Terhangat

SUKSES MENGHAFAL AL-QUR’AN WALAU BUKAN ALUMNI PESANTREN

ilustrasi, (Sumber: etahfizh.org)

(Penulis: Ustadz Liandi Prasettyadi, Mahasiswa S1 Science

& Technology University Mukalla, Yaman)

“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar : 17, 22, 32 dan 40). Tafsir dari ayat ini adalah, Kami jadikan Al-Qur’an itu mudah bacaan (lafaznya), dan Kami mudahkan pula pengertiannya bagi orang yang menginginkannya agar dia memberikan peringatan kepada manusia. 

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini yaitu mudah untuk dibaca. As-Saddi mengatakan, maknanya yaitu Kami mudahkan bacaannya bagi semua lisan (bahasa). Ad-Dahhak telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa seandainya Allah tidak memudahkan Al-Qur’an bagi lisan manusia, niscaya tiada seorang makhluk pun yang mampu berbicara dengan kalam Allah. Intinya, Baarakallahu fiina. Lalu, adakah orang yang mengambil pelajaran dan peringatan dari Al-Qur’an ini yang telah dimudahkan untuk dihafal dan dipahami maknanya? Adakah orang yang menimba ilmu darinya dan menjadikan Al-Qur’an sebagai penolong yang membimbingnya?

Ketika seseorang berniat belajar atau menuntut ilmu dan belum pernah belajar sebelumnya dari sebuah ilmu, maka dipastikan dia dalam keadaan nol. Kosong tanpa ilmu. Yang membedakan ialah proses belajar atau perjalanan untuk mulai bergerak menyeriusi sebuah ilmu. Yang perlu digarisbawahi ialah ilmu itu harus dijemput, didatangi, dijaga, diamalkan, kemudian disebarkan. Jadi ilmu bukan perkara faktor kaya atau cukup, tampan atau cantik serta faktor lainnya, namun sejatinya ilmu ialah faktor kesungguhan, kerja keras, upaya maksimal dan diliputi dengan doa.

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar : 9). Salah satu penjelasan dari ayat ini ialah apakah sama orang yang berilmu atau tidak? Apakah sama orang yang mengambil pelajaran sehingga dia menjadi mengetahui ataukah sebaliknya? Landasan berpikir seperti ini dahulu yang semestinya harus diubah sebagai paradigma (titik dasar) atau mindset dari kebanyakan konsep berpikir yang keliru. Karena konsep keliru itu sering terjadi bahwa yang bukan lulusan pondok, bukan lulusan agama, serta banyak bukan yang lainnya, dalam artian orang umum tidak lebih baik dari orang-orang pondok. Ini adalah sebuah titik fikir atau keyakinan dari kepribadian yang memiliki mental blok atau menutup diri. Tenang saja. Menuntut ilmu dalam ruang lingkup menghafal Al-Qur’an tidak butuh hal-hal yang ribet, titel, pangkat, usia dan lainnya. Hanya butuh kesungguhan.

Sebenarnya hal apa saja bagian terpenting ketika menghafal Al-Qur’an yang terkait keberhasilan bukan milik sebagian golongan melainkan milik semua insan? Kita selalu mengatakan istiqamah itu sulit, susah, menyerah. Akhirnya tertanam dibenak kita bahwa istiqamah itu sulit, susah dan mau tidak mau menjadi menyerah. Seharusnya istiqamah itu harus ditanamkan mudah. Agar mudah dilakukan termasuk menghafal Al-Qur’an. Ketahuilah bahwa hal yang paling sulit itu bukan istiqamah, tetapi tidak istiqamah. Berhasil istiqamah sepadan. Berhasil tidak istiqamah itu yang nihil.

Ada beberapa hal penting yang dilakukan selain istiqamah ketika ingin menghafal Al-Qur’an. Untuk mencapai hasil yang maksimal maka yang pertama diseriusi ialah tahsin atau perbaikan bacaan. Tidak masalah bila masih belum bagus. Terus dibarengi perbaikan ilmu tahsinnya sembari tahfizhnya jalan bersamaan. Yang terpenting tetap secure atau kokoh. Bukan insecure atau tidak kokoh bahkan minder. Kemudian hal berikutnya ialah psikologis. Penghafal Al-Qur’an itu kompleks dengan sifat baiknya. Apabila ada hal yang kurang baik dari penghafal Al-Qur’an, maka kurang pula berkahnya. Sebab sejatinya seorang penghafal Al-Qur’an bukan hanya menjaga hafalannya, namun juga menjaga akhlaknya.

