Terhangat

Kemajuan Semu

 

Sumber : Tribunnews.com

Oleh: Hasan Albanna* 

2021, berarti sudah 21 tahun dunia merasakan keadaan baru pasca memulai abad 21. “Abad Modern” kata orang-orang. Pada abad 21, semua hal menjadi lebih mudah dengan berkembangnya teknologi seiring bertambah majunya dunia industri. Bukan hanya teknologi yang mengalami perubahan ke arah yang lebih maju tapi juga pola pikir manusia semakin keluar dari kurungan kejumudan. Sepertinya, membahas kemodernan zaman lebih menarik jika menjadikan Indonesia sebagai objek perenungan. Bangsa yang memang sejak dahulu merupakan bangsa yang besar, memiliki segala kebutuhan duniawi melalui kekayaan alamnya, seni budaya yang begitu magis dan filosofis, dan banyak hal lain yang membuat bangsa lain iri, tiba-tiba mau tidak mau harus mengikuti perkembangan zaman, “dipaksa” memodernkan diri, tentu membuat bangsa ini gagap secara mendadak. Ketika menolak modernisasi, bangsa Indonesia akan mengalami kemunduran, sementara ketika terjun ke arus modern ala dunia luar, banyak hal, termasuk kekayaan yang dimiliki Indonesia akan terpinggirkan. Indonesia berhadapan dengan paradoks yang begitu rumit.

Dahulu, masyarakat Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai kebersamaan. Bapak-bapak di desa, sembari menyeruput kopi murah dan sebatang rokok, seringkali berkumpul untuk membicarakan banyak hal. Diawali dengan pembicaraan sepele, setingkat janda cantik kampung sebelah, hingga ke pembahasan serius mengenai rencana pembangunan desa, jadwal ronda malam, hingga merambat ke masalah negeri. Anak-anak yang dimarahi ibunya karena bermain hingga Magrib, juga contoh dari keindahan Indonesia sebelum bersentuhan dengan kemodernan. Bermain mainan tradisional, berenang di sungai, sepak bola di lahan kosong dengan tumpukan sandal sebagai gawang. 

Begitu pula dengan kaum Ibu. Setiap pagi, selalu ada “hot issue” yang wajib dikabarkan Ketika membeli sayur-mayur. Sembari memilih bayam, wortel, cabe, dan sayuran lain, mereka mulai membicarakan nasib keluarganya, hutang-piutangnya, kabar anak seorang ibu yang tidak ada di tempat akang penjual sayur pun jadi pembahasan.

Itulah gambaran Indonesia dari lingkup desa yang cukup menjelaskan harmonisnya kehidupan zaman dahulu. Ditambah pagelaran wayang yang diselenggarakan rutin, nampaknya sudah menjadi hiburan yang cukup pada masyarakat saat itu. Jangan lupakan pentas tari daerah yang diselenggarakan bukan dengan tujuan penghias acara seremonial, tapi memang sebagai kebutuhan kegembiraan masyarakat. Musik daerah pun sudah menjadi nutrisi sendiri bagi masyarakat. Alunan gamelan menentramkan malam yang panjang dibumbui sinden seorang biduan menambah kenikmatan malam hari. Di sore hari, anak-anak dengan riang gembira berangkat ke TPA untuk belajar membaca Al-Qur’an. Iya, ada yang gembira karena ingin bertemu teman-temanya, ada pula yang memasang wajah cemberut karena dipaksa kedua orang tuanya berangkat mengaji. Hingga Magrib menjelang, Sang muazin di musala selesai melantunkan azan, anak-anak berebut mik untuk berpujian dengan lantunan selawat khas desa.

Lalu datanglah zaman yang baru. “Modern” kata orang. Zaman di mana segala hal berbau tradisional adalah kemunduran, bahkan musyrik, kata beberapa orang Islam. Anak-anak masih bermain, tetapi di dunia mereka yang baru. Bukan lagi bermain layangan di lapangan, tetapi bermain game di gadget dengan seriusnya. Matanya melotot menatap gawai, tak mau diganggu. Musik dan kesenian asli nusantara terpinggirkan oleh gaya barat yang lebih “menarik”. 

Lantas, apakah kita memang harus menjauh sejauh-jauhnya dari kemodernan ini? Tentu saja tidak mungkin. Banyak hal yang harus diselamatkan sembari berlayar di lautan globalisasi. Paling tidak, masih ada nilai budi luhur, budaya, estetika, tata krama, dan tradisi sosial yang harus terus digenggam. 

Bagaimanapun, Tuhan Yang Maha Mempergulirkan Waktu punya rencana-Nya sendiri untuk manusia di bumi. Sebagai ciptaan-Nya, manusia perlu mentadaburi rencana-rencana Tuhan dengan bijak, meski tak bisa tepat 100%. Mengarungi arus modern membutuhkan kebijaksanaan yang mendalam, kebijaksanaan yang berlandas pada pengolahan ilmu dan keluasan hati. Niscaya semakin majunya zaman, manusia tidak akan terjerembap kedalam limbah modernisasi.

Kemajuan adalah kemajuan dalam mengambil keputusan. Modern adalah sikap di mana tak ada lagi kerusakan dalam menikmati alam. Sementara semakin ke sini, yang ditimbulkan oleh kemodernan adalah kerusakan. Moral manusia bobrok. Saling bertengkar. Kekayaan alam pun tergerus dengan sadisnya. Maka, sudah saatnya manusia mempelajari banyak hal, terutama kepada sejarah nenek moyangnya supaya dapat menemukan perbedaan, kebijaksanaan, dan ilmu karena mereka lebih berpengalaman merawat bumi ciptaan Tuhan Yang Maha Menciptakan. Bukan malah menafikan tradisi orang terdahulu dengan berdalih ajaran mereka tidak cukup relevan dengan zaman sekarang. Buktinya, modernisasi yang tersuguhkan tidak benar-benar menyelesaikan banyak persoalan zaman. Terlebih jika mengacu pada banyaknya sistem, pola pikir, dan juga ideologi yang muncul di era modern. Justru banyak ideologi modern yang memberikan kesuraman bertindak dan berfikir. Padahal cara pandang manusia zaman dahulu, nusantara khususnya,begitu mulia karena bersanding harmonis dengan Pencipta alam semesta. 

Terakhir, sepertinya memahami, merenungi dan introspeksi zaman adalah secuil harapan untuk bisa mengarungi zaman “edan” ini dengan bijak. Supaya kemajuan yang semu ini benar-benar disadari. Tentu dengan kebijaksanaan masing-masing manusia.

*Mahasiswa International University of Africa



Tidak ada komentar