus pada cabang ini dapat menghafal matan Arjuzah Mi'iyyah dan kajian syarahnya.

7. Adab yang meliputi adab penuntut ilmu. Penuntut ilmu yang fokus pada cabang ini dapat menghafal matan Nashihatu At-Thullab dan kajian syarahnya Nasihatu At-Thullab Ta'zhimu Al-‘Ilm.

8. Ilmu mutanawwi'ah (ilmu lainnya) yang meliputi dakwah dan tazkiyah. Dapat dipelajari dalam kitab Al Wajiz Fii 'Ilmi Ad-Da'wah dan 'Asara Fii Tazkiyyati An-Nafsi Lil-Badri.


Delapan dasar ilmu syar’i di atas harus kita kuasai dengan mutqin. Ingat, ini baru untuk pemula (sangat dasar), jadi harus benar-benar kita kuasai betul. Insyaallah dalam kurun empat tahun kita akan tuntas menguasainya.

Berusaha semaksimal mungkin dalam menuntut ilmu di Sudan dengan waktu yang terbatas ini, bisa dilakukan dengan langkah sebagai berikut; mengosongkan waktu dari hal-hal yang dapat mengganggu belajar, fokus terhadap ilmu yang kita tekuni, tak lupa untuk terus memohon pertolongan Allah, dan yang tak kalah penting adalah harus ada murajaah (mengulang-ulang) ilmu yang sudah dipelajari. 

Itulah tadi beberapa tahapan dalam menuntut ilmu sebagaimana yang dilalui para ulama kita terdahulu. Semoga kita diberikan kesuksesan dalam menuntut ilmu ini dengan keridhaan Allah SWT.



Referensi:

Kitab Tadarruj Fii Thalabil Ilmi oleh Faras Ibn Khalil Masy'al

Minhaju Muqtarih Lil-Mubtadi’ Fii Daaril Khandak Oleh Syekh Fahd Al-Bahri Al- Yamani


*Mahasiswa International University of Africa

1 .Sekarang berganti nama menjadi Markaz Al-Ghuraba, dengan pertimbangan kedepannya bukan hanya terfokus pada ilmu alat saja (bahasa Arab).
2.Ditulis oleh Faras Ibn Khalil Masy'al

Tidak ada komentar