Hal yang terpenting berikutnya ialah metode yang membantu. Banyak dijumpai di manapun menghafal Al-Qur’an hanya jalan sendiri saja atau dengan model coba-coba. Artinya tanpa metode teruji. Ini salah satu penghambat kelancaran atau penghambat proses percepatan menghafal Al-Qur’an bila belum lancar atau belum mutqin (dikuasai) dalam waktu yang terbilang cepat atau tepat waktu. Hal pamungkas selanjutnya ialah SOP (Standar Operasional Pribadi). Dalam hal ini banyak orang di luar pengawasan pondok, panitia atau penyelenggara yang dalam artian orang-orang umum, mau tidak mau harus membuat peraturan kedisiplinan sendiri. Tinggal mengatur waktu selama 24 jam. Mengurainya dalam waktu yang tepat. Berapa jam untuk bekerja atau belajar. Berapa jam untuk ishoma, tidur dan rangkaian rutinitas lainnya.

Seseorang dengan pengawasan pribadi harus bermental yakin dan percaya diri. Bukan bermental blok yang menutup diri dari kemungkinan-kemungkinan positif. Karena mereka sendiri yang mendongkrak kemajuan pada dirinya. Mereka pula yang menjatuhkannya. Sebab orang-orang yang kurang percaya pada dirinya sendiri, sesuai dengan kapasitas perkataannya dan semesta mengaminkannya selalu mengatakan, “Mana mungkin, apa bisa?, sudah tua!, susah murajaahnya!, daya ingat lemah!, mudah lupa!, bukan lulusan pondok!”, serta jutaan alasan lainnya yang mengubur hidup-hidup mimpi mereka menjadi seorang penghafal Al-Qur’an. Dalam dunia psikologi orang-orang tipe ini ialah mereka yang memperdayakan dirinya. Sementara orang-orang yang percaya pada dirinya sendiri, sesuai dengan kapasitas perkataannya dan tentunya semesta juga mengaminkan selalu mengatakan, “Biidznillahi Ta’aala pasti bisa. Insyaallah, Allah bantu atau Allah mudahkan.”

Inilah cerminan diri-diri orang yang memberdayakan. Mereka sesuai yang mereka fikirkan dan niatkan. Menghafal Al-Qur’an itu termasuk ibadah. Jangan karena merasa sulit, berat, lalu menyerah. Inti dari menghafal Al-Qur’an itu memperbanyak tilawah salah satunya. Semakin banyak tilawahnya, semakin mudah menghafal dan akrab dengan Al-Qur’an.

Syaikh Mahir Hasan Al-Munajjid Ad-Dimasyqi mengatakan, “Sebagaimana seseorang tidak akan memberikan rahasianya kepada orang yang baru dikenal, begitu juga dengan Al-Qur’an. Ia tidak akan memperlihatkan rahasianya kecuali kepada mereka yang sudah bersahabat lama dengannya. Rahasia Al-Qur’an tidak akan terputus dan keajaibannya tidak akan sirna.

Demikian yang tergambar dari proses menghafal Al-Qur’an. Berlaku bagi siapa saja. Proses menghafal Al-Qur’an memang benar-benar menuntut kebersamaan dan perhatian yang benar-benar banyak.

Resep suksesnya kemudian ialah jangan terlalu memikirkan kapan kita dapat menghafalkan Al-Qur’an dengan baik, namun fikirkanlah sampai kapan kita bisa terus bisa istiqamah bersama Al-Qur’an dan apabila cita-cita kita, impian dan harapan menjadi penghafal Al-Qur’an, maka harus berani memurajaahnya atau rutin mengulangnya seumur hidup.

 

Mukalla, Hadhramaut, Yaman.

Februari, 2021.

Tidak ada komentar