Terhangat

3 Tingkatan Berpuasa Menurut Imam Al Ghazali

 

Sumber: harakah.id

Oleh: Lukman Al Khakim

Berpuasa adalah menahan diri dari makan dan minum mulai Subuh hingga Magrib. Namun benarkah makna puasa hanya sebatas itu? Lalu apa yang harus dilakukan ketika berpuasa? Dari sini kita akan menelaah lebih jauh tentang puasa yang ternyata menurut Imam Al Ghazali terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu; puasa umum, puasa khusus, dan puasa khusus di antara yang khusus yang dinamakan dengan صوم العموم، صوم الخصوص، وصوم خصوص الخصوص

1.    1.  Puasa Umum

Merupakan jenis puasa di tingkatan yang paling rendah, puasa ini mewajibkan atas kita untuk menahan diri dari nafsu makan dan hasrat seksual. Bahkan bisa dikatakan, hewan pun mampu berpuasa dengan puasa tingkat pertama ini.

2. Puasa Khusus

Merupakan jenis puasa yang memiliki tingakatan satu derajat lebih tinggi dibandingkan dengan puasa umum atau bisa disebut puasa ini adalah puasanya orang saleh. Puasa ini diwajibkan atas kita untuk menahan pendengaran, penglihatan, lidah, tangan, kaki, serta seluruh anggota badan dari melakukan sesuatu yang mendatangkan dosa serta menahan sesuatu yang telah disebutkan pada puasa umum.

3. Puasa Khusus di Antara yang Khusus

Merupakan puasa tingat tertinggi dan dilaksanakan oleh para nabi, shidiqin (orang-orang yang tulus) dan muqorrobin (orang-orang yang didekatkan dengan kehadirat Allah). Puasa ini merupakan puasanya hati dari sifat-sifat dan pikiran-pikiran duniawi dan memalingkan diri dari segala sesuatu selain Allah, serta menahan dari sesuatu yang telah disebutkan pada puasa umum dan khusus. Puasa pada tingkatan ini dianggap batal jika orang yang berpuasa memikirkan sesuatu selain Allah dan hari akhir, atau memikirkan tentang dunia, kecuali dimaksudkan untuk keperluan agama. Karena yang demikian itu merupakan bekal akhirat, bukan bagian dari dunia.

Bagi manusia biasa seperti kita, dapat mengusahakan menjalankan puasa tingkatan kedua yaitu puasa khusus yang merupakan puasanya orang saleh dengan menahan seluruh anggota tubuh dari perbuatan yang mendatangkan dosa dengan melakukan enam perkara berikut;

1. Menundukkan pandangan dan membatasi pandangan atas sesuatu yang tercela atau yang dibenci agama yang dapat menyibukkan hati dan lalai kepada Allah. Allah SWT berfirman:

قُلْ لِّـلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُـضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْ ۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا يَصْنَـعُوْنَ
"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandanganny, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS. An-Nur 24: Ayat 30)

    2Menjaga lisan dari ucapan yang sia-sia, dusta, gunjingan, fitnah, caci-maki, menyinggung perasaan, menimbulkan pertengkaran dan perdebatan berlarut-larut. Lebih baik diam dan menyibukkan diri dengan zikir dan membaca Al-Quran, atau yang demikian bisadisebut sebagai puasa lisan. Rasulullah SAW bersabda:
إنما الصوم جُنة فإذا كان أحدكم صائما فلا يرفث ولايجهل وان امرؤ قاتله أو شاتمه فليقل إني صائم، إني صائم. متفق عليه
 
“Sesungguhnya puasa adalah tabir penghalang (dari perbuatan dosa). Maka apabila seseorang dari kamu sedang berpuasa, janganlah dia mengucapkan sesuatu yang keji dan janganlah dia berbuat jahil. Dan seandainya ada orang lain yang mengajaknya berkelahi atau menunjukkan cercaan kepadanya, hendaklah dia berkata ‘aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa.”
 
