Terhangat

Asal Usul Stiker Kalimat Tayibah di Muwashalat

Sumber: reddit.com

 Oleh: Nur Wahid*

Sering kita lihat tempelan stiker kalimat tayibah pada mobil dan muwasholat, atau angkutan umum lainnya yang ada di Sudan. Mungkin sebagian kita bertanya-tanya,  mengapa hampir setiap kendaraan memiliki stiker tersebut, seolah menjadi bagian wajib yang tak terpisahkan dari sebuah kendaraan.

Sudan memiliki corak Islam yang sangat kental dengan standar pemahaman masyarakat akan Islam yang masih bagus. Daerah Afrika sangat masyhur akan keberadaan penyakit ain yaitu, penyakit yang dapat merusak sesuatu di sekelilingnya hanya dengan pandangan jahat yang mengakibatkan kerusakan barang, kehilangan atau menimbulkan penyakit pada tubuh yang dipandang.

Penyakit ini benar-benar ada dan bukan khurafat yang dihubungkan dengan pujian, bukan pujiannya yang membahayakan melainkan pandangan mata dari sang pemuji. Penyakit ini bukan penyakit medis, tetapi dapat menganggu kesehatan orang yang terkena penyakit ain ini. Bahkan dalam sebuah hadis dikatakan, “Pengaruh ain itu benar-benar ada, seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir ainlah yang dapat melakukannya.” (HR. Muslim)

Manusia pasti memiliki sifat-sifat seperti cinta, benci, kasih, amarah dan lainya, lalu meluapkannya kepada seseorang atau benda dengan pujian atau hinaan, tetapi hal ini akan berujung pada kemudaratan jika tidak disandarkan kepada Allah dan penyakit ini timbul dari penglihatan manusia yang memiliki sifat iri di hatinya. Ibn Hajar Al Asqalani dalam kitab fathul barri mengatakan, penyakit ini tumbuh dari rasa suka yang disertai hasad dalam hatinya. Atau bisa jadi pandangan dengan kekaguman berlebih terhadap apa yang dilihatnya tanpa ada rasa dengki yang bahkan timbul dari orang salih dan baik.

Salah satu cara agar menghindari penyebaran efek jahat penyakit ini adalah dengan mengucapkan lafaz Masya Allah atau kalimat tayibah lainya. Masyarakat Sudan mengaplikasikan ikhtiar ini dengan menempelkan stiker kalimat tayibah pada kendaraan mereka agar sekiranya orang akan membacanya setiap kali melihat kendaraannya, serta menghindari penyebaran pengaruh jahat akan penyakit ini. Hal ini juga merupakan alasan mengapa kebanyakan rumah masyarakat di Sudan yang seolah tertutup untuk dilihat dari luar, karena untuk menghindari pujian yang berlebih. 

Imam Al Qasthalani berkata, “Apabila seorang itu melihat sesuatu kepada orang lain dengan penuh kekaguman (tanpa dibarengi dzikirullah) maka bisa menjadi suatu bahaya kepada orang yang dipandangnya. Pandangan orang itu seperti panah beracun yang siap untuk menikam korbannya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kebanyakan orang yang mati dari umatku, setelah qadha Allah dan qadar-Nya, karena anfus.” Yakni, karena ain. (HR Bukhari)

Penyakit ain dapat merusak sesuatu yang dipandangnya, lalu bagaimana dengan zaman sekarang yang mana semua berlomba menampakkan kehidupan mereka kepada masyarakat umum di sosial media? Buya Yahya berpesan dalam suatu kajian untuk jangan terlalu takut dengan keberadaan penyakit ain, walaupun begitu halus penyakit ini, tetapi kita sebagai muslim harus selalu mempunyai tameng yaitu, budaya wirid pagi dan sore, serta budaya doa-doa yang selalu kita panjatkan sebelum tidur. Hal itu dirasa cukup bagi kita untuk menangkal kekuatan jahat dari penyakit ain. 

Diagnosa tentang penyakit ini hanya zanniy yang sama halnya diagnosa dokter akan penyakit pada umumnya. Mereka melihat berdasarkan ciri-ciri tertentu dan pengalaman lapangan, bila terdapat ciri yang mutawatir akan penyakit ain, maka pengobatannya adalah dengan rukiah dan pengobatan orang yang tertimpa efek ain adalah dengan mandi dengan air wudu dari orang pelempar penyakit ain tersebut.

Penyakit ini berawal dari ketidaksehatannya hati yang mana diri kita sendiri bisa merasakannya. Mari kita selalu menjaga hati, menjaga diri dengan wirid dan merasakan keikutsertaan kekuatan Allah dalam kehidupan ini. Semoga dengan ini menjadikan kita lebih mawas diri dan dapat meningkatkan kekuatan pegangan kita terhadap kekuatan Allah. Amin


Sumber: abubakar, jazuli. 2020. penyakitAin, https://hasana.id/penyakit-ain/diakses pada 1 mei 2021 pukul 11.30

*Mahasiswa International University of Africa

Tidak ada komentar