  3. Menjaga pendengaran dari mendengar sesuatu yang dibenci agama, karena sesuatu yang haram diucapkan maka haram pula didengarkan. Oleh sebab itu Allah SWT menyamakan orang yang mendengar sesuatu yang haram dengan orang yang memakan harta haram. Allah SWT berfirman:
سَمّٰعُوْنَ لِلْكَذِبِ اَ كّٰلُوْنَ لِلسُّحْتِ
"Mereka sangat suka mendengar berita bohong, banyak memakan (makanan) yang haram..." (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 42)
 
  4Mencegah semua anggota badan yang lain dari perbuatan haram. Mencegah tangan melakukan perbuatan dosa dan mencegah kaki menuju sesuatu yang haram. Mencegah perut dari makanan yang syubhat (meragukan) ketika berbuka. Tidak ada artinya bagi orang yang menahan diri dari semua yang telah disebutkan di atas, sedangkan berbuka dengan makanan haram. Seperti orang yang membangun istana tapi dia menghancurkan kota.
Pada hakikatnya, makanan halal memberikan mudarat dengan jumlahnya yang banyak untuk dimakan. Maka puasa dimaksudkan untuk menguranginya. Sama halnya meninggalkan banyaknya obat karena takut bahaya yang timbul, lalu ketika dia menggantinya dengan racun maka patut dipertanyakan akalnya. Makanan haram adalah racun yang membinasakan agama, sedangkan makanan halal adalah obat yang bermanfaat jika sesuai kadarnya. Adapun puasa yang dimaksudkan adalah dengan mengurangi kadar makanan yang dimakan. Rasulullah SAW bersabda:
كم من صائم ليس له من صومه إلا الجوع والعطش. رواه أحمد
“Betapa banyak orang berpuasa tetapi tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya selain lapar dan haus.”
 
Ada yang menafsirkan maksud sabda beliau ini berkaitan dengan orang yang berbuka dengan makanan haram. Ada pula yang menafsirkan maksud sabda beliau ini berkaitan dengan orang yang berpuasa dari makanan halal tapi dia memakan daging manusia dengan melakukan gibah. Lalu ada pula yang menafsirkan maksud sabda beliau berkaitan dengan orang yang tidak menjaga dirinya dari perbuatan dosa.
 
   5. Tidak memperbanyak makan di waktu berbuka sehingga perutnya menjadi penuh. Jika kita telaah, bagaimana mungkin orang yang berpuasa dapat mengambil manfaat puasa yang berupa mengosongkan perut dan menekan hawa nafsu jika orang tersebut segera menggantinya dengan semua hal yang tidak didapatkannya ketika siang hari? Apalagi jika orang tersebut menambah jenis makanan dari yang sebelumnya tidak ada di bulan-bulan yang lain.
 
Sebagian dari adab berpuasa adalah hendaknya orang yang berpuasa tidak memperbanyak tidur di siang hari sehingga merasakan lapar, haus, dan lemahnya kekuatan kemudian jiwanya menjadi bersih. Lalu di malam harinya jangan banyak makan agar terasa ringan untuk bertahajud dan membaca wirid-wirid, maka dengan begitu, semoga setan tidak mendekatinya dan dia berhasil memandang kerajaan langit di malam lailatulqadar.
 

  6. Menjadikan hatinya setelah berbuka tergantung antara harap dan cemas, karena dia tidak mengetahui apakah puasanya diterima atau tidak sehingga termasuk golongan Muqorrobin (orang-orang yang didekatkan ke hadirat-Nya) atau puasanya ditolak sehingga termasuk golongan Mamqutin (orang-orang yang dibenci oleh-Nya). Seyogyanya perasaan seperti ini selalu ada dalam diri seorang muslim seusai beribadah.

 

Dari penjelasan tiga tingkatan puasa di atas, ada di tingkatan mana kah kita sekarang? Sudah pahamkah bagaimana seharusnya kita berpuasa? Atau apakah selama ini kita hanya menahan nafsu makan dan nafsu seksual saja?

Secara hukum fikih memang sudah memenuhi kewajiban, yang artinya puasa kita dihukumi sah. Para Fuqoha hanya menetapkan demikian karena mampu dikerjakan oleh semua orang, termasuk mereka yang lalai dan sangat tertarik terhadap kehidupan dunia. Nah, sekarang pertanyaannya adalah apakah kita sudah puas menjadi orang awam yang hanya menjalankan kewajiban saja, atau dengan maksud yang penting menggugurkan kewajiban? Kenapa tidak mencoba menjadi bagian dari orang saleh yang berusaha menyamai sifat malaikat dalam hal menahan diri dari segala hawa nafsu?

 

Sumber: Kitab Ihya’ Ulumud Diin karya Imam Al-Ghazali

Tidak ada komentar